6

9.7K 1.2K 111

"Gar, udah nyampe, tuh!" Andrew berkata tanpa menoleh ke arah Edgar yang tertidur di kursi penumpang, tepat di sampingnya. Rencananya ia ingin menyuruh Edgar membukakan gerbang rumahnya karena tadi mereka memang berangkat ke mall menggunakan mobil Andrew.

"Gar." Sekali lagi Andrew mencoba membangunkan Edgar, namun tak ada sahutan sama sekali.

"Edgar!" Kali ini Andrew menolehkan kepalanya dengan dahi berkerut kesal. Namun, ia tak jadi marah saat melihat Edgar tertidur dengan napas yang terdengar berat dan juga wajah yang merah. Wajah Andrew mendadak terlihat cemas.

"Edgar!" Andrew mengguncang-guncangkan tubuh Edgar, tetapi tak ada respon sama sekali. Hanya dibalas oleh embusan napas Edgar yang berat dan panas. Lalu, Andrew pun menyentuh dahi Edgar dengan punggung tangannya.

Panas.

Gawat! Edgar demam!

Menyadari tubuh Edgar yang memiliki suhu di atas rata-rata pun membuat Andrew lantas panik dan segera membukakan pagar rumahnya, lalu segera masuk dengan membopong tubuh Edgar dengan gaya pengantin tanpa perlu repot-repot memasukkan mobil Edgar.

'Mobil urusan gampanglah. Yang penting Edgar dulu diselametin,' pikir Andrew.

"Ma! Mama!"

"Apa, sih? Kok teriak-teriak? Mama masih muda, masih bisa denger!" gerutu Mama Andrew yang ternyata berada di ruang keluarga yang tak jauh dari pintu masuk rumah mereka, kemudian berjalan menghampiri anak sulungnya yang dari tadi meneriaki namanya.

"Lho? Kok kamu bawa anak kecil ke sini? Anak siapa itu, Drew?" tanya Mama Andrew heran saat melihat Edgar yang berada di gendongan anaknya.

"Temennya Ara, Ma,"

"Hah? Kok temen Ara kamu gendong? Sakit?"

"Mama nanya terus! Ini si Edgar lagi sakit, nih! Enaknya diapain?"

"Dibawa ke lapangan futsal!" jawab Mama Kak Andrew kesal, "Ya dibawa ke kamarlah! Dia keringetan tapi menggigil gitu, keringet dingin itu. Cepet kompres dia!"

Andrew hanya mengangguk dan langsung membawa Edgar ke kamarnya yang terletak di lantai dua rumahnya diekori dengan mamanya yang sama terlihat cemasnya dengan dirinya. Sesampainya di kamar, Andrew langsung meletakkan Edgar di atas ranjang miliknya.

"Itu kamu gantiin dulu bajunya, basah gitu. Bentar, mama ambilin air kompresan dulu," pinta mamanya Andrew dan berjalan keluar dari kamar Andrew yang bernuansa abu-abu dominan.

Andrew memilih baju-baju yang ingin dipakaikannya ke Edgar nanti. Namun, sudah lima menit ia kebingungan memilih baju yang harus dia ambil. Daripada pusing, ia pun langsung membuka laci lemarinya yang berisikan baju-baju lamanya yang sudah tak pernah ia pakai. You knows-lah. Kekecilan.

Andrew mengembuskan napasnya lega saat sudah mendapatkan satu pasang baju dirinya saat masih SMP dulu. Ya, Edgar mungkin sudah SMA, namun badannya tak lebih besar daripada tubuh Andrew saat masih SMP dulu. Memikirkan itu membuat Andrew terkekeh pelan.

Tak membuang waktu, Andrew langsung melesat menghampiri Edgar yang sudah tergeletak tak berdaya di atas ranjangnya. Nah, sekarang masalahnya adalah ... gimana nih cara gue ngegantiin baju Edgar?! Pekik Kak Andrew dalam hati.

Lah, emangnya kenapa, Kak? Tinggal buka, gantiin, tamat. Kok pusing, sih? Itu kan udah cara yang paling normal.

Eh iya. Andrew kan udah nggak normal.

Eh?

Daripada Andrew memikirkan hal itu terus, Andrew pun segera menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran bodohnya.

Tinggal digantiin baju, 'kan? Apa susahnya coba?

Dengan cekatan, Andrew langsung membuka kaus yang melekat di tubuh Edgar.

Gluk!

Andrew menelan ludahnya gugup. P-putingnya-

HAH!? KOK PUTING!?

Sekali lagi Andrew menggelengkan kepalanya guna mengenyahkan pikiran kotornya.

-—putingnya kok bisa pink gitu ya? Jadi pengen nyoba ....

... hah!? N-nyoba?

Andrew menampar kedua pipinya keras. Sadar woy, sadar!

Daripada terus mikir dan takut berakhir khilaf, Andrew pun segera memakaikan kaus miliknya ke tubuh Edgar.

Celananya nggak usah kali, ya. Pikir Andrew lagi dan segera menghampiri mamanya yang masih memasak air di dapur.

"Udah tuh, Ma," lapor Andrew ke arah Mamanya.

"Celananya diganti juga, 'kan?"

"Hah? Celananya juga?"

"Ya, iyalah!"

Tanpa membalas ucapan Mamanya, Andrew langsung berjalan dengan segala kelinglungannya. Linglung karena celana.

-

Andrew kembali dilanda kebingungan.

Ini yakin nih harus dibuka? Andrew terus mengumpat di dalam hatinya.

"UDAH DIGANTI BELUM, NDREW?" teriak Mama Andrew dari lantai bawah rumahnya.

"Belum, Ma!"

"CEPETAN DIGANTIIN!"

Andrew langsung buru-buru menutup pintu kamarnya. Tolong, jangan mikir yang nggak-nggak—

—Yang iya-iya aja.

Eh.

Andrew perlahan membuka resleting celana Edgar dan menurunkan celananya.

Eh? Kok mungil gitu? Ternyata orang sama junior sama-sama kecilnya. Pikir Andrew lucu.

Lah? Kok gue malah kesenengan liat juniornya Edgar!?

Nah lho!






-Bersambung-

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang