24

8.5K 992 209

"Tara, kamu nggak pa-pa?" tanya Edgar khawatir. Ya iyalah, khawatir! Udah kepergok homo, yang ngeliat malah mimisan lagi.

"N-nggak pa-pa, kok! Lanjutin aja," jawab Tara sambil nyengir enggak jelas.

"Lanjutin apa?"

"Lanjutin acara grepe-annya."

"Ngawur kamu!" teriak Edgar histeris. Jelas aja histeris, orang Tara tuh ngomongnya santai banget, kayak nggak ada beban aja gitu.

"Kalian deket, ya." Andrew menginterupsi obrolan keduanya. Edgar dan Tara yang sedang ngobrol pun tiba-tiba langsung diem.

"Ah, enggak, kok!" jawab Edgar panik, "Kita jauh, kok! Nggak deket. Seriusan nggak deket!" lanjut Edgar.

"Yaelah, Mas! Nggak usah cemburu gitu ... saya nggak suka tipe cowok uke kayak Edgar gini. Saya sukanya sama tipe seme kayak Mas Andrew." Tara berkata sambil mengelap sisa-sisa darah pada hidungnya.

"Nggak boleh!" jerit Edgar panik. Gimana nggak panik? Orang yang suka sama Edgar tuh cuma Andrew seorang. Masa mau direbut juga? Dari dulu Edgar susah banget dapet pacar. Nah, sekarang dia dapet pacar kayak Andrew kan lumayan. Udah ganteng, kaya lagi! Pikir Edgar.

Oke, pikiran Edgar mulai kayak mamanya. Kayak ... ada matre-matrenya gitu, ehe.

Tara menaikkan bahunya santai. Bersikap masa bodoh dengan pasangan alay ini. Yang satu manja-manja nganu, yang satu diem-diem posesif. Tara dibuat gagal paham akan hubungan sepasang kekasih ini.

Tiba-tiba hening.

Tidak ada suara satu pun. Tidak dari Andrew, tidak dari Tara ... Edgar memang tak ada suara. Karena setelah dia mikir kayak mamanya itu, dia langsung ketiduran.

Tara terlihat curi-curi pandang ke arah Andrew, sedangkan Andrew sendiri lagi ngelus-ngelus rambut Edgar sayang sambil meneliti bagian tubuh Edgar yang terluka. Melihat hal itu, Tara justru semakin menatap Andrew dengan tatapan yang sulit diartikan.

--Yah, walaupun fujo, tapi kalau ngeliat cowok ganteng macam Andrew gini ya gimana? Suka lupa mau nge-ship tuh. Jatuhnya malah suka sendiri.

"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Andrew dengan nada ketus miliknya. Yah, Andrew kan memang selalu judes sama orang baru. Edgar aja dulu sering kena semprot sama Andrew, walaupun nggak salah apa-apa.

Tara menggeleng pelan. "Nggak pa-pa. Cuma ... Masnya tau sendiri 'kan kalau saya suka sama tipe-tipe kayak Mas Andrew gini," ujar Tara secara gamblang.

Andrew menatap Tara dengan pandangan datar, seraya berkata, "Gue tau, kok! Tapi gue nggak suka sama lo, gue nggak suka sama dada rata kayak lo."

Lah? Andrew suka ngawur ngomongnya. Andrew bilang nggak suka dada rata kayak Tara, tapi suka sama Edgar yang bahkan lebih rata dari Tara. Ibaratnya dada Tara tuh masih ada tanjakannya dikitlah, sama kayak polisi tidur. Nah, Edgar? Rata. Lempeng. Persis kayak jalanan aspal pegunungan yang nggak ada polisi tidurnya.

"Saya nggak rata!" pekik Tara pelan.

"Nggak usah ngejerit gitu, Edgar lagi tidur," ucap Andrew datar, "intinya, gue nggak suka sama lo. Gue sukanya sama Edgar."

"Terus, lo nggak mau balas budi gitu ke gue? Yah, setidaknya kan gue udah nyelametin Edgar lo." Tara mengubah bahasanya menjadi bahasa santai, tidak seformal tadi.

"Sebenernya mau lo apa?"

"Gue mau lo."

"Permintaan ditolak." Andrew berdiri dari tempat duduknya. "Lo bisa pergi, udah ada gue yang jagain Edgar. Gue udah telepon supir gue buat nganterin lo. Masalah balas budi, nanti gue kirimin hadiah ke rumah lo."

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang