16

8.5K 1K 306

"Kenapa diem, Gar?"

Edgar tergugu di tempat duduknya. Jujur saja, Edgar sangat kaget saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Ara. "Uh ... aku ... nggak tau."

"Kok nggak tau? Apa kamu udah nggak suka sama aku lagi?"

"Kamu tau dari mana kalau aku suka kamu?" Edgar berusaha mengalihkan pembicaraan sedikit demi sedikit. Jujur saja, topik tentang hati lagi sensitif-sensitifnya bagi Edgar.

"Aku nggak sebodoh itu kali, Gar, sampe nggak tau kamu suka sama aku."

'LO TAU DAN LO MALAH JADIAN SAMA DIA!! MAU NGOMPORIN GUE, LO?!' maki Edgar dalam hati. Tapi, yang keluar dari mulut cuma omongan sok cool. "Terus?"

"Ya, sekarang aku tanya, kamu masih suka sama aku, nggak?"

"Uh ...."

"Aku ngerasa aku ... suka sama kamu, Gar. Aku nggak ngerasa nyaman sama Reno senyaman aku sama kamu kayak gini."

'LAH, TAU GITU NGAPAIN LO MALAH JADIAN SAMA MANTAN LO WAKTU ITU!? KAN UDAH TELAT SEKARANG TUH! TELAAAATTTT!!' maki Edgar dalam hati lagi. Kesel Edgar tuh, kesel. Udah mumet sama perasaannya, sekarang harus tambah dimumetin sama perasaan Ara ke dia yang 'katanya' ngerasa lebih nyaman sama dia ketimbang sama mantannya.

"Aku mau kita jadian, Gar."

'MATIKKKKK, MATI AJA MATI. AKUTU PUSING, JANGAN MINTA JADI PACAR GUE YA AMPUN. GUE UDAH BELOK SEKARANG!!'

"Oke," jawab Edgar pelan, kalem. Nggak sesuai sama makian dan deretan sumpah serapah dari hatinya.

Brak!

"Enggak! Nggak bisa!" sentak lelaki bertubuh tinggi yang tiba-tiba datang tanpa disadari oleh Edgar dan Ara, menggebrak meja makan keduanya dan menolak dengan keras ucapan Edgar barusan. "Kamu apa-apaan sih, Ra? Udah nyakitin Edgar, sekarang malah minta jadian sama Edgar! Kamu egois tau, nggak!?" bentak Andrew pada Ara yang belum bisa menghilangkan tatapan terkejutnya saat melihat Andrew. Demikian juga dengan Edgar yang sama bingungnya dengan Ara.

"Lo juga! Ngapain mau-mau aja sama Ara? Jelas-jelas Ara udah pernah nyakitin elo dengan balikan sama mantannya. Mending juga sama gue!"

"E-eh?"

"M-maksud gue, mending sama yang lain! Yang nggak nyakitin elo dengan jadian sama mantannya padahal dia tau kalo lo suka sama dia!" Telak, Andrew memaki dengan sangat pas. Ngena.

" .... "

"K-kenapa kalian diem aja? Ngomong!"

"N-ngomong apa?"

"Diem lu, Culun!"

Lah? Edgar salah apa!? Serba salah jadi Edgar tuh, diem salah, pas ngomong apalagi. Ceburin aja Edgar ke rawa-rawa biar bener.

"Kakak apa-apaan, sih? Emangnya kenapa kalo aku jadian sama Edgar? Toh, Edgarnya juga mau ini!"

"Dia nggak mau, kok!"

"Tapi, tadi dia bilang 'oke'!"

"Tapi, kan belum tentu 'oke' tanda setuju!"

"Tapi dia suka aku!"

"Kamu tau dari mana dia suka kamu?"

"Tanya aja Edgar-nya sendiri!"

"E-eh?" Edgar mendadak salting di liatin sepasang kakak-beradik yang tadinya berdebat hebat, sekarang malah berpaling ke arah Edgar.

"Jadi, lo suka siapa?" tanya Andrew tanpa banyak basa-basi, langsung ke pokok masalah, lari ke inti.

"Aku suka ...."

"Siapa?" desak Ara enggak sabaran.

"Aku suka ...." duh, biasanya kalo kepepet gini suka mendadak dipanggil Bu Anfila. Kenapa sih sekarang desaknya nggak di sekolah aja? batin Edgar ngaco. "Uhh ...."

"Aku—"

"Ya?"

"—suka ...."

"Siapa sih? Elah, lama bener!"

"Aku ..." Lagi-lagi Edgar menggantungkan ucapannya, "... kebelet pipis!!"

"Mati aja lo, anjir!" Bukan, ini bukan Andrew yang ngomong. Ya, walaupun bahasanya sama, tapi tetap saja sekarang yang ngomong ini adalah Ara. Astagfirullah, ketauan busuknya Ara. Edgar nggak nyangka, sampai kaget Edgar ngedengernya.

"Nggak! Lo nggak boleh ke mana-mana! Terakhir kali lo bilang mau pipis itu pas gue nembak lo dan lo ngilang, nggak balik lagi!"

"Eh? Kakak udah nembak Edgar?!" tanya Ara histeris. Matanya membulat sempurna, mulutnya pun menganga tak percaya.

Andrew memalingkan wajahnya, seolah tak peduli dengan kekagetan Ara. "Jadi, Gar. Siapa yang lo pilih?"

Duh, dikasih pilihan kayak gini, Edgar malah keingetan iklan obat batuk yang dulu terkenal dengan pilihan, "Kamu pilih dia atau aku?". Seandainya di sini seperti iklan, mungkin Edgar akan bilang, "Aku pilih ... Konidin, Bu." NGACO!

"Iya, siapa yang sebenernya lo suka, Gar?"

"Uh ...."

"Jawab aja, Gar."

"Aku suka—" Oke, Edgar akan memantapkan hatinya. Sebisa mungkin Edgar tetapkan hatinya untuk siapapun yang ia sebut namanya, "Ara ...."

Seketika hati Andrew mencelos. Pupus sudah harapannya. Jika itu pilihan Edgar, Andrew bisa apa? Toh, mau nikung juga nggak mungkin karena saingannya adalah adiknya sendiri. Sepet hati Andrew.

Kacau.

-

Sudah beberapa hari ini terjadi perang dingin di rumah Ara dan Andrew. Bukan, bukan perang yang berdarah-darah apalagi perang yang penuh dengan makian. Enggak. Mereka malah lagi perang diem-dieman, bibir mengerucut dan dahi mengkerut dalam tiap kali berpapasan. Mama mereka sampai gedek-gedek dibuatnya.

"Kalian kenapa, sih?"

"Nggak," jawab keduanya serempak plus dengan nada datar mereka yang sangat acuh saat diberikan pertanyaan seperti itu.

"Durhaka ya kalian, Mama sendiri dijudesin!" omel Mama Andrew dan Ara, "Sekarang cerita, kenapa kalian mendadak jadi musuhan nggak jelas kayak gini?"

Hati Ara dan Andrew bimbang ingin cerita. Pengen cerita, tapi kok ya aneh kalau cewek sama cowok rebutan pacar.

"Nggak ada yang mau cerita, nih?"

"Itu ... akusamakakakrebutancowokdankitaberduaditolak."

"Hah?" Mama kebingungan mendengar jawaban Ara yang pelan dan tanpa jeda itu.

"Kita ditolak orang yang sama intinya."

"Hah?" lagi-lagi Mama kebingungan. "Ara lesbi?"

"Eh?" Keduanya serempak mendongak kaget mendengar dugaan Mamanya.

"—Atau jangan-jangan kamu balik homo lagi, Drew?"

Keduanya diam. Menundukkan kepala saat Mama memberikan dugaan kedua.

"Jawab, Drew. Kamu kembali jadi gay?"

Hening. Andrew semakin menundukkan kepalanya. Dalam hati dia mengumpat, meminta Tuhan menguburkan dirinya dalam-dalam sekarang juga.






Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang