11

10K 1.1K 131

Dan selama setengah jam menunggu, montir tak kunjung datang, Edgar terpaksa mendorong motor keramatnya bareng Andrew karena tadi Andrew ke sini naik taksi. Edgar rasanya pengen nyeburin dirinya sendiri ke air anget, biar enak katanya. Kalo air panas takutnya melepuh. Halah!

Kenapa dia pengen nyeburin dirinya sendiri ke air pan—anget? Ya, karena sekarang dia ada di posisi tercanggung.

Ya, nggak tercanggung juga, sih. Dia emang selalu canggung kalo berhubungan sama Andrew. Nggak tau kenapa, heran Edgar.

Pokoknya Edgar kaku, nervous, nggak kuat jiwa pokoknya.

"Lo kenapa? Kok diem aja?" tanya Andrew mengernyitkan dahinya bingung. Ya, Edgar kan biasanya berisik, apalagi kalo dipancing-pancing. Tapi, dari tadi Andrew ngomong, malah kayak dikacangin gitu, dijawab juga sekenanya.

Andrew nggak like, ah.

"Sariawan," jawab Edgar pelan, datar, garing.

"Oh." Andrew sok-sokan percaya. Padahal dalam hati, dia ngebatin kalo Edgar itu bohong.

Edgar pasti boong!

Edgar ketar-ketir di tempat. Ini kenapa jadi awkward gini, sih?

"Gar ...."

"Iya?"

"Gue suka ...." ucapan Andrew ngegantung. Edgar panas dingin. Please, jangan sekarang, kecepetan kalo mau ngomong sekarang, besok aja, aku siap, batin Edgar ngaco. Lah?

Nggak, Edgar nggak senista itu. Otaknya belum nyampe ke tembak-menembakan sesama jenis. Intinya, tulisan italic atau tulisan miring tadi bukan Edgar yang ngomong, bukan.

Yah, zonk.

"Suka apa?"

"Su-su-su ...."

"Susu?" tanya Edgar bingung, jadi Kak Andrew suka susu siapa? Eh, maksudnya susu apa? Batin Edgar. Nah, ini baru Edgar yang ngomong. Dalam hati tapi.

"Gue nggak suka susu lo!" sanggah Andrew buru-buru, sewot. Takut disangka suka sama susu Edgar yang cimit-cimit (lihat di part 6).

Padahal emang bener ...

... Hehe ....

"Eh?"

"Maksud gue, gue suka susu lo!"

"Hah?"

"Eh, salah! Yang gue suka bukan susu lo!"

Edgar bengong, Andrew kelabakan.

Ini kenapa jadi bahas susu?

"Gu-gue suka ...." Andrew keliatan gugup, tangannya keringetan saking gugupnya, "gue ... GUE SUKANYA SAMA LO."

Mantap. Sangat lantang, keras, dan menggunakan capslock. Nah, gitu dong nge-gas. Andrew keceplosan, sedangkan Edgar cuma bisa mangap dengan kacamata bulat yang melorot di pangkal hidungnya.

Andrew langsung memalingkan wajahnya saat merasakan pipinya memerah. Ah, momen langka kan melihat Andrew malu-malu gitu ke Edgar? Biasanya kan dia galak, judes terus sama Edgar, udah kayak singa kebelet kawin.

Ini kenapa bahas singa? Ya, karena Andrew kayak singa yang seolah ingin menerkam Edgar sewaktu-waktu. Edgar kudu setrong.

Edgar sendiri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal guna mengalihkan rasa canggungnya, pipinya pun tak kalah merah dibandingkan dengan Andrew. Wih, pasti lucu 'kan melihat dua orang laki-laki yang ngakunya straight dengan pipi memerah dan tatapan malu-malu seperti itu?

Meleleh adek, langsung modyarrr.

"Aku juga ...."

"Lo juga suka gue, Gar?"

"Aku juga ...." Edgar menggantungkan kata-katanya, Andrew udah gemas setengah mati pengen denger jawaban Edgar, ketar-ketir dia nungguin lanjutan dari kalimat Edgar. "... kebelet pipisss!!!"

Edgar lari sambil megangin selangkangannya seolah yang beneran kebelet dan udah di ujung tanduk. Sekarang giliran Andrew yang bengong.

Mungkin Edgar terlalu nervous, makanya sampe kebelet gitu. Andrew berusaha berpikiran positif dan tetap menunggu Edgar yang entah pipis di mana.

Dan nyatanya, selama satu jam menunggu, Edgar tidak kembali.

Meninggalkannya dengan motor keramat milik Edgar. Andrew tertawa miris, menyesali ungkapannya kepada Edgar.

Haaah, ternyata emang mustahil. Pikir Andrew ironi, kemudian ia berjalan sambil mendorong motor Edgar yang ditinggalkan begitu saja. Sama seperti dirinya dan hatinya yang baru saja ditinggalkan. Sekali lagi, Andrew tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan, menertawakan kebodohannya yang terlalu terburu-buru dalam menafsirkan perasaan.






—Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang