Mas Tua!!-18

8.5K 765 31
                                    

Kembali lagi...

Kritik dan sarannya dong...

Terimakasih yang selalu vote dan komentar..

Happy Reading

✈✈✈✈✈

"

Apa gak bisa ditawar nak?"

"Gak bisa. Kalau mau aku maafin Papi harus jadikan kak Onah istri Papi." Finalnya.

"Kalau dia gak mau gimana?"

"Pasti mau!" Seru Dito

Bagus merasa ada yang aneh di anaknya jangan-jangan ada simbiosis mutualisme antara anaknya dan si dia.

"Dari mana kamu tau?" Curiga Bagus.

"Kita itu udah satu sel darah jadi ya tau lah. Nanti juga Papi sama kayak kita bahkan bukan sel darah lagi tapi denyut nadi."

"Jangan bilang nanti kalian kerja sama, kalau benaran Papi pastikan kalian bakal Papi hukum ingat itu dan garis bawahi itu."

"Oke. Berarti Papi setuju?"

Bagus mengangguk dan respon yang didapat dari anaknya adalah berupa pelukan erat sampai Bagus tidak dapat bernafas. Jangan sampai anaknya kesurupan di sini malahan pohon rimbun banget lagi, Bagus takut pohon ini ada mbak kuti dan mas gendo.

"Sudah lepaskan Papi, kamu harus cerita dari mana aja kamu sampai orang suruhan Papi yang Papi bayar triliunan gak bisa temuin kamu."

"Nanti Pi, sekarang kita pergi aja dari sini, Dito laper," Ucapnya memelas.


***

Diatas pohon mangga ada seseorang yang sedang makan ayam Ipin, pantas saja si Ipin suka banyak dagingnya. Ia sengaja makan di atas pohon takut ada yang mencuri ayam Ipin satu-satunya yang tadi ia beli maka nya ia makan di atas pohon dan tidak lupa ia membaca doa makan agar para setan yang laper tidak ikut makan. Pelit. Memang kalau makanan enak dan jarang dimakan harus bersikap pelit agar kenyang.

"Enak banget ini ayam. Dagingnya banyak terus garing beuh mantul deh pokoknya."

Ia terus menyantap ayam Ipin itu dengan sangat pelan agar terasa nikmat. Saat sedang menikmati dan menghayati tiba-tiba ia di lempar sepatu dari bawah lalu ia menajamkan matanya ke bawah melihat siapa yang melemparnya. Ketika pandangan nya jelas ia melotot dan tersedak daging ayam Ipin, ia melihat sekeliling dan tidak ada air minum, dengan memegangi lehernya ia berharap ayamnya bisa turun

Bruuk

Onah terjatuh. Tidak sakit, rasanya ada empuk-empuk keras seperti makan ayam Ipin tadi dengan masih menutup matanya Onah merasakan hangat di wajahnya.

"Bangun ini bukan sinetron ataupun novel. Jangan terlalu menghayati."

Onah membuka matanya ia terkejut melihat wajah didepannya, matanya turun kebawah melihat bibir sexy itu
"Duh mau kecup boleh gak ya, manis banget itu bibir " Batinnya.

Tiba-tiba tubuh Onah melayang dan jatuh kebawah karena tiba-tiba orang tadi berdiri tanpa dosa.

"Kok di jatuhin," Sunggutnya.

"Lagian bengong. Udah saya bilang bangun kamu gak mau bangun."

"Kok bibirnya sexy dan manis." Ucapnya polos.

Orang itu dengan reflex memegang bibirnya.

"Bodoh." Menoyor kepala Onah

Sedangkan mereka melupakan orang lain yang berada didekat mereka. Orang itu malah cekikikan melihatnya.

"Yang kayak gini mau kamu jadiin ibu nak? Ayolah jangan bisa mati muda Papi."

"Bukan mati muda Pi, tapi awet muda. Lucu gini." Jawabnya.

Sedangkan Onah sudah senyum senyum dan melayang.

"Bodo lah." Frustasinya. "Kamu masak sana saya dan anak saya laper." Perintahnya dan berjalan masuk kerumah Onah.

Sedangkan Onah dan calon anaknya terbengong dengan sikap Bagus.

"Cooming soon Ibu." Ucap Dito terkekeh.

Onah sudah tersenyum lebar. Otak kecilnya sudah menyusun berbagai rencana untuk membuat Bagus takluk di genggamannya.

Saat sudah didapur Onah mendengar obrolan anak dan Papi itu mereka seperti nya meluapkan kerinduannya sedangkan Onah seperti Ibu benaran yang sedang menyiapkan masakan terenak untuk suami dan anak. Onah senyum-senyum saja dari tadi walau ayam Ipin nya jatuh dan masih sisa tidak apa-apa menu sederhana ini bikin bahagia sebab makannya bersama keluarga kecil. Aamiin

"Ini makanannya, Mas mau minum apa?"

"Kopi aja, jangan lupa air putih."

Onah beralih ke Dito. "Kamu mau minum apa dek?"

"Air putih aja Bu."

Huuk
Huuk
Huuk

Baik Bagus dan Onah sama-sama tersedak, Bagus tersedak nasi sedangkan Onah tersedak air liurnya. Onah melihat Bagus yang tersedak cepat-cepat ia mengambil kan air dan meminumkan Bagus dari tangannya. Kurang romantis apa mereka. Dito? Jangan ditanya dari tadi ia memotret Onah dan Bagus dan dengan kurang ajarnya dibuat story 'cooming soon Ibu'.

"Kenapa kalian?" Tanya Dito

Onah dan Bagus kompak menggeleng.

"Papi aja Bu yang di ambilkan air, Dito nggak?"

"Be-bentar." Onah berdiri menuju dapur dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Beginikah kalau punya anak?

Mereka bertiga asik menikmati masakan Onah. Mereka tidak ada yang bersuara sedikitpun, setelah selesai makan Dito dan Onah mengobrol santai dan Bagus sedang mandi. Dengan tidak tahu dirinya Bagus minta ini itu sama Onah.

Dengan rambut basah yang masih menetes Bagus duduk di depan Onah dan memberikan handuknya untuk mengeringkan rambutnya dan dengan jual mahal Onah tidak menerima handuk itu.

"Keringkan?! Cepat." Perintahnya.

"Nggak mau."

"Saya ketekin kalau gak mau." Ancamannya.

Onah masih bergeming malah sibuk berbicara dengan Dito. Bagus yang melihat Onah menolaknya akhirnya benar-benar menghimpit kepala Onah diketiaknya.

"Mau gini terus atau keringkan rambut saya?"

Onah mencubit bibir Bagus dan membuat Bagus melepaskan himpitannya.

"Jangan jual mahal. Saya cicil tau rasa kamu!"

Tbc

Publish, 18 November 2020

Salam sayang

Nur apni

Mas Tua!! (SELESAI-Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang