13

1.3K 134 2

Sudah satu minggu Baril mengacuhkan kekasihnya. Rachel ingin tahu apa yang membuat pria itu berubah tidak seperti biasanya. Rasanya tidak enak diacuhkan. Selama seminggu ini gadis itu merasa sakit hati. Rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena hanya hati dan perasaannya yang rasa. Bahkan logikanya seperti berhenti berjalan. Yang Rachel lakukan hanya terus mendesak pria itu agar menjelaskan apa salah yang dia perbuat.

"Jelasin ke aku dong. Aku perlu tahu alasan Mas acuhin aku"

Baril tidak merespon. Dia berjalan lurus ke parkiran dan mengabaikan Rachel.

"Mas Baril jangan kayak cewek. Kalau aku salah aku minta maaf. Tapi jelasin dulu apa penyebabnya" Baril berhenti. Dia tidak suka disamakan sebagai seorang perempuan.

"Hari minggu lalu saya lihat kamu jalan sama cowok"

Rachel kaget. Minggu lalu dia pergi memancing dengan keluarganya. Apa mungkin Baril juga ada disana. Jika Baril memang ada disana, pasti cowok yang dimaksudnya adalah Daryl. Selama ini Rachel sudah berhasil menutupi latar belakangnya dari pria itu. Bahkan Sandra juga sudah berjanji akan merahasiakan hal itu.

"Hah? Aku jalan sama cowok?" tanya Rachel. Dia pura-pura tidak tahu.

"Kamu pernah ketemu dia di galerinya Dandi" benar dugaan Rachel, cowok yang dimaksud adalah Daryl.

"Kayaknya Mas Baril salah lihat deh. Hari minggu aku gak kemana-mana kok. Aku cuma tiduran di rumah"

Baril menatap kecewa pada gadis itu. Dia melihat Rachel dengan jelas. Dan sekarang yang dia kecewakan adalah kebohongan gadis itu. Selama ini Baril selalu mempercayai Rachel, tetapi gadis itu tidak bisa melakukan hal yang sama padanya. Dia selalu mencurahkan isi hati dan pikirannya agar gadis itu bisa berbagi solusi. Dia juga menceritakan semua masalah keluarganya pada Rachel. Baril selalu menceritakan tentang gadis itu pada kedua orangtuanya yang disambut antusias, bahkan kedua orangtuanya sangat ingin mengenal Rachel. Tetapi selama ini Rachel selalu menolak dengan halus, alasannya dia belum siap dan malu. Baril kembali mengingat apa yang telah mereka jalani selama ini, apakah hanya dia yang mencintai gadis itu?

"Mending kita break dulu"

Baril masuk ke dalam mobil kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rachel sendiri. Rachel merasa terpukul. Dia tidak tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini.

Pertama dia merasa Baril-lah yang salah karena mengacuhkan dia tanpa sebab. Sekarang dia tidak tahu siapa yang patut disalahkan. Rachel tidak ingin mengenalkan Johan sebagai Ayahnya. Dia tidak ingin orang-orang akan bertanya ada hubungan apa dia dan pria kaya raya itu. Rachel tidak ingin orang tahu kalau pria paru baya itu pernah berselingkuh. Walaupun itu adalah masa lalu, tetapi dia tidak ingin Johan memiliki citra buruk. Itulah yang selama ini Rachel takutkan.

Sekarang Baril jadi salah paham padanya. Dia tidak ada maksud berselingkuh sama sekali. Karena saat ini dia berpacaran dengan Baril, Rachel tidak ada niat melirik pria lain. Walaupun Rachel tahu kalau dia sangat mengecewakan, tetapi mau bagaimana lagi. Dia memang tidak bisa mengatakan semuanya pada Baril. Tidak tahu mengapa, dia belum bisa berbagi rahasia dengan pria itu.

...

"Kali ini apalagi?"

Alena menatap Daryl yang uring-uringan di sofanya. Masih dengan setelan jas lengkap, Daryl menghabiskan sekitar satu jam hanya untuk menonton televisi di rumah Alena. Sudah biasa bagi Alena, tetapi tetap saja mengesalkan.

"Mending kamu pulang saja deh, dari pada nyempit-nyempitin rumah orang" kata Alena sewot. Walaupun Daryl adalah bos suaminya, Alena tidak pernah berbicara sopan pada pria itu mengingat umur mereka yang sama.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!