Bonus Chapter (1)

7K 721 61

Warning!
Ini cerita lepas, enggak harus dibaca. Mau dilewat juga enggak apa. Fyi, BONUS kayak gini ENGGAK AKAN ngaruh sama CHAPTER selanjutnya.

Warning lagi!
Bukan untuk yang di bawah umur.

-

Edgar terpaku saat mendengar pertanyaan Andrew terhadapnya. "E-eh?"

"Ayo, kita selesaiin yang harus diselesaiin," tukas Andrew sambil berbisik tepat di samping telinga Edgar, menggodanya pelan.

Andrew melayangkan beberapa cara agar Edgar tak menolaknya. Setelah berbisik tadi, bibirnya mulai aktif menggigit kecil dan mengulum cuping telinga Edgar dengan sensual.

"G-geli," kata Edgar pelan. Bulu kuduknya meremang saat merasakan lidah Andrew yang memasuki daun telinganya, menimbulkan sensasi geli dan hangat secara bersamaan.

"Jadi," Andrew menggantungkan ucapannya, "mau dilanjut?"

"A-ah ...," Edgar merintih ketika telapak tangan kiri Andrew menelusuk ke celana training-nya. "J-jangan dipegang. Kotor ...," cegah Edgar saat jemari Andrew bergerilya, hendak memasuki celana dalamnya.

"Hm?" Andrew memejamkan matanya sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Edgar, mencumbunya dengan lembut. Sedangkan tangan Andrew menurunkan celana Edgar dengan cepat.

"K-Kak? Ma-malu--umph!" Belum sempat Edgar menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah terlebih dahulu dibungkam dengan bibir Andrew, yang sekarang tengah melumat bibirnya dengan tidak sabaran.

"Ugh!" Edgar melenguh sewaktu tangan Andrew meremas-remas kejantanannya yang masih dibalut dengan celana dalam biru dongker miliknya.

Bibir Andrew mengulum bibir atas dan bawah Edgar secara bergantian. Di saat Edgar sibuk mendesah, lidahnya segera melesak. Mengabsen deretan gigi Edgar. Edgar yang kaget justru hendak mengeluarkan lidah Andrew dari mulutnya dengan cara mendorong dengan lidahnya juga. Bukannya itu justru dianggap membalas perang lidah dari Andrew?

"Humph!" gumam Edgar, terpekik dalam ciuman mereka saat jari-jari Andrew masuk ke celananya dan mengelus kepala kejantanannya yang basah. Edgar menggelengkan kepalanya secara brutal. "L-lepas ...."

"Lepas?" tanya Andrew, "Lepas waktu kamu lagi kayak gini?" Andrew mendengus sambil tersenyum remeh.

"Lepas waktu kamu telanjang kayak ..." Andrew menyobek kaus Edgar secara paksa hingga terlepas dari tubuh Edgar seutuhnya, "... gini?"

"Lepas waktu kamu udah sebegini kerasnya?" tanya Andrew lagi. Entah kapan celana serta dalaman Edgar sudah lepas menutupi kejantanannya. Sekarang, tubuh Edgar sudah terekspos sepenuhnya di hadapan Andrew.

"K-Kak?" cicit Edgar menatap Andrew horor, "Kamu--woah!" Edgar memekik kaget saat tubuhnya dinaikkan ke punggung kokoh milik Andrew dan dibopong menuju kasurnya.

"Kak, tunggu—uh, jangan diisep ...." Edgar melenguh saat bibir Andrew menyerang lehernya yang terbuka lebar, tangan Andrew yang basah pun ikut menelusuri puting Edgar yang mengeras sama seperti bagian di selatan tubuhnya.

Wajah Andrew turun, menyusuri dari leher hingga dada Edgar dengan sensual. Mengecap dan mengecup tiap jengkal tubuh yang wajahnya lewati, membuat Edgar mendesahkan namanya berkali-kali.

-

"Kak?" Edgar bertanya dengan bingung saat Andrew tiba-tiba menghentikan aksinya yang telah setengah menyicipi bagian tubuh Edgar. "Kok berhenti?"

"Ada lubricant?"

"Ha? Lubricant itu apa?" tanya Edgar balik.

"Pelumas."

"Pelumas? Oh, oli? Buat apa?"

Allahu! Andrew sabar kok sama Edgar meskipun nafsunya udah di ujung tanduk gini. Ini kalo kelamaan, bisa-bisa burung Andrew lemes duluan karena kedinginan gondal-gandul tanpa diberi perlakuan khusus.

"Pelumas, Edgar. Bukan oli. Pelicin gitu lho, kayak body lotion atau apa gitu?"

"Oh, body lotion? Ada kok di mama, bentar, ya." Edgar berjalan hampir keluar kamar tanpa celana, dan dengan kausnya yang robek memanjang di bagian dada hingga perutnya.

"Edgar, kamu mau ke mana?!" pekik Andrew kaget saat Edgar memutar kunci kamarnya, hendak membuka pintu.

Edgar yang dihentikan niatnya mau keluar kamar justru menjawab dengan kebingungan, "Mau minta body lotion ke mama-lah!"

Andrew mengerutkan keningnya frustrasi. Melihat kepolosan Edgar, membuat Andrew berpikir dua kali untuk menyetubuhi Edgar. Nafsu Andrew seketika hilang, tytyd-nya pun ikutan tenang. Melihat tampang polos Edgar membuatnya gemas dan ia pun berkata, "Udahlah, Gar. Besok-besok aja deh kalo ada kesempatan lagi. Besok aku beli body lotion sekardus kalo bisa, biar kamu nggak perlu repot-repot minta ke mama kamu."

"Lho, terus aku nggak jadi ditusuk?" tanya Edgar kepada Andrew yang hanya dijawab dengan gelengan dan senyuman lelah. Iyalah, lelah. Energinya terkuras buat nyabarin diri sendiri karena kepolosan Edgar yang berlebih itu.

"Alhamdulillah," lirih Edgar sambil mengusap bokong telanjangnya yang tertutup kaus. "Hari ini kita selamat, pantatku," lanjutnya kepada dirinya sendiri.






—Bonus Chapter End—

Hey hey, jangan marah //plakk. Edgar masih di bawah umur ya ampun, nggak tega aku mau merawanin—merjakain dia juga ><

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang