piscesinserenity
Di mata dunia, Pangeran Tae Hoon adalah aib bagi Dinasti Goryeo modern. Pangeran mahkota yang lebih sering menghiasi sampul majalah gosip daripada jurnal kenegaraan. Ia adalah perpaduan maut antara ketampanan surgawi, aroma alkohol mahal, dan deru mesin mobil balap yang memecah kesunyian malam Seoul. Ia tidak butuh tahta; ia hanya butuh kebebasan.
Namun, kebebasan itu mendadak terasa hambar saat ia bertemu dengan Park Se Na.
Se Na bukan wanita biasa yang akan tersipu hanya karena kedipan mata sang pangeran. Sebagai CEO dari SeNa Jewelry, ia adalah wanita yang membangun kerajaannya sendiri dari nol. Ia sedingin es, setajam berlian, dan sekeras baja. Baginya, pria seperti Tae Hoon hanyalah gangguan statistik dalam laporan laba ruginya.
Pertemuan mereka di pesta ulang tahun kerajaan bukan sekadar pertemuan biasa. Itu adalah benturan antara api yang tak terkendali dan es yang tak tertembus.
"Kau tahu, Se Na-ssi," bisik Tae Hoon di tengah denting musik klasik, "Bahkan berlian paling keras pun bisa hancur jika ditekan di titik yang tepat."
"Dan Anda, Pangeran," jawab Se Na tanpa emosi, "adalah jenis tekanan yang hanya akan saya buang sebagai limbah produksi."
Sejak malam itu, Tae Hoon memulai permainan paling berbahaya dalam hidupnya. Ia tidak lagi mengejar trofi di sirkuit balap. Ia mengejar senyum dari wanita yang menganggapnya tidak lebih dari sekadar "pangeran pengangguran."
Saat politik kerajaan mulai mencampuri urusan bisnis, dan musuh-musuh bisnis mulai mengincar istana, dua orang yang sama-sama keras kepala ini dipaksa untuk memilih: tetap berdiri sendiri di puncak yang dingin, atau menyerah pada tarikan magnet yang seharusnya tidak pernah ada.
Ini bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah tentang siapa yang akan bertekuk lutut lebih dulu. Sang Pangeran yang angkuh, atau sang Ratu Berlian yang beku?