Mas Tua!!-33

7.6K 594 16
                                    

Assalamu'alaikum/Hai.

Untuk yang sudah follow, vote dan komentar terimakasih ya.. ❤❤
Yang sudah membaca saja juga terimakasih atas waktu kalian semua. Kalian TOP.


Happy Reading

💦💦💦

Bagus telah memasuki ruang Rektorat, kini Bagus telah duduk berhadapan dengan Pak Agung selalu rektor kampus tempat nya mengajar.

"Gimana kabarnya Pak Bagus, sudah sehat kah?" Tanya Pak Agung dengan senyum.

Baguak mengangguk. "Alhamdulillah, sudah Pak."

"Jadi gini, Pak Bagus pasti tau perihal saya memanggil bapak disini,"

Bagus mengangguk mengerti dan wajahnya masih santai seperti tidak ada rasa bersalah.

"Jadi?"

"Pak Agung yang terhormat sebelum nya saya minta maaf, saya mengakui kesalahan saya atas pemukulan terhadap Pak Bima waktu itu, tapi itu semua bukan salah saya, tidak ada asap jika tidak ada api." Bagus menghela nafas. "Dan Pak Bima telah ikut campur dengan privasi saya dan Pak Agung juga taukan kalau saya juga paling tidak suka jika orang lain mengusik privasi saya."

"Saya tahu Pak, maka dari itu saya meminta keterangan dari pihak bapak dan nanti saya juga mau mengetahuinya dari Pak Bima."

"Tidak perlu Pak karena memang disini hanya kesalah pahaman saja. Jika bapak mau memberikan SP atau langsung memecat saya, saya siap."

Pak Agung tersenyum. Ia sangat mengetahui karakter Bagus, memang seperti inilah sifat dan sikap nya tegas, disiplin, dan mau menerima konsekuensi nya.

"Tidak Pak Bagus. Karena pihak kamus tidak seperti itu, kalau ada jalan damai kenapa tidak di gunakan. Pak Bagus tetap mengajar disini. Sama seperti Pak Bima. Nanti saya tinggal menanyakan Pak Bima."

Bagus mengangguk.

"Baik kalau begitu, terimakasih atas waktunya Pak Bagus," Ucap Pak Agung dengan senyum ramah. "Mari saya bantu Pak." Tawarnya ketika melihat Bagus berdiri dengan tongkatnya.

"Tidak usah Pak. Saya bisa," Tolak Bagus. Setelah pamit Bagus melihat Dito yang sedang berdiri dengan memainkan ponselnya. "Ayo nak," Seru Bagus menepuk bahu Dito.

Dito berbalik badan dan mendapati Papi nya yang santai seperti biasanya. Mungkin masalah nya tidak terlalu besar ataupun rumit. Dito membantu menjaga Papi nya sebab Papi nya tidak mau digandeng jadi Dito berjalan sambil memperhatikan Papinya.

"Onah mana Dit?"

"Tadi Ibu langsung turun lagi soalnya kantin lagi rame Pi," Jelasnya.

"Mau ke kantin gak?"

"Boleh Pi?"

"Boleh. Tapi, yang gak boleh itu tebar pesona."

Dito terkekeh. "Si Papi kayak gak tau aja. Kan Dito emang sudah terlihat auranya tanpa harus tebar-tebar pesona."

Bagus tidak menjawab setelah lift berhenti, Bagus dan Dito berjalan menuju kantin, jujur saja Bagus merasa kesakitan di kakinya dan pegal ditangannya. Tapi, melihat antusias anaknya ia jadi mengurungkan niatnya untuk langsung pulang. Sesampainya dikantin ia duduk di meja tengah dan Dito memesan bakso pada Onah, sekarang Dito sudah duduk bersama nya. Dito sudah duduk rapi seperti anak TK yang ingin mendapatkan makan, sebab Bagus menyarankan dan memerintahkan bahwa jika sedang duduk bersama jangan main ponsel, entah sama yang lebih tua, lebih muda atau sesama karena mengharagai dan agar bersikap sopan. Bakso dan mie ayam pesanan mereka datang tapi, tidak diantarkan oleh Onah melainkan Mang Ujang sebab Onah sedang ada panggilan alam. Bagus dan Dito sama-sama menikmati nya. Tidak ada yang bersuara mereka sama-sama hening. Onah datang membawa es teh manis dan jus jeruk.

"Nggak langsung pulang Dit?" Tanya Onah ketika melihat Dito sedang menyeka bibirnya dengan tisu.

"Tadi Papi ngajakin ke kantin dulu, katanya mau lihat ibu sekalian makan." Ujarnya setengah berbohong.

Bagus mendelik mendengar ucapan Dito.

"Masa sih?" Onah tidak percaya dan beralih kearah Bagus. Bagus yang melihat itu pun menelan baksonya.

"Azab orang suka bohong meninggal nya gimana?" Tanya Bagus kepada Onah.

"Kuburannya banyak kecoak." Jawab Onah polos.

Sedang kan Dito sudah pucat pasi sebab dirinya sangat takut dengan kecoak sedangkan Onah tidak tahu akan hal itu. Bagus tertawa dan mengacungkan ibu jarinya kepada Onah sambil menjulurkan lidahnya dihadapan Dito.

"Kenapa ketawa mas?" Tanya Onah bingung, sedangkan sekarang Bagus menetralkan wajahnya kembali sebab tawanya menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di kantin.

"Oh ya, nanti kamu lihat kotak yang ada didepan rumah kamu ya." Perintahnya.

"Kotak apa?"

"Nanti kamu lihat sendiri aja."

Karena Onah sedang banyak pengunjung jadi Onah meninggalkan Bagus dan Dito, begitupun juga mereka yang pamit pulang kepada Onah dan mang Ujang.

"Seperti nya Onah ada sesuatu nih sama pak Bagus?" Celetuk Mang Ujang.

"Sesuatu apa Mang?"

"Si Onah teh pura-pura gak ngerti. Itu lho, yang kiyuttt."

"Lesti sama Bilar?"

Mang Ujang mengangguk.

Onah mendekat kearah mang Ujang sambil berbisik. "Onah dilamar sama Pak Bagus mang."

"Woowww." Seru mang Ujang. "Ini teh berita yang paling fenomenal."

"Menurut mamang gimana?"

"Laki-laki baik, kaya, tampan. Sikat ttt..." Seru mang Ujang heboh.

"Tapi," Onah berfikir.

"Tapi apa?"

"Onah kekamar mandi dulu mang," Ucapnya sambil berlari dan mang Ujang hanya geleng-geleng saja.









TBC

Publish, 5 Desember 2020

Salam sayang💕

Nur Apni


Mas Tua!! (SELESAI-Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang