"Tzu, apa ini?" Tanya Sana dengan memperlihatkan surat tersebut

"Mmm itu, aku hanya tidak tau kelanjutannya jadi hanya itu yang aku tulis"

"Tzuyu, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sana

"Dengar, aku butuh sesuatu dari mu" ucap Tzuyu

"Apa?" Lalu Tzuyu mengeluarkan sebuah mini poster dari kantong jas nya

"Ini, kelas dansa" ucap Tzuyu sembari memperlihatkan mini poster tersebut

"Kelas dansa??" Bingung Sana lalu mengambil mini poster itu

"Ya, ini untuk ulang tahun penikahan ibu dan ayah ku, dan aku harus menunjukan sesuatu, jangan tanya aku ok. Dengar aku tidak tau harus memberi apa, jadi kenapa tidak dengan dansa, aku perlu pasangan untuk ikut kelas. Semenjak kamu yang akan menjadi pasangan hidupku kenapa tidak dimulai dari sekarang, ya sayang" jelas Tzuyu

"Tidak" tolak Sana cepat

"Aku hanya meminta kesempatan untuk berdansa bukan untuk bercumbu"

"Tidak Tzuyu" lalu Sana melihat tatapan Tzuyu penuh harap

"Hmm baik ini adalah hal terakhir yang akan aku lakukan untuk mu ok?" Setelah mendengar perkataan Sana, Tzuyu menganggukkan kepala antusias lalu Sana meninggalkan Tzuyu segera

"Hey kawanku, itu adalah baris kalimat yang bagus" ucap Dahyun yang tiba tiba saja muncul setelah kepergian Sana

"Ya, itu karena datangnya dari sini" jawab Tzuyu sembari menunjuk dada sebelah kirinya

"Ya ya"

"Oh tuhan, aku benar benar mencintainya" ucap Tzuyu

"Aku mencintainya juga" balas Dahyun

"Hah?" Tzuyu langsung menatap Dahyun penuh tanda tanya

"Ah hanya bercanda" elak Dahyun

"Ck kau ini, bodoh, sudah aku ke kelas dulu, sampai jumpa Dahyun" ucap Tzuyu lalu meninggal Dahyun menuju kelasnya
.
.
.
Selama seminggu setelahnya Tzuyu dan Sana selalu masuk kelas dansa, dan seminggu itu juga mereka tampak lebih dekat dari sebelumnya, dan selama seminggu itu juga Dahyun berada di rumah sakit untuk melakukan terapi dengan Irene yang selalu mengecek kondisinya yang kian hari makin menurun

Di hari minggu Tzuyu mendapat paket, dan kini ia tengah membuka paket untuk tau dari siapa dan apa isi dari paket tersebut

"Oh dasi?" Ucap Tzuyu setelah mengetahui isi paket dan melihat ada surat di dalam nya

Dasi merah dan baju biru akan membuatmu seperti kamu yang baru yang berarti... Balik ke halaman ke dua..
Seperti bulu. Maaf aku tidak dapat memikirkan baris ke empat
Sana

Tzuyu yang membaca surat dari Sana sangat senang dan girang lalu mengenakan dasi baru itu lalu pergi menuju ke rumah Dahyun

Sesampainya di rumah Dahyun, Tzuyu segera masuk kekamar Dahyun karena Mama Jennie memberitahu bahwa Dahyun berada di kamarnya

"Dahyun aku mencintaimu" ucap Tzuyu setelah berada di hadapan Dahyun

"Huh?" Bingung Dahyun lalu memundurkan dirinya perlahan

"Tidak, aku benar benar mencintaimu Dahyun" ucap Tzuyu sumringah

"Terimakasih Tzuyu" ucap Dahyun sembari mengangkat kedua bahunya

"Lihat aku" ucap Tzuyu sembari menundukan kepalanya

"Kenapa?" Tanya Dahyun tanpa melihat kearah Tzuyu

"Apa yang kau lihat?" Tanya Tzuyu sekali lagi

"Tidak ada"

"Lihat ini"ucap Tzuyu sekali lagi sembari menunduk kan kepalanya kebawah

"Kenapa aku? Aku tidak mau melihatnya" jawab Dahyun

"Lihat ini, lihat dasiku" ucap Tzuyu

"Ohh maksudmu yang ini, kukira.."

"Sana memberikannya kepadaku" bangga Tzuyu

"Bagus" puji Dahyun dengan memegang dasi yang di kenakan Tzuyu

"Dengan selembar surat cinta didalam nya"

"Surat cinta, bagus sekali..bagus sekali"

"Kau... Kau berbeda kawan, jika ini bukan karena mu, ini tidak ada apa apa" puji Tzuyu

"I know i know" balas Dahyun

"Kau jenius dari lahir, kau pintar, cerdas, kau harus menulis buku 'enam hari dan gadis di hadapanmu'"

"Ngomong ngomong apa yang telah aku perintahkan untuk mu itu biasa, tapi kau juga agak beruntung karena kau.. aku...." ucap Dahyun terpotong karena melihat Sana ada di depan pintu kamarnya

"Itu semua karena kau, yaa karena kau, cintamu, kau kau dan kau haha" lanjut Dahyun

"Kau benar benar hebat, kau bahkan tidak meminta balasan" puji Tzuyu

"Tidak.. tidak... tidak..." Potong Dahyun di setiap kata yang Tzuyu ucapkan

"Dengarkan aku!" Tegas Tzuyu

"Oke" pasrah Dahyun

"Kenyataannya adalah karena kau Sana ada didalam hatiku, di dalam detak jantungku, dalam setiap nafasku..."

"Dan didalam kamarku" potong Dahyun

"Ya didalam kamarmu.... tunggu, didalam kamarmu??" Beo Tzuyu lalu Dahyun mengangguk kan kepala dan menunjuk Sana dengan dagunya

Tzuyu langsung memutar pandangannya kearah pintu dan dia melihat Sana sedang berdiri di depan pintu kamar Dahyun dengan tatapan marah dan kecewa terpancar di mata milik Sana

Lalu Sana pergi dari depan kamar Dahyun dengan keadaan marah kesal kecewa



















Tbc

Double up oke seeya

Maybe There Is No TomorrowWhere stories live. Discover now