20

9K 1K 203

Saat ini Andrew sedang di depan gerbang rumah Edgar. Andrew bingung mau gimana manggil Edgar keluar dari rumahnya. Mau nelepon ... tapi Andrew tuh kalau denger suara Edgar pasti rada-rada speechless. Kalau kirim pesan di Line ... udah sih, tapi belum dibalas. Boro-boro dibales, dibaca aja enggak.

Akhirnya Andrew memutuskan untuk memencet bel rumah Edgar beberapa kali dengan menggebu karena dari tadi tidak ada yang membukakan pintu untuknya.

"Edgar! Edgar!" teriak Andrew dengan tidak tahu malunya. Andrew malah berteriak seperti anak SD yang mengajak temannya bermain layangan bersama.

Beberapa saat kemudian, Andrew masih bertahan memerkosa bel rumah Edgar dengan tidak sabaran. Tak kunjung mendapat respons, Andrew pun menyerah dan mau kembali ke mobilnya, tapi nggak jadi karena mendadak mobil mamanya Edgar berhenti di depan gerbang rumahnya.

"Lho? Andrew?" tanya Mama Edgar heran, "Ngapain di sini? Mau ngapel Edgar, yaaa?"

"Eh? Anu—"

"Ah, kamu ... bahasnya anu-anu mulu!" membahas ini membuat Andrew deja vu akan pertemuannya sama Edgar dulu. "Nggak sabar ya mau anu-in Edgar?"

Lah?

"Nggak, Tante—"

"Ih!" Mama Edgar memekik heboh, "Tante, tante ... memangnya kapan Mama nikah sama om kamu? Mama dong panggilnya biar dekat." Mama Edgar tersenyum genit. Ini Mama Edgar kenapa, sih? Perasaan kok beda banget sama anaknya yang ... if u know what i mean.

"Um," Andrew bergumam ragu ingin bertanya, "Mama ... Edgarnya ada, nggak?"

"Ada! Edgar lagi tidur di kamar kayaknya. Bangunin Edgarnya, Ndrew. Sana masuk duluan. Tau kan kamarnya?"

"Iya, Ma." Andrew menjawab sambil berjalan memasuki rumah Edgar setelah mendapat izin dari mamanya Edgar.

"Andrew! Tunggu!" Mama Edgar menghentikan langkah Andrew, "Kalo udah di kamar Edgar ... main yang aman, ya? Pelan-pelan, Edgar nggak tahan sakit soalnya."

"Hah?"

"... Lupain."

-

"Gar," Andrew mengguncang-guncang tubuh Edgar pelan. Andrew agak sebel juga sih sebenernya. Ya, gimana nggak kesel? Andrew udah rapi, wangi dan siap untuk dating resmi pertama mereka. Nah ini ... Edgar malah enak-enak tidur, nggak ada persiapan apa-apa, bajunya kusut, rambutnya berantakan—persis seperti orang yang baru dianuin—pokoknya Edgar belum ada persiapan sama sekali buat nge-date sama Andrew. Andrew merasa kalau hanya dia satu-satunya yang excited dalam acara ini.

Andrew mendekati wajah Edgar perlahan. Semakin dekat sehingga embusan napas Edgar tepat mengenai wajahnya. Mendekati bibir Edgar, Andrew langsung membelokkan wajahnya ke telinga Edgar, "Gar ... katanya mau jalan-jalan?" bisik Andrew pelan, tepat di telinga Edgar.

Edgar yang sedang di alam mimpi langsung membelalakkan matanya, "K-Kak Andrew?"

Andrew langsung mengubah wajahnya menjadi datar, menatap Edgar dengan tampang badmood-nya. "Udah bangun lo?"

"E-eh?"

"Nyenyak tidurnya?"

Edgar langsung berdiri dan berlari menuruni tempat tidurnya, menyambar handuk yang menggantung dan memasuki kamar mandi dengan kecepatan kilat. Tak lama, Edgar telah selesai dalam acara 'mandi bebek'-nya. Edgar keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, rambutnya basah—berantakan, tubuh bagian bawahnya dililit dengan handuk kecil.

"Lho!? KAKAK NGAPAIN MASIH DI SINI!?" Edgar menjerit keras, menutupi yupi pada dadanya. Namun kesalahan terjadi ... karena Edgar terburu-buru menutupi bagian atasnya ... bagian bawahnya jadi tidak ada penahan handuk.

Handuk Edgar melorot,

Edgar tidak memakai apa-apa di dalam handuknya.

Jadi ... tytyd Edgar menyapa dunia:)

Muehehehe.

"TUTUP MATA! JANGAN LIAT! KAK ANDREW!!!"

-

"Hehe." Mama Edgar cengengesan ngeliat dua orang anak laki-laki terlihat sedang malu-malu. Muka keduanya sama-sama memerah salah tingkah. Jadi ceritanya, tadi Mama Edgar langsung masuk ke kamar Edgar waktu ngedenger jeritan Edgar yang nyaring seperti hendak diperkosa Andrew.

"Kamu lebay ah, Gar! Nanti juga Andrew bakal liat properti kamu. Nggak usah malu-malu gitu, deh!"

"MAMA!" Edgar menyentak keras. Tidak terima diejek begitu.

"Udah, ah." Mama Edgar menyudahi. "Kalian jadi kencan, nggak?"

Edgar dan Andrew mengiyakan, lalu berjalan bersama keluar menaiki mobil dan pergi malam mingguan bareng-bareng.

-

"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Edgar sambil menatap Andrew yang sedang fokus menyetir.

"Ke mana enaknya?"

"Enaknya ke mana, ya?"

"Ya, enaknya ke mana?"

GITU AJA TERUS SAMPE RHOMA IRAMA DUET SAMA DAVID GUETTA!

"Ya udahlah." Edgar mengakhiri perdebatan mereka, "Ke taman bermain aja, yuk!"

"Lo umur berapa?"

"Enam belas," jawab Edgar seadanya, "kenapa emang, Kak?"

"Lo umur enam belas tahun, dan lo masih usul ke taman bermain?" Andrew tersenyum mengejek.

"Yaudah sih kalo nggak mau," Edgar diam namun memalingkan wajahnya ke pemandangan di luar jendela.

"Ngambek?"

"Gak."

"Yaelah, nggak usah ngambek kali."

"Bo—eh? Kok ke sini?"

"Katanya mau ke taman hiburan!" ujar Andrew sambil matanya meneliti parkiran yang penuh, mencari tempat yang kosong.

Setelah Andrew menemukan spot yang kosong, Andrew pun memarkirkan mobilnya. "Yuk, turun," ajak Andrew setelah menarik rem tangan dan memastikan mesin telah mati.

"Tapi ... katanya Kakak nggak mau?"

"Siapa bilang gue nggak mau? Ayo turun!"

Edgar pun turun bersama dengan Andrew, memasuki taman hiburan yang terlihat ramai.

"Mau naik apa dulu kita?" tanya Edgar antusias.

"Sabar, Gar. Kita baru nyampe. Beli tiketnya dulu."

"Oh iya, lupa."

Beberapa saat setelah selesai membeli tiket ....

"Kita mau naik apa, Kak?"

"Naik apa ya? Terserah kamu deh, Gar."

"Cie," Edgar meledek Andrew, "yang kamu-kamu omongannya. Haha."

"Diem lo, Culun!" sentak Andrew, Edgar seketika diam. Namun, Edgar kembali tersenyum saat melihat jajaran wahana yang melintasi matanya, Edgar pun berjalan senang. Meninggalkan Andrew yang terdiam dengan wajah yang memerah tomat sedari tadi.






Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang