Lilyana masih saling tatap dengan paman tanpa hubungan darahnya itu. Vesuvius juga kelihatannya masih sangat betah melempar tatapan entah apa pada Lilyana. Entahlah. Tatapan mata Vesuvius pada Lilyana memang tidak bisa diprediksi. Itu nampak seperti tatapan bingung, puas, kesal, takjub, dan senang.
Perasaan pria ini benar-benar tidak bisa diprediksi hanya dari tatapan mata ataupun ekspresi wajahnya.
Apa mungkin Vesuvius adalah orang jahat?
Yah, itu mungkin saja. Secara, Duke Noewera menikah lagi dengan wanita lain setelah kakak perempuan Vesuvius meninggal. Jadi, mungkin saja Vesuvius menaruh dendam pada keluarga Duke Noewera. Tapi, kalau memang begitu...
Vesuvius tidak mungkin menunjukkan kejahatannya di depan bayi yang dia kira mengerti ucapannya.
Aduh! Kepala mungil Lilyana jadi pusing. Memang seorang bayi sebaiknya tidur dan minum susu saja.
"Aku penasaran, apa ayah dan ibumu tahu soal dirimu yang mengerti ucapanku? Karena mereka kelihatannya memperlakukanmu layaknya bayi biasa." tanya Vesuvius.
Lilyana memasang wajah bingung. Apa maksud perkataannya itu? Sedari tadi Lilyana sudah menduga kalau pria ini gila. Tapi, kelihatannya dia lebih dari sekadar gila. Dia ini sangat-sangat gila!
"Aku juga penasaran. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk membuka hatimu pada keluargamu. Rekor tercepat adalah 3 tahun. Dan, yang paling lama 5 tahun." celoteh Vesuvius.
Lilyana memang mengerti ucapan Vesuvius. Tapi, dia tidak mengerti soal arti dan arah pembicaraan ini. Di telinga Lilyana, Vesuvius terdengar seperti membicarakan omong kosong.
"Ah, satu lagi. Aku penasaran soal wujud penjagamu. Tapi, apa kamu akan mendapatkannya? Kamu pasti mengira jika keluarga ini sangat mengganggu, kan? Aku juga tahu jika kamu berencana untuk kabur setelah berusia 4 tahun. Ah, atau bahkan kamu berencana kabur setelah bisa berjalan?" Vesuvius menoel hidung kecil Lilyana dengan salah satu jarinya sebelum melanjutkan ucapannya, "Jangan memiliki pemikiran seperti itu. Karena mau bagaimana pun, kamu akan tetap menyayangi keluarga ini. Dan, kalaupun kamu memilih kabur, Duke Noewera akan melakukan apapun untuk menemukanmu."
Vesuvius tersenyum.
Ah, itu adalah senyuman yang terlihat tulus. Tapi, juga menyebalkan.
"Bagi mereka, kamu adalah segalanya. Terlepas dari rasa trauma yang kamu alami, cobalah untuk membuka hatimu sekali lagi."
Vesuvius akhirnya berhenti bicara. Membiarkan Lilyana untuk memikirkan semua kalimat yang sudah marquiss itu ucapkan.
Trauma? Trauma apa? Memangnya Lilyana pernah hidup sebelum dia menjadi seorang bayi? Hidup lagi setelah mati? Lilyana tidak percaya pada hal aneh seperti itu. Rasanya bahkan matahari terbit di tenggara itu jauh lebih masuk akal dibanding kembali hidup setelah mati. Meski begitu, entah kenapa rasanya Lilyana selalu merasa was-was. Terutama jika ada anggota keluarga Duke Noewera di sekitarnya.
Lilyana takut setiap kali seseorang melayangkan tangan di depannya. Lilyana juga takut akan kegelapan. Juga takut jika sewaktu-waktu dirinya akan dibuang.
Tapi, darimana asalnya ketakutan itu?
Lilyana hanya seorang bayi.
Seorang bayi yang seharusnya tidak mengerti apapun ketika diajak bicara.
Ah, benar. Lilyana memang terlalu cerdas untuk ukuran seorang bayi yang baru berusia 5 bulan. Ini jelas bukan hal yang normal.
"Jika kamu tidak bahagia, maka buatlah kebahagianmu sendiri. Karena rasa bahagia itu berasal dari diri sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm A Transmigrating Princess
Fantasy[Bukan Novel Terjemahan] Spin Off ITVAHM Kebahagiaan. Itu adalah kata yang sangat sulit Lilyana rasakan selama hidupnya. Tapi, di kehidupan kedua yang diberikan Avelon, naga yang mencintainya, Lilyana akhirnya bisa merasakan kebahagiaan. Clarice Ex...
