36 : Werewolf

1.7K 179 33
                                    

Lucius terlihat sangat pucat, putih seperti mayat. Sedangkan Erix tampak sangat panik. Bahkan ia sempat berpikir bahwa Lucius akan mati. Pemuda itu tidak tega melihat kondisi Lucius yang mengenaskan, air matanya mulai berlinang. "Siapa saja ... siapa saja, tolong, tolong Lucius! Aku mohon."

Wanita berambut hitam bercampur putih bergegas menghampiri, ia segera memeriksa keadaan Lucius. Shensin itu langsung mengayunkan wandnya dan merapalkan sutah mantra mantra, "Cura ...." Muncul aura putih dari ayunan wand tersebut dan tubuh Lucius dibalut aura putih tipis itu. Dalam beberapa detik, aura itu menghilang meresep ke dalam tubuh.

Mantra yang ditunjukkan wanita ini adalah mantra tingkat lanjut dari Cure, yaitu Cura, mantra penyembuhan level tiga. Jika Haruka terus berkembang, dia juga akan mempelajari mantra ini.

"Tolong ambilkan air gula untukku. Jika ada, tolong siapkan juga makanan ringan. Dia membutuhkan makanan untuk menggati darah yang hilang," jelas wanita itu.

Semua orang di sana bergegas mengeluarkan bekal mereka untuk membantu Lucius. Semua shensin itu tidak sungkan memberikan semua cemilan yang mereka miliki. Pemandangan ini sangat mengharukan dan Erix tidak bisa menahan air matanya.

"Sudahlah, kami akan merawat Lucius. Dia akan baik-baik saja," kata wanita penyihir menenangkan Erix yang tersedu.

Erix benar-benar kacau. Lucius terluka parah, sedangkan Haruka diculik. Semua shensin menatapnya dengan tatapan kasihan. Padahal sebelumnya, mereka menatap hormat pemuda itu. Saat di Bumi pun, dipandang dengan tatapan kasihan seperti itu merupakan sebuah penghinaan. Untuk orang konglomerat sepertinya, tatapan itu hanya digunakan saat menemui lawan bisnisnya yang kalah bersaing atau bangkrut.

Sekilas, percikan kebenaran tergambar di kepala Erix. Saat ia, Lucius, dan Haruka masuk ke dungeon, ada seorang wanita yang meminta bantuan untuk diantarkan sebuah batu kepada anaknya.

"Apa di sini ada yang bernama Nissei?" tanya Erix seraya menatap semua shensin di sana satu per satu.

Namun semuanya menggelang. Tidak ada orang bernama Nissei di deretan pasukan itu.

"Sudah kuduga," ujarnya kesal. Erix mengepalkan tangannya dengan kuat. "Sial ...."

"Ada apa, Erix?" tanya wanita penyihir.

"Sepertinya kami sudah ditipu. Mereka sudah merencanakan semua ini," jawab Erix, wajahnya tampak tegang dan kesal. "Sial, aku terkecoh!"

Sesosok werewolf datang mendekat. "Erix, kau tidak membiarkan halini begitu saja 'kan?"

Erix teringat dengan wajah Vlad yang tertawa di atas penderitaannya. Hal ini membuat Erix sangat geram dan marah. Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. "Aku akan mengejar vampire itu."

"Apa!? Kau yakin?" tanya Selina yang tidak sengaja mendengar ucapan pemuda itu.

"Yah, akan kubuat dia menyesali perbuatannya ini."

"Vlad sangat kuat, apa kau bisa mengalahkannya?" tanya Roland yang juga medekat.

"Aku sudah membunuhnya sebelum datang ke mari, ini hal mudah untukku." Erix menatap Selina, tatapannya penuh permohonan. "Aku tinggalkan Lucius padamu."

"Ha! Kenapa harus aku?" sahut Selina protes.

Namun, Erix tidak menanggapinya. "Tuan werewolf, kau tahu arahnya 'kan?"

"Hidungku cukup sensitif dengan energi vampire, aku tahu jalan mana yang ia ambil," jawab werewolf itu.

Erix dan Rodin meningalkan kelompok shensin itu. Mereka akan melewati lorong yang tadi dilewati Vlad.

Pangeran Richard berjalan dan berhenti di depan dua shensin itu. "Kami tidak akan menunggumu terlalu lama." Ia berencana akan segera pergi setelah semua persiapan selesai. Lagi pula, tujuan utamanya adalah menaklukkan bos tertinggi di dungeon ini, dan ia bertekat akan menggapainya.

Namun tekad Erix tak kalah pansanya dengan Pangeran. Ia tetap maju melewati Pangeran itu begitu saja tanpa menjawab omongannya.

*****

Rodin berlari sangat cepat. Walaupun Vlad sudah jauh di depan mereka, dengan insting werewolf pada dirinya, ia tahu jalan mana yang dilewati oleh vampire itu. Ada semacam bau amis yang tertinggal dan Rodin tahu betul akan aroma itu. Erix yang sejak tadi dibelakangnya, terus berlari dan menyerahkah sepenuhnya penunjuk jalan pada werewolf tersebut.

Mereka berlari dengan sangat cepat. Tidak memperdulikan deretan monster yang menghadang mereka, hanya berlari dan terus berlari. Menyusuri lorong gua yang basah dan lembab.

Tiba-tiba, Rondin menghentikan langkah dan ia juga menahan laju Erix di belakangnya.

"Ada apa?" tanya Erix penasaran.

"Ada bau yang lain," ujarnya. Ia mencium-cium seperti anjing yang mencium udara. "Ini, monster."

"Kita lewati saja," sahut Erix, ia melangkah maju.

Rodin segera menahan apa yang akan dilakukan pemuda itu. "Tidak! Berbeda dari monster biasa, yang ini kuat."

Sesosok makhluk maju mendekat di antara keremangan lorong gua. Makhluk itu besar tinggi, mungkin setinggi tiga setengah meter. Sosok sahagin raksasa menghadang jalan mereka. Rodin mengerang seperti anjing yang siap untuk berkelahi.

Otot-otot kekar terpampang dalam balutan kulit bersisik warna merah. terdapat semacam sirip di kedua sisi pipi makhluk itu, kemungkinan fungsinya sama seperti sirip ikan. Tidak hanya itu, saat ia menghembuskan nafas lewat mulut, terlihat kilauan gigi-gigi tajam yang tersusun seperti mata gergaji. Begitu menakutkan dan membuat ngeri siapapun yang melihatnya.

Di punggungnya, terdapat semacam layar dari susunan tiga sirip besar. Tidak tahu apa fungsi sirip itu namun, tiga sirip itu cukup memberi kesan garang pada dirinya. Cakar-cakar tajam mencuat dari semua jemari, menghunus ganas menghadap lawan.

Monster itu mengerang, lalu meraung dengan keras. Berteriak dengan mulut yang terbuka lebar, memamerkan kengerian akan susunan gigi tajam di dalamnya.

"Khezu-Sahagin ...," gumam Rodin.

"Khezu ... apa?" pendengaran Erix kurang jelas karena berisiknya monster itu.


________________________

Lanjutannya bisa dibaca di buku ya ^^

Lanjutannya bisa dibaca di buku ya ^^

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


☘____________________________________☘

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

☘____________________________________☘

Dungeon HallowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang