3

11.5K 1.4K 97

"Gar, kemaren kamu ke mana? Aku nungguin kamu, lho."

"Hah? Tapi, kemaren kata—" Edgar nyaris saja keceplosan mengatakan nama Andrew. Ia terlalu takut merusak hubungan persaudaraan mereka yang sangat damai ini—dan juga ia terlalu takut untuk mengingat kejadian semalam. Sebut saja kejadian berbagi napas.

"—Gar! Edgar! Kok malah ngelamun, sih?" panggil Ara menyadarkan lamunan Edgar, "Tadi kamu ngomongnya ngegantung. Kata apa? Siapa yang berkata?"

"Eh, anu, kemaren kata ibu aku nggak baik keluar malem-malem pas lagi hujan. Apalagi kemaren hujannya deres banget. Takut khilaf katanya kalo pergi berduaan pas hujan," alibi Edgar.

"Hah? Takut khilaf?"

"Eh—"

"Edgar! Dipanggil Bu Anfila tuh di ruang guru!" panggil salah seorang teman sekelas Edgar. Untuk sementara Edgar bisa bernapas lega. Ia akan berterima kasih pada teman sekelasnya atau pada Bu Anfila, mungkin? "Ara, aku ke Bu Anfila dulu, ya," ujar Edgar lalu pergi berjalan keluar meninggalkan kelas.

Di tengah perjalanannya menuju ruang guru, Edgar memikirkan perkataannya barusan pada Ara. Takut khilaf pas pergi berduaan pas hujan, huh? Pikirnya.

Berarti semalam Edgar dan Andrew khilaf gitu? Pertama, mereka pergi berduaan. Kedua, cuacanya lagi hujan—gerimis. Dan ketiga, mereka ciuman.

Nggak! Itu bukan khilaf! Itu Kak Andrew kan cuma berusaha nyalurin napasnya ke aku yang sesak napas. Pikirnya lagi. Iya, Edgar harus berpikiran positif mengenai kejadian semalam.

Mereka kan tidak berciuman! Mereka hanya berbagi napas. Iya, berbagi napas!

Tapi, dari segi mana pun, bibir bertemu bibir. Berpagutan, tetap saja dikatakan ciuman, 'kan? Memikirkan hal tersebut, langsung membuat pikiran Edgar galau seketika, perasaannya porak poranda.

Bagaimana mungkin ia bisa sekacau ini hanya karena ciuman—pembagian napas dari Andrew? Mengapa ia bisa galau cuma karena dicium oleh lelaki?

Tunggu, tunggu. Kenapa kita malah berbicara seolah Edgar itu telah menyimpang hanya karena ciuman dari Andrew?

Kalian ragu?

Edgar memikirkan ulang semuanya. Memutar ulang kejadian semalam.

Aku ... masih normal, 'kan?

-

Malam ini Edgar tengah melajukan motor bebeknya ke rumah Ara. Kali ini ia bukan berniat untuk mengajak Ara jalan, apalagi mau modus sama Andrew. Nggak bakal. Edgar itu kan lurus tanpa belokan apalagi tikungan.

Jadi, malam ini Edgar ada janji mau ngerjain tugas kelompok bareng. Iya, tadi siang pas Edgar dipanggil Bu Anfila itu untuk membagi kelompok, mengingat tugas Edgar—sebagai seksi pendidikan— memang berkaitan dengan pembelajaran.

Sesampainya di rumah Ara, Edgar langsung mengirim pesan kepada Ara agar keluar dan membukakan pintu untuknya—ya, Edgar mengakui bahwa ia tengah menghindari bertatap muka dengan Andrew yang sering kali membukakan pintu untuknya.

Tak menunggu waktu beberapa lama, Ara langsung keluar membukakannya pintu. "Edgar! Masuk, yuk!" ajak Ara mempersilakan Edgar memasuki rumahnya dan tak menunggu waktu lagi, Edgar pun mengikuti Ara yang berjalan memimpinnya memasuki rumah.

"Siapa, Dek?" Tiba-tiba suara Andrew yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi menginterupsi perjalanan mereka menuju ruang belajar rumah Ara.

"Edgar, Kak," jawab Ara sekenanya.

"Gar! Gimana yang semalem? Udah baikan?"

"Uhuk!" Mendengar ucapan Andrew, Edgar kaget dan langsung tersedak air liurnya sendiri.

"Masih alergi ya lo?" tanya Andrew perhatian, tapi kadang nggak paham akan situasi.

"Lho? Emangnya kalian semalem ke mana?" Kali ini Ara yang bertanya.

"Uhuk!"

"Lah, emangnya Edgar nggak cerita, Dek?" —Andrew.

"Cerita apa?" —Ara.

"Uhuk!"

Canggung seketika.

-

"Gar, katanya nggak boleh pergi berduaan pas hujan, katanya takut khilaf. Tapi, kok kalian malah pergi berduaan? Pas hujan lagi!"

"Ya ... cowok sama cowok mana mungkin khilaf, Dek," kata Andrew menjelaskan.

Terus? Situ nggak inget kalo semalem udah khilaf?

"Nah, iya, Ra! Cowok sama cowok nggak mungkin khilaf pas hujan, iya kalo cowok sama cewek," timpal Edgar

"Kecuali kalo kita homo."

"Lagian mana mau aku jadi homo. Nggak ada lobangnya."

"Ada, bego! Cuma lubangnya satu, kecil lagi!"

"Idih, kok tau? Kak Andrew pernah sama cowok, ya?"

"Mana mungkin gue pernah sama cowok!" ujar Kak Andrew, "Najis lo!" ejek Andrew.

"Enak aja! Aku nggak najis!" sanggah Edgar.

"Kalo gitu mesum!"

"Aku nggak mesum—"

"Berarti lo—"

"Hihi." kikikan pelan Ara yang berada di antara mereka seketika menginterupsi obrolan tidak berfaedah keduanya. "Kalian akrab, ya!"

"NGGAK, KOK!" protes keduanya sambil menghadap Ara. Jangan lupakan ekspresi keduanya yang lucu, dengan bibir dimajukan dan dahi mereka yang berkerut. Sangat kompak!

"Tuh, kan! Kalian lucu, deh!"

"NGGAK!"

"Hihi ...."






—Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang