🦄20

5.9K 177 5
                                    

Sampai di rumah sakit, aku langsung menggendong Aura masuk ke dalam rumah sakit. Beberapa suster keluar dan membantuku. Setelah itu Aura di bawa masuk ke ruang IGD.

*Louis POV
Kami sangat panik sekarang. Aku tidak suka kalau adikku disakiti seperti itu. Kami saja tidak pernah memperlakukannya begitu. Kenapa orang lain berani.

Sekarang aku menelepon dad untuk menceritakan kejadian ini, dan memberitahu orang yang tadi membully Aura, supaya mereka di hukum yang setara dengan Aura.

Aku tidak tega dengan keadaan Aura tadi. Hidungnya mengeluarkan darah, luka lebam dimana mana dan dia tidak sadarkan diri.

Di situ, emosiku mulai memuncak. Akan ku balas mereka nanti. Lihat saja.

Tak lama, seorang dokter paruh baya keluar dari ruang periksa. Kami langsung mendekatinya.
"Bagaimana keadaan adik kami dok?" tanyaku.
"Keadaannya sangat kritis." jawab dokter itu.

SHITT!!!!

Aku tidak terima ini, sudah dua kali Aura mengalami hal ini.
"Lakukan yang terbaik untuknya dok." pinta Liam.
"Kami akan berusaha, tapi kami tidak tahu kapan Aura akan sadar, kalian berdoa saja." ucap dokter itu.
"Baiklah, terimakasih dokter." ucap Harry.

Aku langsung terduduk di lantai dengan air mata yang sudah membasahi pipiku.

Boys langsung menolongku.
"Hey.., stay strong Lou." ucap Liam berusaha tenang. Padahal aku tahu ia juga tidak tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang, hah?!!" emosiku mulai meningkat.
"Lou, tenangkan dirimu. Kita sama sama terpukul dengan keadaan Aura." ucap Zayn.
"Ya, aku tahu itu." ucapku kembali tenang.
"Ayo Lou, kita masuk ke dalam." ajak Liam sambil mengulurkan tangannya ke arahku.

Aku pun menerima uluran tangan Liam dan kembali berdiri. Lalu kami masuk ke dalam untuk melihat keadaan Aura.

Sekarang Aura sudah di pindahkan ke ruangan biasa. Kami pun masuk ke dalam, pandanganku langsung tertuju pada adikku.

Dia terbaring lemah, banyak alat medis yang melekat di tubuhnya. Good, aku tidak tega dengannya.

Kami mendekat ke arah Aura. Aku mengelus rambutnya.
"Strong babe, kak Lou tau pasti kau bisa menghadapi semua ini." ucapku sambil menyeka air mata sialan ini.

Dari tadi, Niall mengusap punggungku. Dia memang selalu bisa menenangkanku saat aku seperti ini.

Setelan itu kami langsung beristirahat. Tadi Harry dan Liam pulang ke rumah untuk membawakan baju kami dan membelikan makanan untuk stok di sini.

***
Sudah lima hari Aura di rawat di sini. Tapi ia tak kunjung sadar. Masa kritisnya belum juga terlewati. Kami frustasi dengan keadaan Aura yang tak kunjung membaik.

Aku berjalan mendekat ke arah Aura. Mengelus rambutnya.
"Babe, kau kapan sadar? Kami semua merindukanmu." ucapku lirih.

Tiba tiba mesin EKG berbunyi kencang dan gambar yang tertera di sana menjadi bentuk garis.

TIITT......

Aku langsung memanggil dokter. Aku panik sekarang.
"Mohon tunggu di luar, kami ingin menanganinya." ucap suster itu.

Terpaksa aku keluar, di luar aku melihat boys berjalan menuju ke arahku.
"Hey Lou, ada apa?" tanya Liam.
"Aura." ucapku tertunduk.
"Ada apa dengan Aura?! Cepat katakan!" ucap Liam tajam.
"Detak jantungnya tidak ada, gambar yang tertera di mesin EKG berbentuk garis." ucapku lemah.

*Liam POV
APA!!

Tidak mungkin.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanyaku panik.
"Dokter masih menanganinya." balas Louis.

Shitt!!!
Cobaan apa lagi ini. Aku tidak mau Aura meninggalkan kami semua. Aku mau Aura sembuh.

Sekarang bukan aku saja yang panik, tapi boys yang lain juga panik. Bagaimana, dari tadi dokter belum juga keluar.

Kami tidak tenang sekarang. Bagaimana kalau Aura tidak selamat. Bagaimana Aura meninggalkan kami. Oh good!! Liam, apa yang kau pikirkan.

Kami menunggu hampir 30 menit, lalu seorang dokter keluar dari ruang Aura.

Kami langsung mendekatinya.
"Bagaimana keadaan adik kami dok?" tanya Zayn.
"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi adik kalian tidak bisa kami selamatkan. Kanker yang dialaminya sangat kuat, di tambah lagi dengan kejadian kemarin. Maaf." jelas dokter itu.

Apa? Aura tidak selamat? Tidak tidak, ini pasti mimpi!!

"Tidak dok!! Tolong periksa sekali lagi, telitilah sedikit!!" ucap Louis emosi.
"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik." ucap dokter itu, lalu mereka pergi untuk menangani Aura.
"Tidak, ini tidak mungkin kan Liam." ucap Lou sambil menangis.

Bukan hanya Lou yang menangis, tapi kami semua yang menangis. Kami tidak terima semua ini.
"Tidak Lou, kau harus tegar." ucap Harry.
"Tidak mungkin, ini pasti mimpi." ucap Lou.

Ya, ku akui sekarang Louis pasti shok mendengar semua ini. Kami membantu Louis untuk bangun dan mengurus semua untuk pemakaman Aura.

*Zayn POV
Sekarang kami berada di depan peti. Sebentar lagi acara pemakaman Aura dilaksanakan. Tinggal menunggu Louis.

Kami semua tidak bisa terima ini. Adik kami, Aura. Entahlah, andai saja tuhan bisa memutar waktu. Tapi apa bisa, kami harus bisa merelakan Aura.

Akhirnya Lou datang dengan Liam. Diantara kami, Lou yang paling keberatan untuk semua ini. Walaupun kami juga.

Acara pemakaman pun dimulai. Di sini ada mom dan dad juga, serta keluarga besarku.

Sekitar 30 menit. Akhirnya proses pemakaman pun selesai, sekarang kami mendekat ke sebuah gundukan tanah.

Kami berjongkok dan mengelus papan nisan.

*Niall POV
Aku masih tidak terima kalau Aura diambil duluan. Tapi apa yang harus kami lakukan, saat ini kami cuma bisa mendoakan Aura saja.

Setelah pemakaman selesai, kami berjalan mendekat ke arah gundukan tanah dan mengelus papan nisan.

"Can't believe, if you leave us forever." ucap Louis.
"Kenapa babe?" tanya Louis lagi.
Lou adalah orang yang paling frustasi dalam hal ini. Lou bilang ke kami waktu sebelum acara pemakaman Aura. Louis bilang kalau dia ingin ikut Aura saja, kami kaget ketika Liam menceritakan ini semua.

"Tenang Lou." ucap Zayn sambil mengusap punggungnya.
"Kita sama sama merasakan kehilangan Lou, apapun yang terjadi sekarang, kita harus merelakannya. Mungkin Aura sudah tidak tahan dengan penyakitnya itu, maka dari itu Aura meninggalkan kita semua duluan, supaya ia tidak merasakan sakit dari penyakitnya." jelas Liam yang di balas dengan anggukkan oleh kami.

"We have to be strong, apapun yang terjadi, ok." ucap Liam lagi.
Louis dari tadi hanya terdiam, mendengarkan kami berbicara.

Tak lama, mom dam dad mendekat ke arah kita, lebih tepatnya ke arah Aura.
"Hai sayang, yang tenang kamu di sana ya, walaupun mom dan dad belum bisa percaya akan semua hal ini. Mom, dad, dan kakakmu akan selalu mendoaknmu. Mom dan dad pulang dulu. See you dear, mom and dad will always love you." ucap mom.

Setelah itu mom dan dad pergi. Tadi dad menyuruh kami pulang. Tapi kami jawab nanti saja.

"Aura Claraflesya Palvin Putri Madison. We, your brother, are very devastated by your departure." ucap Louis lalu pergi.
Aku tahu ia sangat terpukul.

"Babe, kami pulang dulu, yang tenang di sana, kami akan selalu menyayangimu. I love you honey." ucap kami lalu pergi, karena hari sudah mulai gelap.

~~~~
Hailooo....
Gimana ceritanya?
Kalo bagus, vote dan komen ya..
Tenang, masih ada part lanjutannya kok :))
Enjoy the story.
Makasih❤❤

POSSESSIVE FAMILYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang