26

8.1K 880 206

Edgar senang bukan kepalang saat akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang oleh Andrew--karena sebenarnya dokter sudah mengizinkannya pulang, tapi memang dasarnya Andrew saja yang lebay.

"Kak, nanti mau mampir ke supermarket dulu, ya!" pinta Edgar sambil memainkan ponselnya.

"Mau beli apa, Gar?" tanya Andrew, matanya fokus, tak berpaling dari jalanan yang berada di depannya.

"Beli Betadi*ne sama plester ben—" Tiba-tiba rem diinjak dengan kuat oleh Andrew, membuat Edgar nyaris terjungkal dari duduknya. Untung aja Edgar pake pengaman—maksudnya safety belt, bukan kondom. Enggak, enggak, enggak—sehingga dia masih stay di tempatnya duduk.

"KOK NGEREM MENDADAK SIH, KAK?" Edgar memekik kesal. Yaiyalah, Edgar kaget setelah rem dadakan yang dilakukan oleh Andrew tadi. Nyaris saja jantung Edgar pindah ke hati, terus hatinya jatuh ke cinta, terus jatuh cinta ke Andrew. Oke, ngawur.

"Kamu sakit?" tanya Andrew, matanya menelusuri tubuh Edgar yang terlihat ... seksi—enggak, maksudnya terlihat baik-baik saja. "Bagian mana yang sakit?"

"Enggak ada," sahut Edgar kalem. "Mama nyuruh beli buat persediaan P3K di rumah."

"Oh."

Hening.

"Nggak jalan, Kak?"

"Oh, iya." Andrew pun menjalankan mesin mobilnya kembali, tidak menghiraukan Edgar yang heran terhadap sikapnya.

Entah kenapa, sikap Andrew dari semalam itu aneh. Pikirannya sedari tadi pagi pun terasa linglung, seperti orang gagal fokus. Sebenarnya ada apa dengan Andrew?

-

"Kak, mau es krim." Edgar berkata dengan nada merajuknya, tapi Andrew tetap berpendirian teguh, tidak mau Edgar makan es krim terus.

"Enggak, Gar."

"Ayooo, es krim ...."

"Kamu seminggu ini udah makan puluhan es krim, Ya Tuhan. Kencan; makan es krim, gabut; makan es krim, sakit; makan es krim. Nanti kamu bisa batuk!"

"Ya, elah. Batuk doang."

"Kamu keselek aja kayak orang mau mati, apalagi batuk?" Pertanyaan retoris. Edgar paling benci diberi pertanyaan seperti itu, apalagi kalau ditambahkan nada sarkastis juga. Makin-makinlah Edgar gondok dibuatnya.

"Rasanya keselek kan kayak orang kecekek, bedalah sama batuk!" bantah Edgar. "Pokoknya aku mau es krim!"

"Enggak."

"Es krim!"

"Enggak, Edgar manis."

"Ngatain manis sekali lagi, aku cekek." ancam Edgar, sedangkan Andrew menahan tawanya. Cekek? Orang gak tegaan kayak Edgar mana bisa nyekek orang sampe mati? Pikir Andrew sambil senyum-senyum nista.

"Ngapain senyum-senyum?"

"Ya, suka-suka, dong!"

"Ya udah, aku mau beli es krim pokoknya."

"Eng—"

"Ngomong 'enggak' lagi, kita putus."

Buset, ini kenapa Edgar jadi kayak anak perawan yang baru pertama pacaran, sih? Ancamannya nyebelin. Asli.

"Oke, es krim." Andrew yang lemah akan kekuatan istri hanya bisa pasrah.

Dasar bucin.

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang