Bonus Chapter (2)

5.6K 599 224

Beberapa tahun kemudian ....

"Adnan, bantuin gue buat dapetin kerjaan, kek." Edgar berkata sambil memanyunkan bibirnya sok imut. Eh, emang udah imut ding.

"Ya elah, Gar. Fokus aja kali sama kuliah lo. Bentar lagi kelar 'kan? Kalo entar lo kerja, ntar skripsi lo keteteran," ujar Adnan.

Adnan ini salah satu temen Edgar dari jaman masih pake popok, sampe sekarang udah pake kondom. Eeeee, astagfirullah. Nggak boleh ngomong gitu, tadi keceplosan. Edgar masih Edgar yang polos nan unyu kok, cuma sekarang tu dia udah tua, udah nggak cimit-cimit lagi dong.

"Ya, justru karena gue udah mau lulus, Adnaaaaan. Kan gue mau nyari kerja biar pas lulus enggak nganggur aja, diem di rumah kek ibu rumah tangga."

"Lah," Adnan menatap Edgar heran, "lo kan emang emak-emak rempong!"

"Dih, apa banget deh!" Edgar tak terima dan melotot kesel. Ya iyalah, punya temen kok kayak minta dituker sama beras gini. "Seriusan iniiiii, skripsi gue udah kelar. Wisuda gue juga sebulan lagi ini."

Adnan terkekeh pelan ngeliat tampangnya Edgar yang cemberut-cemberut lucu kayak gitu. "Iya, iya. Gue ada nih kerjaan buat lo. Cocok banget dah!"

Edgar yang tadinya pasang muka suram pun langsung berbinar, matanya langsung bersinar antusias, "Kerjaan apa? Apa, Nan? Apa?!"

"Gigolo."

Asem.

-

Edgar saat ini memastikan penampilannya yang memakai setelan kerja yang sangat formal. Mama Edgar sampe kagum karena akhirnya anaknya bisa ganteng juga setelah bertahun-tahun unyu mulu. Huhuhu.

Mama pun mengabadikan hari pertama Edgar kerja—bukan sebagai gigolo yang ditawarkan Adnan—dengan memotret Edgar dari berbagai sisi. "Eh, Gar! Itu tas kerjanya naikin dong biar ala-ala eksmud gitu!" pinta mama.

"Ih, Mama! Kameranya kedeketan," protes Edgar sambil mengerutkan wajahnya kesel.

"Bagus, kok! Udah sini, percaya sama Mama! Yak, satu ... dua ... tiiii—ya, bagus!" Mama Edgar yang jadi fotografer dadakan udah ngatur-ngatur posisi Edgar. Dan ya, Edgar mah cuma bisa manut aja.

Tapi, dasarnya aja mama Edgar tuh fotografer amatiran, jadinya gambar keren anaknya malah jadi kayak ibu-ibu sosialita pamer tas Louis Vuitton mereka. Kayak gini nih ....

Edgar mah cuma bisa istigfar dalam hati liat fotonya yang nggak ada wibawa-wibawanya kayak eksmud (eksekutif muda) yang mamanya bilangin tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Edgar mah cuma bisa istigfar dalam hati liat fotonya yang nggak ada wibawa-wibawanya kayak eksmud (eksekutif muda) yang mamanya bilangin tadi.

"Udah, ah. Aku mau berangkat aja, ntar telat." Edgar menginterupsi kegiatan mari-berfoto-di-hari-pertama-kerja mamanya.

"Ini beneran kerja, Gar?"

Edgar menatap mamanya aneh. Ya iyalah, Edgar kerja. Masa main bola? Ya kali main bola pake setelan formal. "Iyalah, Ma. Apa lagi?"

"Masa kamu cuma kirim surat lamaran sama CV doang udah diterima? Harusnya kan wawancara dulu!"

"Lah, ngapain diwawancara? Aku kan udah cocok kerja di perusahaan itu! Aku kan pinter, jelas aja langsung diterima." Edgar mah emang gitu orangnya, suka pamer biar disangka sombong.

"Tapi, ini perusahaan kamu ... beneran asli 'kan? Bukan penipuan? Ini beneran EA Corp. Itu 'kan?"

"Iya, Mamaaaa~" Edgar menjawab mamanya dengan nada malas yang panjang. Bingung Edgar tuh, dari kemarin mamanya nanya mulu kayak wartawan. Bikin Edgar gagal paham aja. "Udahlah, aku berangkat kerja dulu ya, Ma. Dadaaah~"

 Dadaaah~"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-

"Jadi, kamu Edgar? Pegawai departemen dua yang baru?" tanya laki-laki di balik kursi putar itu.

Edgar merutuki bosnya yang saat ini berada di depannya dengan posisi munggungin Edgar. Heran Edgar tuh, dia tau kalo dia anak baru. Tapi, ya jangan diginiin juga dong. Ini kan enggak sopan namanya. Namun, ya, namanya juga Edgar. Dia mah cuma diem mulu walaupun udah banyak ngedumel dalam hati. "Iya, Pak."

"Terus?"

"Lah? Terus apa, Pak?" Kan, mulai kan lemotnya Edgar. Emang mendarah daging banget sih sama Edgar.

"Kamu nggak mau posisi yang lebih tinggi?"

Edgar menatap kursi di depannya bingung, ia mengernyitkan dahinya, berusaha berpikir keras. "Maksudnya, Pak?"

"Kamu nggak tertarik jadi manager departemen kamu gitu? Atau ... mau jadi bos besar? CEO di sini?"

Lah, ini si bapak ngigo kayaknya. Candaannya bukannya lucu malah makin ngebingungin Edgar. Tapi, ujungnya Edgar cuma tertawa pelan biar dianggap ngerti sama jokes-nya. "Ah, Bapak bisa aja!"

"Saya serius." Kalimat itu terdengar datar, terdengar sangat serius. Edgar mendadak mingkem, bingung mau jawab apa.

"T-tapi ... saya aja belum kerja di sini, Pak. Kok udah dipercaya jadi manager aja?" tanya Edgar.

"Bener juga," respons bosnya itu. "Kalo gitu, saya ada penawaran lain buat kamu."

Edgar memajukan dirinya sampai dadanya terkena meja kaca mengkilap di depannya. Ia memberikan pandangan kepo, menunggu lontaran kata yang akan keluar dari mulut bosnya. "Tawaran apa, Pak?"

"Kamu jadi ...," Si bos itu pun memutar kursinya ke arah Edgar, Edgar yang melihat itu malah jadi berharap-harap cemas, "istri CEO ini, gimana?"

Edgar melotot kaget sampe kacamatanya ikutan melorot melihat laki-laki di depannya ini. Dia ....

"K-Kak Andrew?!"

"K-Kak Andrew?!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.






Tamat—

KAGET GA? KAGET GA? MUEHEHEHEHEHEHEHEHE.

Ini chapter spesial buat kalian yang nda terima sama endingnya, yaaa selanjutnya kita haluin masing-masing aja the real ending-nya kek gimana:v

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang