Thirty Nine

1.7K 96 16
                                    

Sejak obrolan malam itu, Mas Dae tak lagi menahan gue untuk tidur di kamar Kimi. Sejak saat itu pula gue mulai jarang bertemu dengannya. Entah siapa yang menghindar, baik gue ataupun dia seolah sibuk dengan urusan masing-masing.

Gue menemukan kesibukan baru, bekerja sebagai editor freelance berkat bantuan Pak Sehun. Gue bekerja di rumah, cukup dengan bahan laptop. Pak Sehun tidak peduli kapan gue mengerjakan, yang dia tahu semua naskah yang gue edit harus selesai dikirim sebelum jam 24.00 untuk naik cetak.

Jadi, seharian gue mengurus rumah dan Kimi. Saat Kimi tidur gue sibuk dengan puluhan naskah yang meminta untuk diperhatikan. Gue mengerjakan itu di kamar Kimi, bisa dipastikan saat Mas Dae pulang kantor pun gue jarang bertemu. Hanya pagi saat sarapan kami duduk bersama di meja makan. Han Ahjumma tak pernah lagi bertanya, mungkin beliau sadar hubungan kami semakin tidak baik.

"Didi Didi Didi!" oceh Kimi saat melihat Daddy-nya berjalan pelan menuju meja makan.

"Selamat pagi, Sayang!" ucapnya sambil mencium pipi Kimi. Gue tahu sebentar lagi dia akan beralih untuk menghampiri gue, dengan segera gue beranjak menuju dapur membantu Han Ahjumma menyiapkan sarapan. Saling menghindar seperti itu yang memang kami lakukan saat ini.

"Kimi mamam apa?"

"Mamam mamam!"

"Ini namanya wortel. Coba Kimi bilang, wor - tel!"

"Ooo - tel!" seru Kimi dengan semangat lalu tertawa. Bisa gue dengar Mas Dae juga tertawa ringan.

"Oke, Kimi mamam nasi dulu ya. Mommy suapin. Daddy juga harus makan dulu!" sahut gue sambil mendekat ke Kimi. Mas Dae paham itu adalah alarm baginya untuk segera sarapan dan berangkat kerja.

"Malam ini aku lembur!"

"Hmmm,"

"Kamu ada rencana apa hari ini?"

"Cuma pengen ke mall beli stok diapers dan camilan Kimi".

"Ooh,"

Kami pun tak lagi berbicara. Dia menikmati sarapannya dan gue fokus menyuapi Kimi. Oia, sampai sekarang Mas Dae tidak tahu gue bekerja freelance dan gue pun tidak berniat untuk memberitahunya. Tujuan gue adalah punya penghasilan sendiri tanpa perlu lagi memakai uang darinya selain untuk keperluan rumah tangga.

"Ini," ucapnya sambil menyodorkan sebuah kartu kredit ke gue.

"Buat apa?"

"Ya buat kamu belanja nanti!"

"Ga usah. Uang belanja masih ada, masih cukup!" balas gue tanpa menoleh, kembali menyendokkan sayur untuk Kimi.

Gue tahu dia bingung, tapi seperti yang gue katakan, kami saling menghindar. Berusaha meminimalisasi obrolan. Itu sebabnya dia tidak bertanya lebih jauh lagi.

****

Semua keperluan Kimi sudah ada di dalam troli, pun dengan keperluan gue. Saat ini kami baru saja duduk di sebuah restoran untuk makan siang.

"Nana?"

Gue menoleh ke arah suara.

"Jaehyun?"

"Wah kebetulan banget bisa ketemu lo disini! Sendirian?"

Belum sempat gue menjawab, mata Jaehyun langsung mengarah ke Kimi.

"Anak lo, Na?"

"Yaps!"

"Astaga! Udah sebesar ini? Cantik banget pula!"

"Lo ga liat emaknya secantik ini?!" balas gue sambil mengibaskan rambut.

(after) Married You ❌ KJD ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang