25

9.7K 984 216

"Nggak mau dirawat inap!" rengek Edgar. Edgar tuh bete banget sama Andrew yang maksa-maksa dia buat rawat inap di rumah sakit. Padahal Edgar tuh nggak ada yang lecet, cuma pantat doang linu dikit gara-gara jatuh nyium aspal tadi.

"Pantat kamu masih sakit, Edgar!"

"Nanti bisa dipijet sama tukang--"

"Terus kamu mau gitu pantat kamu dielus sama orang lain?"

"Bukan gitu--"

"Mending juga aku yang mijetin kamu," ucap Andrew ngawur. Udah motong ucapan Edgar, omongannya ngelindur lagi. "Sini!"

"NGGAK MAU!"

"Ish!" Andrew mendesis greget, "Kamu mau pantatnya dipegang-pegang orang lain, dan kamu malah nggak mau dipijetin sama aku? Kenapa sih? Apa grepe-an aku nggak enak?"

"Ih! Ini tuh bukan masalah grepe-grepean atau enak enggaknya! Tapi ...." Edgar menggantungkan ucapannya, "tapi kan ini masalahnya demi keselamatan aku juga! Nanti bukannya pantat aku sembuh, yang ada malah makin nyeri kalo sama Kakak!"

"Nyeri kenapa, sih?"

"Ya iyalah nyeri! Kalo sama Kak Andrew, pasti ujungnya nganu! Tadi aja ciuman udah nyaris gituan!" Edgar menyemprot Andrew kesal. Sedangkan Andrew yang jadi korban hanya bisa melongo kebingungan. Andrew tak menyangka bahwa pikiran Edgar jauh lebih mesum darinya. Pasalnya, tadi Andrew tuh bener-bener niat mijetin badan Edgar, nggak ada maksud lain buat tusuk-tusukan seperti yang Edgar pikirin.

Bah, lihat siapa yang mesum sekarang!

"Siapa juga yang mau nusuk kamu! Kamu tuh GR banget, sih! Aku juga mikir kali, kalo pantat kamu sakit. Ya kali aku masukin anu aku ke pantat kamu sek--"

"UDAAAAAH!" Edgar memekik panik menghentikan perdebatan vulgar mereka. Edgar takut kalau ada yang ngedengerin ucapan-ucapan tidak senonoh ini. Cukup tadi siang saja Edgar sama Andrew kepergok berbuat mesum di kamar inapnya, jangan sampai perdebatan tidak berfaedah ini ikut dipergoki juga.

"Jadi gimana? Mau dipijet sama siapa? Kamu yakin mau pantat kamu dipegang-pegang sama yang lain? Terus kalau misalnya orang itu khilaf dan jadinya malah ngasih pelecehan seksual sama kamu gimana? Mending kalo aku yang gituin kamu, aku kan mukhrim ka--"

"INI KENAPA OBROLAN KITA SELALU MERUJUK KE HAL YANG MESUM, SIH!?" jerit Edgar lantang. Kesel Edgar tuh sama segala keparnoan Andrew yang selalu mengaitkan obrolan ini dengan hal-hal mesum. "Aku dipijet sama mama aja!"

"Tapi mama kamu kan di luar kota katanya."

"SAMA MAMA!" Edgar kekeh buat sama mamanya, soalnya tuh Edgar tau alasan luar kota itu ya benar-benar sekadar alasan doang.

Orang tadi mamanya di rumah kok nonton drama Korea kesukaannya dan enggak bisa diganggu sama sekali meskipun tahu Edgar-nya kecelakaan. Allahu, Edgar sabar kok diginiin, mah.

"... O-oke."

-

"M-ma ...," panggil Andrew ke arah mama Edgar yang bersiap membuka celana Edgar. Edgar saat ini tengah bertelungkup menghadap sofa rumah sakit, pinggulnya tepat di pangkuan mamanya untuk diurut. "Andrew keluar aja, ya ... k-kayaknya Edgar malu kalau--"

"Eh! Enak aja!" Mama Edgar memotong ucapan Andrew yang terlihat gugup itu, "Kamu tuh harus ngeliat caranya ngurut yang bener, Ndrew. Biar nanti kalau Edgar sakit pantat kayak gini bisa kamu pijetin sendiri. Ya ... minimal kalau kamu main terlalu kasar, kamu bisalah mijetin Edgar sendiri."

"APA SIH, MA!?" pekik Edgar sewot, dalam hati Edgar mengumpati orang-orang di sekitarnya ini. Nggak mama, nggak Kak Andrew, sama aja mesumnya.

Andrew yang mendengar ucapan mamanya Edgar hanya tersenyum kikuk. Lebih kikuk lagi saat Mama Edgar membuka celana Edgar dan menampilkan pantat mulus Edgar yang terlihat ... empuk.

Andrew menelan ludahnya gugup, apa lagi saat Mama Edgar menyentuh dan meremas--memijat pantat Edgar. Terlihat begitu sensual dan menggiurkan. Ah, Andrew kenapa jadi mupeng gini buat megang pantat Edgar!?

"Uh, Ma ... Andrew mau ngambil HP dulu. K-ketinggalan di mobil!"

Mama mengembuskan napasnya pelan, "Ndrew ... itu yang di tangan kamu namanya apa kalau bukan HP?"

Bodoh nian kamu, Ndrew. Saking gugupnya ngeliat pantat Edgar yang terekspos sambil diremas-remas, pijat-pijat manja dan diurut-urut gemas gitu ngebuat Andrew yang pinter, galak, nan judes jadi kayak orang bloon gini.

"Hehe ...." Andrew cengengesan canggung. Akhirnya Andrew mengalah dan memilih diam tak jadi ke mana-mana. Andrew mencari objek lain biar anu-nya nggak jadi tegak. Pokoknya Andrew harus nyari objek lain, nggak boleh lihat ke pusat perhatian sebelumnya (read : pantat Edgar). Andrew langsung memusatkan perhatiannya ke arah wajah Edgar yang tertidur, keenakan dipijat. Wajah Edgar memerah, bibirnya terbuka sedikit. Ah ... melihat bibir itu mengingatkan Andrew akan ciuman panas mereka tadi siang. Andrew jadi mau lagi ....

Lah!

Andrew menggelengkan kepalanya keras, berusaha menghilangkan pikiran kotor yang selalu menghinggapi otaknya saat bersama Edgar.

"Nah, selesai!" ujar Mama Edgar seraya menaikkan kembali celana Edgar sehingga pantat Edgar yang sedari tadi menjadi neraka bagi Andrew pun tertutup. Andrew diam-diam menghela napas lega. "Udah beres. Jadi, sekarang Mama masih dibutuhin apa enggak?"

"Eh?"

Mama mengangkat pinggul Edgar pelan, kemudian berhati-hati untuk berdiri agar Edgar tidak terbangun. "Kalau enggak, Mama mau pulang dulu. Kamu jagain Edgar, ya!" ujar Mama sambil menenteng tas kecilnya dan keluar dari ruangan ini. Tak lupa sebelum pergi, Mama Edgar mengelus kepala Andrew dengan sayang dan berpesan agar Andrew tidak melupakan makannya.

Melihat bentuk perhatian Mama Edgar membuat Andrew merindukan mamanya yang hangat ... ah, sudah berapa lama mereka selalu berperang dingin di rumah? Bahkan tadi pagi Andrew tak sengaja membentak mamanya. Ternyata, Andrew masihlah Andrew kecil yang selalu rindu akan manjaan dari mamanya.

-

Andrew terbangun saat merasakan usapan pelan pada rambutnya. Ah, Andrew merasa sangat nyaman dengan elusan lembut ini, suara pelan memanggil namanya pun semakin membuatnya terlena. Andrew semakin menyamankan posisi tidurnya yang terduduk di samping ranjang rumah sakit yang ditempati Edgar.

Elusan itu berubah menjadi jambakan saat Andrew tak kunjung bangun. Dengan wajah kuyu khas bangun tidur dan mata memerah, Andrew terbangun dengan kaget. "E-eh ... kamu udah bangun, Gar?"

"Laper ...," ucap Edgar dengan suara serak dan wajah memerah--yang so sexy ini langsung membuat wajah Andrew segar kembali. Apalagi dengan anu-nya yang ikut segar nan bersemangat juga.

"M-mau makan apa?"

"Mau ayamnya kedai Supremar itu, lho," pinta Edgar manja.

"A-ayam sperma?"

"SUPREMAR! KOK SPERMA SIH!? DASAR MESUM!"






--Bersambung--

ALLAHU, HAPPY 100K READS! SINI TAK CIUM SATU-SATU, EHEEEEEE. 😚😚😚

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang