Seventeen

2.4K 123 29
                                    

Hari kedua gue di rumah sakit. Perut gue sudah lebih baik, tidak terasa kaku seperti kemarin. Mualnya juga bisa dikontrol, mungkin karena vitamin dan gue dapat asupan dari infus. Selama dua hari ini pula Baekhyun selalu menemani disini.

Kemarin dia bolos kerja dengan alasan karena kondisi gue masih belum stabil. Tapi hari ini gue memaksa dia untuk bekerja. Jauh di lubuk hati gue, ada rasa khawatir Mas Dae akan keteteran mengurusi kerjaan di kantor tanpa Baekhyun. Bagaimanapun peran sekretaris sepenting itu.

Bodoh kan? Lelaki yang dengan terang-terangan menolak kehadiran gue masih tetap gue pikirkan. Bahkan gue pun ga yakin dia khawatir setelah meninggalkan gue malam itu. Berusaha menepis hal yang membuat sedih, gue perlahan turun dari ranjang mendekati sofa, tempat Baekhyun tertidur.

"Baek...Baek...bangun!" gue tepuk lengannya pelan. Dari dulu Baekhyun selalu lucu kalau sedang tidur, mirip anak anjing.

"Hmmm" dia mengerjapkan matanya.

"Bangun, udah jam 6. Lo harus pulang trus kerja."

"Males!" ucapnya sambil menarik selimut sampai leher dan memejamkan mata. Dia kembali meringkuk, membelakangi gue.

"Jangan bolos lagi! Lo mau makan gaji buta dari suami gue?"

"Gue mau resign! Sekarang lo diem!"

"Kok resign??!!"

"Males liat muka orang brengsek! Udah diem, gue ngantuk!"

Gue ikut duduk di sofa. Meletakkan tiang infus tepat di sebelah sofa tempat Baekhyun tidur. Kembali gue tepuk lengannya pelan.

"Jangan resign ya. Tolong tetap beraktivitas seperti biasa."

Bisa gue dengar suara helaan nafas kasar. Kalau sudah begini, sangat ketara Baekhyun memang benar-benar malas. Dia bangun dan duduk menghadap gue.

"Lo ga takut suami lo cuman tinggal nama kalau ketemu gue?"

Gue tepuk mulutnya agak keras, "Mulut lo, Nyet!"

"Selama gue pergi lo jangan keluar kamar. Kalau ada apa-apa cepet panggil suster. Jangan lupa telepon gue juga!"

"Gue telepon pake apa? Selang infus?"

Dia menepuk dahinya, "Oia, hape lo kan ketinggalan di apart ya!"

"Gue gapapa, Baek. Beneran deh! Janji ga bakal kemana-mana." gue membuat tanda dengan jari telunjuk dan tengah.

Dia tersenyum lalu meraih jaket. Saat hendak pergi gue cekal tangannya, "Janji jangan beritahu siapapun ya!"

Dia mengangguk lalu mengusap puncak kepala gue.

.
--
.

CHEN POV

Hari kedua gue tidur di kantor. Setelah pertengkaran malam itu, gue memutuskan untuk pergi dari apart. Saat gue keluar apart bertepatan dengan mobil gue yang baru sampai diantar oleh karyawan. Dengan segera gue lajukan mobil menuju kantor. Dan berakhir disinilah gue, di ruangan pribadi yang sebenarnya gue bangun untuk Nana.

Masih ingat kebun bunga mawar putih LED yang dulu gue buat untuk dia?? Sesuai kesepakatan kita berdua, gue akhirnya membangun sebuah kamar lengkap dengan kamar mandi dan dapur kecil di rooftop ini. Beberapa kali Nana pernah menginap disini saat menemani gue lembur. Entah kenapa hati gue rasanya perih mengingat semua itu. Disini tempat gue melamar dia atas dasar cinta, bukan perjodohan.

Rasa perih itu makin terasa nyeri mengingat semua pengkhianatan yang Nana lakukan. Bisa-bisanya dia berselingkuh dengan ketua timnya yang baru dikenalnya beberapa bulan. Masih di hari yang sama dia malah berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Parahnya lagi, Baekhyun pernah terang-terangan mengaku menyukai Nana. Hati siapa yang masih baik-baik saja saat disuguhkan kenyataan menyakitkan berderet seperti itu??!!

(after) Married You ❌ KJD ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang