Thirty Seven

1.9K 122 38
                                    

Seperti biasa, pagi ini pun gue mengawali hari dengan membantu Han Ahjumma di dapur. Ada sedikit rasa malu saat bertemu beliau. Tentu saja alasannya karena beliau tahu pertengkaran gue dan Mas Dae semalam. Ditambah dengan mata sembab gue sekarang, semakin menegaskan bahwa ada yang tidak beres di rumah ini.

Kimi sudah rapi dan siap untuk sarapan. Dia sudah duduk manis di baby chair-nya sambil memegang wortel kukus kesukaannya. Han Ahjumma tidak berbicara apapun, ketara sekali dia seperti canggung. Gue pun juga malas untuk berucap. Hanya suara ocehan Kimi dan denting alat masak yang mengudara di dapur pagi ini.

Sampai gue dengar suara kursi ditarik, mendadak tubuh gue rasanya kaku. Semalaman gue memikirkan tentang apa yang dia katakan, termasuk tamparan yang sempat mendarat di pipi kiri gue. Tanpa menoleh pun bisa gue rasakan tatapannya terus mengikuti pergerakan gue di dapur.

"Aku buatin sup, makan selagi masih hangat!" ucap gue sambil menghidangkan semangkuk sup di hadapannnya.

"Na..."

"Aku ga tahu semalam kamu mabuk atau ga, tapi sup hangat bisa membuat badanmu lebih relaks!" sambung gue sambil menyendokkan nasi ke mangkuknya, lalu meletakkannya di samping mangkuk sup.

"Tentang yang sema..."

"Ini obat pengar. Sekali lagi aku ga tahu kamu mabuk atau ga, tapi mungkin kamu butuh ini," kalimat gue terus memotong ucapannya.

"Aku ga mab..."

"Kimi sayang, yuk mamam!" seru gue beralih menghampiri Kimi.

"Mamamamam!" sahutnya ceria sambil mengayunkan sisa wortel di genggamannya. Dia, satu-satunya alasan gue tetap bertahan di rumah ini. Andai tidak ada Kimi, gue akan langsung pergi dari sini.

****

Tengah hari, Kimi tidur dan gue tetap tidak bisa memejamkan mata. Badan gue rasanya lelah, semalam pun gue tidak bisa tidur nyenyak. Gue habiskan waktu untuk duduk di taman depan, sambil memikirkan semuanya.

Sempat terbersit di pikiran, gue pengen kerja. Gue pengen seperti dulu, bisa punya penghasilan sendiri tanpa harus menunggu diberi atau meminta. Tapi kalau gue kerja Kimi sama siapa? Han Ahjumma pun tidak mungkin bisa merawat Kimi sekaligus dengan melakukan pekerjaan rumah. Lagipula sejak bayi Kimi selalu bersama gue.

"Boleh saya ikut duduk disini?" sebuah suara mengagetkan gue.

"Oh ya Ahjumma, silakan!" gue sedikit bergeser, memberi ruang duduk yang cukup.

"Maaf kalau saya lancang, tapi semalam saya mendengar semuanya," ucap Han Ahjumma memulai percakapan.

"Tuan Muda memang terkadang sedikit temperamen, persis seperti Tuan Kim. Saya masih ingat, dulu waktu SMA ada seorang bapak mendatangi rumah Tuan Kim sambil marah-marah. Katanya, Tuan Muda menonjok muka anaknya hingga lebam. Ternyata alasannya, anak itu menghina keluarga Tuan Muda".

Gue masih diam, memandang lurus. Suara gemericik dari air mancur menjadi penengah. Ingin rasanya gue menangis dan berteriak sekeras mungkin. Rasanya sesak di dada gue semakin nyeri.

"Coba dibicarakan baik-baik dulu. Pasti ada alasannya kenapa Tuan Muda bersikap seperti itu. Bukan maksud saya membela Tuan Muda, tapi orang marah pasti beralasan kan?"

"Apapun alasannya, saya ini istrinya. Tentang dibentak dan dimarahi itu sudah biasa, tapi ini pertama kalinya saya ditampar. Seumur hidup saya, ini pertama kalinya ada yang menghukum saya secara fisik. Pun saya juga tidak tahu betul letak salah saya dimana?" kalimat terakhir gue ucapkan dengan suara parau, disusul bulir air mata yang lolos.

(after) Married You ❌ KJD ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang