🦄43

2.6K 99 6
                                    

Aku terbangun dari tidurku karena merasakan ada yang menindihi tubuhku. Berat sekali!!

Aku membuka mataku, ternyata Zayn.
"Good afternoon, sayang." sapa Zayn sambil menciumku.
"Tubuh kakak berat sekali." ucapku. Zayn terkekeh.

Lalu Zayn turun dari tubuhku, dan berbaring di sebelahku.
"Bangun cepat, kau belum makan siang. Ini sudah sore." ucap Louis keluar dari kamar mandi.
"Aye aye captain." balasku.

Aku menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku. Setelah sudah, keluar lagi.
"Aura makan apa?" tanyaku.
"Apakah tenggorokanmu masih sakit?" tanya Liam.
"Sedikit." balasku.
"Itu ada pancake, tidak keras kok." ucap Liam. Aku mengangguk.

Aku langsung melahap pancake ini. Sudah lama aku tidak memakannya. Pancakenya lembut, jadi aku bisa menelannya.

"Sekarang minum obatmu." ucap Louis.
"Cair kan?" tanyaku. Louis mengangguk.

Setelah minum obat, aku kembali ke kasur sambil memainkan ponselku. Tapi gara gara Zayn, aku tidak fokus ke ponselku. Menyebalkan.

Dia selalu mengangguku dengan cara meniup nafasnya ke arahku, geli jadinya.
"Kak Zayn!" gerutku. Dia malah tertawa.
"Zayn, jangan ganggu adikmu." ucap Louis.
"Baiklah." ucap Zayn. Aku tertawa.

Lalu Louis duduk di depanku.
"Besok pagi kita pulang." ucap Louis.
"Kenapa?" tanyaku.
"Nanti, 1 minggu sebelum konser kita ke sini lagi. Sayang kan kalau kita meninggalkan sekolah." jelas Louis. Aku mengangguk.
"Yasudah, malam ini makan bersama D-Aur dan yang lainnya." ucap Louis.
"Oke."

Uh.., aku sangat bosan di kamar terus. Aku ingin jalan jalan.
"Boys, aku bosan!" gerutku.
"Lalu, mau apa?" tanya Niall.
"Jalan jalan yuk.." ajakku. Boys menggeleng.
"Kau masih sakit." ucap mereka serempak.

Aku memutar bola mataku malas.
"Baiklah, aku ingin ke tempat latihan." ucapku.
"Ngapain?" tanya Zayn.
"Latihan dance." balasku.
"Jangan macam macam, sayang." ucap Liam.
"Okay!!" finalku.

Menyebalkan, aku kan bosan. Akhirnya aku kembali memainkan ponselku.

Tiba tiba, ada yang mengetuk pintu kamar, lalu Louis membukakannya. Ternyata uncle Raka.

"Aura, apakah kau sudah bisa bernyanyi?" tanya uncle raka.
"Sepertinya bisa." jawabku.
"Oke, sekarang ke studio. Ada yang harus di perjelas lagi, uncle tadi mendengar rekama suaramu. Ada beberapa bagian yang lepas tempo." jelas uncle Raka. Aku mengangguk.

Aku pun berjalan di belakang uncle Raka, dengan boys juga tentunya. Sampai di studio, aku langsung rekaman ulang.

Akhirnya aku bisa melepaskan rasa bosanku dengan menyanyi di studio. Setelah selesai rekaman, uncle Raka memutar kembali rekamanku yang tadi.

"Ok, sempurna. Terimakasih Aura." ucap uncle Raka.
Aku terkekeh, "Sama sama."

Lalu aku dan boys kembali ke kamar. Ini sudah jam 19.46.
"Siap siap untuk makan malam." ucap Louis.

Aku mengambil baju dari tasku, lalu masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.

Selesai mandi, memakai baju, hnya tshirt putih dan overall denim dress berwarna pink.

Menyisir dan mengikat rambutku, memberikan polesan bedak dan lipstik. Lalu keluar dari kamar mandi.

Setelah aku mandi, selanjutnya giliran boys yang mandi. Setelah semua selesai, kami langsung turun ke bawah.

Di bawah, sudah terkumpul D-Aur dan lainnya.
"Good night!!" sapaku.
"Night too." balas mereka.

Aku duduk di samping Liam. Aku melihat ke arah makanan, apakah tidak ada sup atau yang lainnya?

Bagaimana aku bisa makan, kalau makanannya ayam, kepiting, dan lain sebagainya. Ahh..., menyebalkan.

"Kak Liam, Aura harus makan apa?" tanyaku.
"Apakah di sini tidak ada sup?" tanya Liam. Aku menggeleng.
"Yasudah, Aura pesan cream sup dulu." ucapku.
"Hati hati." ucap Liam.

Aku memesan cream sup di restoran yang ada di karantina. Cukup jauh sih, tapi tak apa, daripada aku kelaparan.

Saat ingin memesan makanan, tiba tiba ada yang menarikku menjauhi restoran.

Siapa yang membawaku? Aku mencoba memberontak, tetapi tenagaku tidak cukup untuk itu, aku masih sakit!!

Seseorang itu membawaku keluar dari karantina melalui jalan belakang.
"SIAPA KAU!!" teriaku.
"SHUT UP!!" teriaknya. Aku tidak membalasnya lagi.

Aku di bawa masuk ke dalam sebuah rumah tua. God!! Dimana ini? Aku takut.

Lalu aku di dudukkan di kursi dengan tangan dan kakiku di ikat.
"Mau apa kalian?" tanyaku.
"Kill you!!" balas orang itu.

Oh my good!! Siapapun tolong aku!
"Why?" tanyaku.
"Asal kau tahu, gara gara kakakmu. Aku jadi di keluarkan dari sekolah." ucapnya.
"Siapa?" tanyaku.
"Kakak kakakmu!! Apakah kau ingat, aku dan dua temanku membullymu di sekolah?" tanyanya.

Aku sedikit memikirkan kejadian itu. Ahh, aku ingat sekarang!! Gara gara mereka aku jadi koma di rumah sakit. Dan apa mau mereka kali ini?

"KAU!!" teriakku.
Dia tertawa, "Ya, kenapa? Kaget?" tanyanya.
"Lepaskan aku." mohonku.
"Tidak akan, sampai kau mati terlebih dahulu. Baru aku lepaskan kau." ucapnya.

Aku mohon, siapapun tolong aku. Aku benar benar takut sekarang. Dia membullyku saat aku sedang mengambil ponsel di loker. Kalau tidak salah namanya Vita, Sasha, dan satunya Shila.

Lalu ia menepuk tangannya, dan muncullah 2 orang di hadapanku. God!! Ini benar benar orangnya. Ternyata mereka tetap bersama.

"Hai Aura, bagaimana kabarmu? Apakah kau senang bertemu kembali dengan kami?" tanya Shila. Aku tidak menjawabnya.

"Aku tanya sekali lagi, apakah kau senang bertemu kembali dengan kami?" tanyanya lagi. Aku masih diam.

"JAWAB BODOH!!" teriaknya. Aku menutup mataku. Help me please!!

"Tidak terlalu." balasku.
Mereka bertiga teratwa, "Tidak terlalu katanya." ucap Vita.

"Apakah kau tahu, gara gara kakakmu kami bertiga di keluarkan dari sekolah." ucap Vita.
"Itu karena perbuatan kalian juga." ucapku yang mulai menangis.

Plak!!

"Aww!!" jeritku.

Sasha menamparku dengan keras, jangan tanya ini sakit apa tidak? Sakit sekali.

"Aku tidak ingin tangismu bodoh, aku ingin pertanggung jawaban!!" ucap Sasha.
"Guys? Apakah aku menamparnya sangat keras sampai sampai ia menangis?" tanya Sasha.
"Aku rasa tidak." balas Shila.
"Baiklah, akan aku coba sekali lagi." ucap Sasha.

Aku melebarkan mataku. Aku tidak bisa bergerak. Sekarang mulutku di tutup dengan pelekat.

Plak!!

Ok, fine. Dia menamparku kembali, tolong aku tidak tahan lagi, ini sakit sekali!!

***
*Liam POV
Lama sekali Aura memesan cream sup. Aku akan menyusulnya. Aku beranjak dari tempatku dan menuju restoran yang ada di karantina.

"Permisi?" ucapku kepada pelayan di sini. Penjaga pesanan.
"Iya, ada apa?" tanyanya.
"Apakah tadi ada seorang perempuan memakai baju overall denim pink, memesan di sini?" tanyaku.
"Tidak ada. Saya tidak melihatnya." balasnya.

God!!

"Kalau yang lainnya?" tanyaku lagi.
"Tidak ada, dari tadi saya yang menjaga pesanan di sini." ucapnya.
"Baiklah terimakasih." ucapku.

Aku kembali bergabung bersama boys dan D-Aur. Kemana Aura? Aku khawatir dengannya!! Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?

Aku langsung berbicara dengan Louis, karena aku benar benar khawatir dengannya.

"Kak Lou?" panggilku.
"Ada apa?" tanggapnya.
"Emm..." aku ragu ragu untuk mengucapkannya.
"Hey, ada apa?" tanya Louis sambil memegang pundakku.
"Aura hilang." ucapku.

~~~~
Haii...
Up lagi nih :)

Gimana hari ini puasanya? Lancar gak?

Ceritanya jelas aja kan?
Don't forget to vote dan comment :))
Thank you💗

POSSESSIVE FAMILYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang