11

1.4K 120 3

Apa sih maunya pria paru baya itu? Entah mengapa Daryl tidak suka mendengar kata-kata Johan. Dia hanya memberi masukan karena tingkah Rachel, dia tidak bermaksud agar mencarikan pria yang lain untuk gadis itu. Sekarang Ayahnya malah menambah beban padanya.

Dia bahagia karena Johan bersedia menerima sarannya, tetapi dia juga kesal karena satu hal. Untuk apa mencarikan gadis itu pendamping. Rachel sudah besar dan bisa mencari kekasihnya sendiri. Tetapi gadis itu butuh bantuannya agar tidak lagi mencari lelaki yang berumur. Anehnya, Daryl tidak suka gadis itu menemukan seseorang yang cocok. Dia lebih senang Rachel tidak memiliki kekasih sama sekali.

"Bibi Noor, tolong panggilkan Rachel"

Daryl masih berkutat di depan laptopnya. Dia membawa pulang semua pekerjaan kantornya ke rumah. Ada beberapa dokumen yang perlu dia tanda tangani dan review kembali. Tak lama seseorang masuk ke dalam ruang kerjanya.

"Ada apa memanggilku malam-malam?" Rachel sudah memakai pakaian tidurnya lengkap.

"Saya perlu memberitahumu sesuatu" kata Daryl serius. Lantas Rachel duduk di sebuah kursi dan menatap pria itu penasaran.

"Sebaiknya segera akhiri hubunganmu dengan pria itu. Ayah juga sudah tahu hubungan kalian, dan menyerahkan tanggung jawab kepada saya" jelas Daryl. Okay, mood Rachel memburuk. Dia tidak suka diatur-atur seperti ini.

"Apa salahnya saya pacaran dengan Baril? He is nice" Rachel menatap marah pria itu. Selama ini hubungan yang dijalinnya dengan Baril baik-baik saja dan dia tidak bisa memutuskan pria itu seenaknya.

"Kalian beda 10 tahun. Bahkan dia lebih tua dari saya" tambah Daryl tak mau kalah.

"Terus saya harus bagaimana? Saya harus pacaran dengan kamu hanya karena kamu lebih muda dari Baril?"

"Itu lebih bagus ketimbang kamu pacaran sama dia" dari mana pula pemikiran itu datang. Daryl merutuki dirinya karena bicara dengan seenaknya.

"Kalau kamu cuma mau bilang itu lebih baik lupakan saja! Saya tidak akan putus dengan Baril!"

Rachel keluar dari kamar sambil membanting pintu dengan kasar. Daryl melihat gadis itu pergi. Daryl mengacak-acak rambutnya gusar.

Malam itu Daryl merenung. Rachel memang punya hak untuk dirinya sendiri. Karena hanya gadis itu yang harus memilih jalan hidupnya. Daryl tidak boleh mengekang gadis itu. Tetapi Daryl sadar kalau dia memang egois. Dia hanya orang yang tinggal satu atap dengan gadis itu, tetapi dia tidak ingin membiarkan gadis itu bebas. Bukan artian dia ingin mengikat gadis itu di kamar, Daryl hanya tidak suka melihat Rachel memiliki kekasih.

Daryl ragu dengan hatinya sendiri. Apakah ini pertanda kalau dia menyukai gadis itu? Kalau iya kenapa dia bisa menyukai gadis itu? Padahal Ibu kandung gadis itu adalah selingkuhan ayahnya dulu. Harusnya Daryl membenci gadis itu bukan. Apakah ini semua karena Ibunya? Miranda yang mengajarkan Daryl agar ikut menyayangi Rachel kecil. Kalau seperti itu apakah rasa sayangnya kali ini sudah berlebihan? Daryl menyayangi gadis itu sebagai seorang pria?

"Kenapa harus dia" gumam Daryl.

...

Rachel sangat kesal pada pria itu. Baru beberapa hari Daryl bersikap baik padanya, tetapi malam ini dia kembali menjadi Daryl yang menyebalkan. Kenapa pula Daryl masih suka mencampuri urusan percintaannya.

Tok tok tok

"Rachel?" Johan muncul di balik pintu. Pria paru baya itu datang menjenguk anak gadisnya. Tadi dia sempat mendengar rebut-ribut di lantai atas. Dia juga mendengar bunyi pintu yang dibanting. Johan sudah menebak kalau kedua anaknya itu sedang berkelahi.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!