5

11K 1.3K 71

"Mau makan apaan?"

"Ter—"

"Jangan ngomong terserah apalagi nyuruh gue milih! Entar lo bengek lagi."

"Aku nggak bengek!"

"Iya, maksudnya alergi." Andrew tumben ngalah? Momen langka! "Udah, pesen sana!"

"Bentar."

"Kali ini gue yang traktir!" ucap Andrew. Gaya.

"Eh, nggak us—"

"Gak usah sok nolak, elah!"

"I-iya, Kak ...."

"Lo—"

"Bentar, Kak!" Edgar menginterupsi ucapan Andrew dengan menutup mulut Andrew dengan telapak tangannya.

Dan entah kenapa, muka Andrew mendadak merah. Untung si Edgar nggak ngeliat. Tapi, mata Edgar lagi mengawasi orang yang duduknya berada di belakang Andrew.

Tak mau bertanya, Andrew pun langsung menoleh ke sumber tatapan Edgar.

Ada Ara dan si mantan kesayangan.

-

"Yaelah, lo ngapain sih, Gar?" tanya Kak Andrew malas, "Kok nge-stalk orang?"

"Ssttt ...." Edgar menaruh telunjuknya di bibir mungilnya.

"Ngapain juga lo nge-stalk Ara?"

"Nggak pa-pa sih, Kak," jawab Edgar berbisik pelan, "Cuma kepo aja."

"Mending samperin aja lang—"

"JANGAN!" pekik Edgar sambil menahan lengan Andrew yang nyaris saja mendatangi Ara dan si mantan.

"Kenapa sih?"

"Pokoknya jangan. Kita ngeliatinnya diem-diem aja, Kak!"

"Udah gak pa-pa, samperin aja!"

"JANGAN, IH!"

"Edgar?"

"Eh?"

"Lho?"

"Ini siapa, Ra?"

Krik.

Krik.

Krik.

Canggung seketika.

-

"... Maaf ya, Gar," sesal Ara pelan setelah menjelaskan alasannya tidak membalas Line Edgar, "Aku mentingin temen aku dulu. Udah lama nggak ketemu soalnya."

"Iy—"

"Lho? Kok temen? Kita kan udah balikan, Ra?"

"Oh iya, maaf ya, Ren. Aku lupa."

Tidak tahan dengan hal ini, Edgar pun langsung izin pergi ke toilet.

Padahal dia memilih diam-diam pulang ke rumahnya ketimbang pergi ke toilet yang berada di restoran tersebut.

-

'Di PHP-in lagi ...,' batin Edgar dengan bibirnya yang maju beberapa senti, mengerucut dengan kepala menunduk. Jujur saja, diam-diam Edgar menggigit bibir bagian dalamnya agar ia tak menangis. Ya, ia sedang menahan tangisnya sekarang.

Edgar memang cengeng, tapi setidaknya ia masih tahu malu untuk tidak menangis di tempat umum seperti ini. Mungkin ia bisa menyimpan stok air matanya untuk di kamarnya nanti.

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang