17

9.5K 1K 173

(A/N : Tanda (<<) sama italic yang banyak itu artinya flashback, ya. Selamat membaca! Wkwk.)

-

Andrew hanya dapat terdiam saat melihat mama menangis meminta jawaban darinya, "Tolong jawab, Drew. Jawab!" sentak Mama Andrew dengan air mata yang kian deras.

"Iya," final Andrew pelan, "aku gay. Dari dulu dan belum pernah lurus."

Mama Andrew menganga kaget mendengar penuturan anak lelakinya, "Jadi, kamu mau kejadian dulu terulang lagi, Andrew?" tanya Mama Andrew mendadak dingin dan memberikan tatapan kosong, tapi air matanya masih terus bercucuran.

Andrew membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan Mamanya, "Nggak, nggak! Jangan lagi!"

<<

"... Tinggalin dia!"

"Nggak! Aku nggak mau ninggalin dia, Ma!"

"Kalau gitu, biarin Mama yang maksa dia buat ninggalin kamu."

-

Andrew terlihat cemas. Beberapa kali dia terlihat mondar-mandir sambil menggenggam telepon pintarnya. Setiap beberapa menit sekali, Andrew menghubungi Axel, kekasihnya.

"Halo."

"Kamu kenapa sih ngehubungin aku terus!? Aku lagi di jalan, nih!"

"Kamu ... baik-baik aja 'kan, Xel?"

"Kamu udah nanyain itu ke aku lima menit yang lalu, Andrew."

"Sekarang masih baik, 'kan?"

"Iyaiya, kamu bawel ba--"

Ciiiiit!

Brak!

"Halo, halo! Axel kamu nggak pa-pa, 'kan?"

"Axel!"

"Axel jawab!" Bukannya jawaban dari Axel yang Andrew dengar. Dia justru mendengarkan suara orang berkasak-kusuk ramai.

"Panggil ambulans!"

"Periksa keadaannya!"

"Innalillahi wa innalillahi rojiun." Suara seorang laki-laki tiba-tiba mengucap pelan, namun masih sampai ke telinga Andrew. "Korban yang ini sudah meninggal, Pak. Denyut nadinya tidak ada."

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang