Transmigrating 47

408 34 2
                                        

Lilyana dan Letisha sedang duduk di kereta kuda. Hari ini, kakak beradik itu berencana pergi menemui Heavenly. Tentu saja mereka sudah membuat janji temu.

"Apa anda benar-benar tidak sibuk, Nona?" tanya Lilyana dengan sangat sopan pada gadis berusia 13 tahun yang tak lain dan bukan adalah kakaknya sendiri.

Letisha yang duduk di hadapan Lilyana tersenyum. Menggelengkan kepalanya pelan. "Jika itu untuk Rie, kakak tidak akan pernah sibuk," ucapnya.

Lilyana terdiam sejenak sebelum melempar tatapannya ke jendela. 

Entahlah. Lilyana jadi tidak yakin. Pendiriannya mulai goyah.

Apa itu benar? Apa benar Lilyana tidak keberatan jika jiwanya menghilang 10 bulan lagi? Apa dia tidak keberatan meninggalkan kehidupan kedua yang diberikan secara paksa oleh seseorang ini? Meninggalkan Duke, Duchess, dan ketiga anaknya yang memperlakukan Lilyana lebih baik dari apa yang pernah bisa dia bayangkan. 

Mereka...

Selalu menarik Lilyana meski dia mendorong dirinya sendiri menjauh.

Dan bahkan, perlakuan itu sama sekali tidak berubah meski Lilyana tidak mendapatkan penjaga. 

"Apa ada yang mengganggu pikiran Rie?" tanya Letisha.

Lilyana menoleh. Memperbaiki ekspresi wajahnya yang nampak kosong.

"Tidak. Tidak ada," jawabnya cepat.

"Kakak pandai menyimpan rahasia," balas Letisha. Senyum manis terukir di wajah cantiknya.

Meski tidak banyak bicara, adiknya bukanlah orang yang akan diam dan merenung seperti itu tanpa alasan. Diamnya bukan kebiasaan. Jadi, sudah pasti ada yang sedang ia pikirkan. Sesuatu mengganggu pikirannya, dan itu jelas bukan hal yang baik.

Lilyana menatap Letisha yang terus mempertahankan senyum di wajahnya.

Benar. Letisha akan terus tersenyum seperti itu sampai Lilyana memberitahunya.

Lilyana menghela napas. Baiklah. Mari berikan hal lain yang masih masuk akal. Karena Lilyana jelas tidak akan mungkin mengatakan yang sebenarnya. Setidaknya bukan sekarang.

"Apa Duke dan Duchess beltengkar?" tanya Lilyana. 

Dia tidak sepenuhnya berbohong. Itu memang sedikit mengganggu pikirannya dalam beberapa hari terakhir.

"Kenapa Rie berpikir seperti itu?" tanya Letisha bingung.

"Kalena Duke mengajak Tuan Muda dan bukannya Duchess untuk melakukan pemeliksaan wilayah. Lalu, Duke dan Duchess juga tidak tidul belsama. Pala pelayan yang bilang," kata Lilyana. Menjelaskan. Meski sebenarnya dia sudah tahu apa jawaban atas pertanyaannya.

Letisha tertawa pelan. Lilyana hanya mendengarkan suara tawa Letisha. Dia tahu jika pertanyaannya memang pantas ditertawakan sebelum dijawab.

"Maaf," ucap Letisha. Diiringi suara tawa setelah menahannya selama mengucapkan satu kata itu.

Setelah puas tertawa, Letisha mengusap ujung matanya yang berair. Perutnya terasa kaku.

"Ayah dan ibu tidak bertengkar. Alasan kenapa ayah mengajak Kak Xave dan bukannya Ibu adalah karena Kak Xave akan segera menggantikan posisi ayah. Jadi, tentu saja dia harus mulai belajar. Lalu, ayah dan ibu yang pisah kamar terjadi karena ada kucing yang masuk ke kamar mereka. Ibu alergi bulu kucing. Jadi, sampai para pelayan selesai membersihkan semua bulu kucing yang ada, ibu tidur di tempat lain." Letisha menjelaskan.

"Tapi, kenapa Duke tidak ikut tidul dengan Duchess?" Lilyana kembali bertanya. Kali ini, dia tidak tahu jawabannya.

"Karena ayah selalu membawa pekerjaannya yang belum selesai ke kamar, jadi ada banyak dokumen penting di kamarnya. Dan ayah tidak mau meninggalkan mereka," jawab Letisha. "Ayah bilang terlalu berisiko memindahkannya, jadi lebih baik ayah yang tetap tinggal di sana sambil menunggu kamar dibersihkan."

I'm A Transmigrating PrincessWhere stories live. Discover now