28

2.2K 287 15
                                    

Aku berjalan menuju halte bus didekat rumahku. Niatnya sepulang sekolah aku akan membantu Calum packing barang dari rumah sakit. Tapi jika ia pulang saat bukan jam sekolah, aku ingin mampir ke toko buku.

Setengah perjalanan menuju halte, mobil hitam metalik berhenti disampingku. Reflek aku menoleh dan mencari tau siapa supirnya.

Kaca mobil itu turun dan memperlihatkan pengemudinya, "Kak Lou?".

Kak Lou memperlihatkan deretan rapi giginya, "Bareng yuk, mumpung searah". Aku langsung mengangguk dan masuk ke kursi penumpang mobilnya. Sudah lama juga aku tidak menemui Kak Lou.

"Aku kangen kamu, Kak". Ucapku saat mobil yang kami tumpangi berjalan.

"Sama, kamu ih udah taken ga bilang". Aku memang belum memberitahu siapapun jika aku sudah resmi dengan Egi. Aku bukan tipikal orang mengumbar suatu hubungan. "Siapa namanya?".

"Hehehe, namanya Egi dia anak pindahan dari Vancouver. Kita baru jadian kok tenang". Aku terkekeh

"Kok bisa sama dia? Kakak denger kamu deket sama Calum kan?". Lagi-lagi pertanyaan semacam ini terjadi.

"Dia pernah nembak aku, tapi aku tolak". Kak Lou mengerutkan alisnya dan menatapku sekilas. "Aku ga cinta sama Calum". Cuma sayang banget.

"Ga percaya, kalo kamu ga cinta sama dia". Yang ku herankan adalah, semua orang pasti bertanya seperti itu dan melihatku seperti mencintai Calum. "Lagian pasti Calum first kiss-mu".

"What? Kata siapa?". Jujur aku kaget, tidak seorangpun kecuali aku dan Calum yang tau soal ini.

"Nebak aja sih, emang bener?".

"Bukan". Bohongku, "Tapi Tom".

***

"CALISTA!". Aku menoleh ke sumber suara, dan ternyata itu Egi. Ia belum menjelaskan sama sekali tentangnya dan Zoe. "Aku bisa jelasin ke kamu". Aku tidak menjawab sama sekali ucapannya. Lebih baik diam.

"Kemarin rumahku dan Zoe kebetulan searah, kita sama sekali ga ada hubungan apa-apa. Percaya sama aku". Ia menangkup kedua tanganku. Sungguh, aku sama sekali tidak merasakan deg-degan dengan ia yang menggenggam tanganku.

"Oke, aku percaya". Tiba-tiba saja ia memelukku dan mau tak mau aku memeluknya. "Eg, boleh aku minta tolong?". Ia mengangguk, "aku bosan, nyanyikan sebuah lagu untukku".

"Aku tidak bisa menyanyi, aku hanya bisa dance". Mataku berbinar mendengar ucapannya. Ia seorang dancer?

"Serius? dance buat aku". Ia langsung mengambil posisi dan mulai menggerakkan badannya. Aku memperhatikan seluruh geraknya. Bagaimana bisa manusia semanis Egi menjadi pacar pertamaku?

Setelah selesai, aku bertepuk tangan dan ia istirahat. "Keren, Eg".

"Makasi". Ia terkekeh dengan nafas masih memburu.

"Kurang isi lagu".

"Cals, nanti mau jalan ga?".

"Kemana?".

"Kemana aja boleh". Yang aku suka dari Egi adalah ia selalu misterius. "Tapi mau ga?". Aku hanya mengangguk mengiyakan ajakannya.

***

Astagaaa.

Batinku berteriak mengingat aku berjanji pada Calum untuk membantunya packing. Tapi sekarang? Aku malah di suatu Cafe bersama Egi. Bagaimana ini?

"Kenapa Cals?". Tanya Egi. Aku hanya menggeleng dan duduk didepannya. "Mukamu seperti ada sesuatu yang dipikirkan".

"Ha? Engga. Cuma aku takut gendut, tadi di kantin aku udah makan soalnya". Bohongku.

The Reason I Love Tom : Calum HoodTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang