Mas Tua!!-38

7.7K 572 13
                                    

Maaf baru update lagi ya.

❤❤❤



Teet teet teet

Pergerakan tangan Bagus berhenti menghapus air mata Onah yang jatuh akibatnya cerita singkat nya, bel rumah nya berbunyi sebanyak tiga kali. Bagus mengernyit kan keningnya sebab pintu gerbang nya belum di buka kenapa ada orang yang sudah memencet bel rumahnya. Karena penasaran Bagus berdiri untuk melihat siapa orang yang pagi-pagi sudah bertamu. "Sebentar ya saya lihat siapa yang datang dulu," Ucapnya kepada Onah.

Setelah mendapat anggukan dari Onah Bagus berjalan menuju pintu rumah nya, setelah melihat siapa yang datang wajah Bagus berubah menjadi datar. Wanita yang berada di hadapan nya kini mulai terlihat memainkan dramanya, lihat saja air mata palsunya mengalir deras. Bagus masih bergeming menunggu apa yang ingin dikatakan wanita dihadapannya kini.

"Bagus, aku mohon tanggung jawab. Ini benar-benar anakmu, Gus." Ucap Desi-wanita yang menangis dihadapan Bagus saat ini.

Bagus menepis tangan Desi yang berada di tangannya. Bagus terkekeh sinis melihat pemeran drama ini. "Kamu pikir saya percaya, asal kamu tahu hitungan anak yang ada didalam kandungan kamu dan hitungan saat kita melakukan nya itu beda jauh. Dan saya pastikan itu bukan anak saya."

"Ini benar anak kamu Gus. Ayo kita tes DNA." Ajak Desi.

"Tes DNA? Kamu mau melakukan itu? Bukannya kemarin kamu gak mau melakukannya, bahkan sangat menolak. Jadi, sekarang gak perlu basa-basi dan banyak drama lagi cepat katakan ingin berapa kamu?"

Desi semakin nangis meraung.

"Ada apa mas?" Tanya Onah ketika berada di samping Bagus. Onah melihat kearah wanita yang sedang menangis meraung. Onah ingin menenangkan wanita yang tidak ia ketahui namanya itu tetapi Bagus malah mencekal pergelangan tangannya. "Itu siapa mas? Kenapa menangis?" Tanya Onah berbisik ditelinga Bagus.

Bagus tetap diam, tidak menenangkan Desi ataupun menjawab pertanyaan Onah. Bagus terus memperhatikan sampai mana Desi terus menangis seperti itu. Onah menarik-narik ujung baju Bagus, Bagus menoleh kearah Onah dan tangannya mengusap rambut Onah. Lalu kembali melihat Desi.

"Sudah?" Tanya Bagus ketika melihat Desi sudah berhenti menangis.

"Mas sebaiknya kita bicarakan ini didalam." Usul Onah

Bagus menggeleng. "Ngga ada yang perlu dibicarakan lagi Onah, semua sudah jelas kalau memang anak yang sedang dikandungnya bukan anak saya, kamu harus percaya akan hal itu."

Onah mengangguk, "iya, tapi alangkah baiknya kita duduk dulu. Kita bahas sama-sama, agar nanti ada solusi nya bahkan bisa selesai masalahnya.

" Jadi wanita kampung ini yang membuat kamu gak mau tanggung jawab Gus?" Teriak Desi.

Bagus dan Onah pun menatap Desi dengan berbagai tatapan. Onah sudah terbiasa dihina seperti itu, Onah tidak masalah memang Onah tinggal di kampung bukan di komplek atau perumahan. Bagus ingin menampar mulut Desi tapi ia urungkan sebab dirinya tidak mau menambah masalah apalagi ini didepan Onah. Bisa turun imagenya.

"Memang kenapa kalau wanita kampung mbak, toh kita sama-sama wanita. Punya rambut, punya mata, punya tangan bahkan punya mahkota yang harus dijaga. Tapi, perbedaan kita di mahkota kita, saya masih punya tapi mbak sudah gak punya. Sadar diri mbak jika mau merendahkan orang lain." Ujar Onah.

Bagus tersenyum bangga. Dirinya baru tahu ternyata menyebalkan nya Onah dapat dimanfaatkan untuk melawan situasi seperti ini.

"Ada apa Pi, Bu?"

Onah, Bagus dan Desi menengok kearah Dito yang tiba-tiba berada di belakang Onah dan Bagus. Dito memperhatikan Desi dari atas sampai bawah terus berulang-ulang. Dirinya sedang berpikir.

"Tante siapa?" Tanya Dito kepada Desi setelah puas memperhatikan nya.

"Aku kekasih Bagus dan akan menjadi istri nya sebab Aku sedang mengandung anak dari Bagus."

Dito menoleh kearah Bagus. "Benar Pi?"

Bagus menggeleng.

Dito mengangguk-angguk, "tante mungkin salah orang, mungkin bukan Bagus Papi nya Dito tapi Bagus orang lain."

"Aku punya bukti, apa masih gak percaya." Ucap Desi sambil memberikan lembaran kertas berlogo rumah sakit terkenal di kota mereka.

"Kalau gitu kita masuk dan duduk dulu, Dito capek berdiri." Ajak Dito.

Desi, Bagus dan Onah mengikuti Dito, Bagus jadi penasaran kenapa anaknya bisa sesantai ini, padahal kalau ada masalah seperti ini anaknya selalu merajuk duluan. Setelah mereka duduk, Dito mengeluarkan handphone nya dan menyambungkan nya ke televisi. Bagus, Onah dan Desi memperhatikan apa yang Dito lakukan.

"Sekarang semuanya sama-sama kita lihat ke tv," Ujar Dito.

Onah,Bagus dan Desi sekarang sedang memperhatikan layar televisi itu dan dan Onah begitu syok ketika melihat nya.






TBC

Publish, 15 Desember 2020

Salam sayang 💕

Nur apni.

Mas Tua!! (SELESAI-Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang