🦄66

1.7K 83 0
                                    

*Aura POV
"Ada apa?" tanyaku dingin. Sangat dingin.
"Apakah kami boleh masuk?" tanya Niall.
"Hmm." tanggapku.

Sangat malas untuk berbicara dengan boys.

Boys duduk di sofa yang ada di kamarku, sedangkan aku duduk di kasur.

"Cepat berbicara. Ada apa?" desakku.
"Mm..., sebelumnya kami tahu kami salah. Ini semua yang kami lakukan untuk kebaikanmu juga." ucap Louis.

"Ouh! Untuk kebaikkanku." ucapku sambil tertawa jahat, maybe.
"Caranya seperti ini?" tanyaku lagi.

"Iy..ya mau bagaimana lagi. Kami terpa--." ucapan Louis terpotong.

"TERPAKSA. KALIAN BILANG TERPAKSA?!" reflek aku langsung berdiri dan berteriak. Dan boys ikut juga berdiri.

Sebelumnya aku sudah tenang, tapi gara gara seperti ini, aku kembali marah lagi.

"Babe, tenang dulu. Kami terpaksa melakukan ini, kalau kami meminta pendapatmu terlebih dahulu, otomatis kau menolak bukan? Sedangkan kami ingin Cindy dikeluarkan dari sekolah, supaya kau aman."

"Kalian benar. Tapi, tetap saja kalian tidak adil. Secara kalau kalian meminta pendapatku terlebih dahulu, Cindy tidak di keluarkan dari sekolah. Aura pasti menolaknya. Tentu Aura menolaknya, ini keputusan yang sangat salah. Aku ingin Cindy di kasih hukuman mungkin scors. Tapi kenapa kalian keluarkan dia. Dengan hukuman scors, pasti dia bisa berubah. Dan kalau dia tahu Aura adalah adik kalian, pasti dia tidak akan menyakitiku lagi."

Hening.

Boys terdiam kehabisan kata kata. Toh, mereka kalah kan.

"Tapi, kami semua ingin kau aman." ucap Liam.

Kesabaranku benar benar di uji lagi sekarang. Tidak puaskah mereka dengan perkataanku tadi.

"AURA TAHU ITU. TAPI KALIAN TIDAK ADIL. KALIAN MENGELUARKAN CINDY DARI SEKOLAH TANPA SEPENGETAHUANKU, SAMA SAJA KALIAN MENYAKITIKU!!"

"Sekarang keluar dari kamar Aura." ucapku dingin.

Boys masih diam menatapku dengan tatapan kecewa. Entahlah aku tak peduli.

"KELUAR!!"

Akhirnya boys keluar dari kamarku. Aku membanting pintu kamarku dan menguncinya.

Saat itu juga, air mataku kembali keluar. Aku benar benar kecewa. Sangat kecewa. I'm very disappointed with them!

Aku segera mengambil gitar yang ada di kamarku, naik ke kasur dan mrnyanyikan lagu. Aku rasa denga melakukan ini cukup membantuku.

*Louis POV
"Tapi, kami semua ingin kau aman." ucap Liam.

Aku melihat tatapan Aura yang mulai marah, lagi.

"AURA TAHU ITU. TAPI KALIAN TIDAK ADIL. KALIAN MENGELUARKAN CINDY DARI SEKOLAH TANPA SEPENGETAHUANKU. DAN ITU, SAMA SAJA KALIAN MENYAKITIKU!"

Glek.

Apa maksudnya? Kami menyakitinya? Aku merubah tatapanku menjadi kecewa. Kecewa karena ia tidak memaafkan kami, kecewa karena kami menyakitinya secara tidak langsung.

"Sekarang keluar dari kamar Aura." suruhnya.

Kami masih diam menatapnya seolah meminta ia memaafkan kami.

"KELUAR!"

Reflex kami langsung keluar dari kamar Aura. Kami berkumpul di halaman belakang, sambil menenangkan pikiran.

Sungguh, aku frustasi sekarang. Aku tidak tahu lagi mau bagaimana supaya Aura memaafkan kami.

Terlintas sejenak ide di otakku. Mungkin ini gila, tapi bagaimana lagi, aku harus melakukannya.

"Satu satunya cara agar Aura memaafkan kita adalah mengembalikan Cindy ke sekolah." ucapku pelan.

"Your carzy? Bagaimana bisa? Kak Lou ingin Aura aman kan. Ingat kata dokter Kay kemarin kak." protes Liam.

"Aku tahu itu. Lalu mau bagaimana lagi?" tanyaku.
"Kita akan meminta maaf lagi dengannya, tapi nanti. Sampai semua keadaan normal." jawab Zayn.

"Iya kak Lou. Tapi, aku mohon, jangan kembalikan Cindy ke sekolah." ucap Niall. Aku mengangguk pasrah.

Setelah itu aku naik ke atas menuju kamarku. Mungkin sebentar aku mandi untuk menenangkan pikiranku ini.

*Aura POV
Aku baru saja selesai mandi. Mandi bisa sedikit menenangkan pikiranku karena bermain dengan air. Itu menyenangkan sekali.

Setelah semua selesai, aku berniat ke bawah untuk mencari makanan. Aku baru ingat, tidak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutku hari ini, kecuali pagi tadi sarapan.

Aku membuka pintuku dan terkejut melihat mom dan dad yang sudah ada di depan pintu kamarku.

"Ada apa?" tanyaku dingin, tapi tidak sedingin dengan boys tadi.

"Sayang." ucap mom sambil mengelus pipiku. Aku hanya diam.
"Mom dan dad ingin minta maaf. Kami tahu, Aura kecewa dan marah dengan kami semua." ucap dad.

"Jelas Aura marah. Dad, mom, dan boys mengeluarkan Cindy secara sepihak saja. Cindy memang menyakitiku dad, tapi kalian bisa saja menghukum dia dengan cara scors, pasti dia akan berubah. Tapi ini?" ucapku.

"Dad tahu itu. Kami terpaksa melakukan ini, karena kami tidak in--." ucapan dad terpotong.

"Tidak mau menyakitiku lagi. I know that! Mom dan dad tahu kenapa Aura mempermasalahkan ini? Karena Aura tidak ingin masuk rumah sakit lagi. Aura tahu, pasti Cindy dan teman temannya akan mencari Aura seperti Shila dan teman temannya. Mom dan dad ingat apa yang dilakukan mereka? Aura tidak ingin merasakan itu lagi." air mataku kembali jatuh.

Aku sangat yakin, bahwa Cindy dan teman temannya akan melakukan hal yang sama seperti Shila dan teman temannya. Maka dari itu, aku sangat mempermasalahkan ini.

Mom langsung memelukku.

"Aura tidak ingin merasakannya lagi!" lirihku.

Lalu mom melepas pelukanku, "Aura mau Cindy di kembalikan ke sekolah?" tanya mom. Aku mengangguk.

"Baiklah, tapi ada syaratnya. Cindy tidak boleh mendekatimu, dad akan bilang dengan guru guru di sana, termasuk kepala sekolah, supaya mencegah Cindy mendekatimu." jelas dad.

"Tapi kan, dia sudah tahu kalau aku adik boys. Dan dia pasti tahu boys adalah anak dari pemilik sekolah." ucapku.
"Supaya kau lebih aman. Dad dan mom selalu mengingat kata kata dokter Kay kemarin." jawab mom. Aku mengangguk.

"Terimakasih mom, dad." aku memeluk mereka.
"Jadi, kau memaafkan kami?" tanya mom. Aku mengangguk tersenyum.
"Terimakasih." ucap mom.

Mom dan dad melepaskan pelukannya.
"Aura lapar mom." ucapku.

Mom dan dad tertawa? Ada yang lucu?
"Baiklah princess, mom akan memasakkanmu sesuatu." ucap mom.
"Terimakasih mom."

Aku, mom, dan dad berjalan menuju bawah. Aku dan dad duduk di ruang keluarga sambil menonton tv. Sedangkan mom ke dapur.

Aku juga memaafkan boys? Entahlah aku juga tidak tahu. Mungkin nanti aku akan memaafkan mereka, sampai mereka meminta maaf lagi denganku. Hahaha....

~~~~
Hii....
Up lagi nih.
Gimana ceritanya? Jelas kan
Jangan lupa vote dan komen.
Terimakasih💙

POSSESSIVE FAMILYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang