Thirty Eight

2K 108 27
                                    

"Lo jangan gila, Na! Denger dulu cerita gue, baru lo bisa ambil keputusan! Perusahaan lagi ga baik, ditambah Pak Jong..."

"STOP BAEK!!" seru gue memotong ucapannya. Gue bener-bener ga peduli dengan apa yang terjadi. Buat gue, perilaku Mas Dae kali ini sudah keterlaluan. Gue ga terima ditampar dengan alasan apapun.

Baekhyun segera terdiam dan memandang gue pasrah. Dia paham kalau gue sudah bicara selantang itu artinya rambu merah. Dia menghela nafas kasar, dengan manik mata masih tetap menatap gue tajam.

"Gue harap lo ga nyesel dengan keputusan yang lo ambil. Seperti yang gue katakan tadi, untuk masalah kali ini gue ada di pihak Pak Jongdae!"

"Terserah! Gue juga ga pernah minta lo untuk selalu ada di pihak gue!"

"Gue pamit. Salam buat Kimi!"

Baekhyun sudah siap beranjak tapi gerakannya terhenti dan menoleh kembali ke gue, "Satu hal lagi. Gue harap lo ga egois. Ada Kimi yang juga harus lo jadikan alasan untuk berpikir logis, bukan dramatis!"

Gue tak menatap atau membalas ucapan Baekhyun. Pun saat gue dengar dia menutup pintu mobil dengan kasar, sudah menggambarkan bahwa dia juga terbawa emosi. Entah kenapa gue semakin ingin marah ke Mas Dae, semua ini gara-gara dia. Gue bukan cuma sakit hati, sakit fisik, tapi juga merasa kehilangan sahabat terbaik.

****

"Kita harus bicara," ucapnya saat melihat gue keluar dari kamar mandi.

Masih enggan untuk menjawab atau sekadar menoleh, gue melenggang menuju meja rias. Mengoleskan toner dan serum ke wajah, berakhir dengan body lotion di sentuhan terakhir.

Dirasa cukup, gue beranjak dan melangkah keluar kamar, berniat untuk tidur di kamar Kimi seperti malam-malam kemarin. Belum sampai di depan pintu, dia sudah lebih dulu mencapai sana dan menutupnya.

Gue sama sekali tidak terkejut atau berniat memandangnya. Kedua manik mata gue masih fokus memandang daun pintu di belakang punggungnya.

"Aku bilang kita harus bicara!" ucapnya dengan penuh penekanan di setiap suku katanya.

"Hmmm, ngomong aja!"

"Mungkin terdengar klise kalau aku minta maaf. Malam itu pikiranku benar-benar kalut, ada banyak masalah di kantor. Diperkeruh dengan laporan tagihan kartu kredit kamu. Aku lepas kendali. Ucapan dan tindakan yang aku lakukan malam itu diluar kendaliku, Na. Aku sungguh minta maaf!"

Sedikit pun gue tidak berniat memandangnya. Fokus tatapan gue menerawang entah kemana meski kedua manik masih setia menghujam daun pintu. Tapi bukan berarti gue tidak mendengar semua ucapannya, bahkan deru nafasnya pun bisa masuk ke gendang telinga gue dengan baik. Pertanda bahwa dia memang memendam masalah. Sayangnya, gue sudah mati rasa. Lelah dan tidak lagi peduli.

"Kenapa kamu diam aja?" sambungnya.

"Kamu yang minta untuk bicara, aku enggak!"

"Na..."

"Sudah selesai?"

"Aku mohon..."

"Kalau untuk minta maaf lagi, mending kamu simpan aja. Sudah terlalu sering kamu minta maaf, jatuhnya jadi terkesan biasa aja buat aku. Tolong minggir, aku mau tidur!"

"Jangan tidur di kamar Kimi, disini aja!"

Gue tetap berusaha maju meraih kenop pintu. Menariknya dan kembali menutupnya dengan kasar, meninggalkan suara debam nyaring.

Saat tangan gue sudah menyentuh kenop pintu kamar Kimi, ada yang menarik sebelah tangan gue yang lain. Dia kembali menyeret gue untuk masuk ke kamar kami.

"Lepasin!! Apa-apaan sih main tarik-tarik??!" seru gue berusaha melepaskan cengkeraman tangannya. Tapi yang ada, dia semakin mengeratkan kunci jemarinya di pergelangan tangan gue.

Setelah sampai di kamar pun dia tetap tidak melepaskan tangan gue. Jelas gue semakin meronta dan parahnya dia semakin menggenggam erat.

"Sial!! Lepasin tangan gue!!!!!"

Entah karena genggamannya yang terlampau erat atau karena kegigihan gue yang berusaha untuk lepas, bisa gue rasakan kulit pergelangan tangan gue perih. Sementara dia tetap tidak merenggang sedikitpun. Jangan lupakan tatapannya yang terus menghujam gue tajam.

"Tangan gue sakit!!!! Lepasin!!!!!"

"Mau kamu gimana sekarang?"

Usaha meronta-ronta gue terhenti. Bukan karena lelah atau ingin menjawab pertanyaannya, tapi karena nada bicaranya. Ada nada putus asa dan sedikit parau disana. Dengan segala tekad gue mendongak untuk menatap matanya. Berembun dan menatap gue rapuh. Bertahun-tahun mengenalnya, baru kali ini gue melihat sorot seperti itu dari kedua obsidiannya.

"Hmmm? Mau kamu gimana sekarang?" tanyanya lagi dengan nada yang tidak berubah.

Gue mendadak kelu. Lidah gue mendadak kaku untuk sekadar berkata "terserah". Ingin rasanya gue memalingkan wajah, tapi magnet matanya seakan terus menarik gue untuk menatapnya.

"Kamu ga mau dengerin penjelasanku ataupun Baekhyun. Kamu ga mau dengar aku meminta maaf. Kamu selalu menghindar dan menganggap seolah aku ga ada. Aku tahu aku salah, tapi kamu juga ga pernah memberi aku kesempatan untuk cerita yang sebenarnya terjadi. Kamu bersikap seolah aku satu-satunya sumber dari segala kesalahan dan kamu korban".

"..."

"Pernah ga sekali aja kamu penasaran apa yang membuat aku begitu emosi malam itu? Pernah ga sedikit terlintas di benak kamu hal sulit apa yang aku lewati sampai harus sekacau itu? Atau yang paling simpel, pernah ga kamu tanya sama aku apa keadaanku baik-baik saja setelah kejadian itu? Aku juga tersakiti dan kamu ga pernah bertanya semua itu semakin membuat aku lelah".

"..."

"Sekarang mau kamu gimana? Aku ikuti apapun yang bisa bikin kamu bahagia. Hatiku jauh lebih sakit setiap hari melihat kamu tanpa senyum!"

Dia sudah membuka jalan, haruskah gue maju? Haruskah gue katakan apa yang beberapa hari ini ada di pikiran gue? Haruskah gue bersikap egois tanpa memikirkan Kimi ataupun dia?

"Hmmm? Jawab, Na. Bantu aku tahu apa yang kamu mau. Kalau kamu ga mau dengar aku meminta maaf, ijinkan aku menuruti apa yang bisa membuatmu bisa tersenyum lagi".

Masih lekat gue tatap matanya. Dia yang beberapa tahun ini begitu gue cintai. Dia yang tetiba masuk di kehidupan gue dengan cara yang unik. Dia yang selama ini berusaha untuk menunjukkan rasa cintanya, tapi dalam waktu bersamaan pula juga menyakiti gue.

Sekelebat kejadian malam itu kembali terputar di memori gue. Menyisakan rasa perih dan sakit yang tak tertahan. Gue mencintainya, menyayangi pria ini, tapi dengan luka yang terus menganga nyatanya terlalu sulit untuk terus memaafkannya.

Matanya yang sudah berembun semakin menebalkan kristal beningnya. Gue sadar bahwa kedua mata gue pun juga merasakan hal yang sama. Bulir itu sudah siap jatuh mungkin sebelum gue sempat untuk berucap.

Gue tarik pergelangan tangan yang masih ada di genggamannya. Tanpa perlawanan atau usaha keras seperti tadi, dia melepaskan kunciannya. Membuat tangan gue terkulai di sisi tubuh. Sekilas gue lirik, benar saja ada memar merah disana.

Satu tarikan nafas dan bulir itu benar terjatuh dari kedua mata gue. Sama hal dengannya, kristal itu juga menuruni pipinya saat satu kalimat akhirnya berhasil gue ucapkan.

"Ayo berpisah!"

🐤🐤🐤🐤

Apa kabar, Chingu??
Apa kabar juga untuk hati?? 😆😆
8 hari berlalu, sudah baik-baik saja kan??

Aku pun masih terus mencoba untuk baik-baik saja...
Saat ini yang membuat perih bukan lagi tentang kejujurannya, tapi semua komen negatif yang dia dapat...jauh lebih sakit membaca semua itu daripada membaca surat pengakuannya...

Tetap semangat dan beri dukungan untuk Jongdae...
Salah satu alasan aku punya semangat untuk kembali menulis adalah DIA RILIS SINGLE BARU 👏👏👏

Menampar ucapan dan perilaku haters dengan karya...SAVAGE ala Kim Jongdae 😁😁

(after) Married You ❌ KJD ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang