5

1.7K 153 7

"Jangan dipikirkan, tanah di sana memang kurang bagus dan akan sangat merugikan. Konsultan saya bahkan langsung membuang kertas lampiran yang diajukan dari mereka, terus..." dan selama empatpuluh menit pertama hanya masalah pekerjaan yang dibahas oleh pria-pria yang duduk di meja ini. Daryl hanya ikut mengangguk dan tertawa renyah dengan ocehan mereka.

Bibi Noor sibuk berceloteh dengan Tante Marla tentang bagaimana gemparnya dunia infotaiment saat ini. Bibi Noor dan Tante Marla memang sudah dekat dan cukup akrab mengingat dulu Bibi Noorlah yang menolong Tante Marla melahirkan anak kembar itu.

Rachel menghilang dari limabelas menit yang lalu ke toilet dan sampai sekarang tak kunjung kembali. Orang-orang disekitar tak ada yang sadar. Bahkan Gifar yang kecanduan dengan tampang malaikat Rachelpun berhasil melupakan gadis itu dan sibuk bermain dengan ipad milik Daryl.

"Saya permisi ke belakang" Daryl berdiri dan meninggalkan tempat itu dengan wajah kusut. Walaupun makanan di Tatemukai restoran ini sangat menggugah selera, mood pria itu tak bisa diperbaiki dengan makanan.

Daryl berdiri gusar di depan toilet wanita dan menunggu seseorang. Beberapa orang wanita keluar dari tempat itu dan menatap kearah Daryl dengan heran.

Terlalu lama baginya untuk berdiri dan membiarkan dirinya menahan malu seperti ini, dengan hati-hati ia melangkah ke dalam toilet wanita itu setelah memastikan sudah tak ada orang asing lagi di dalam sana.

Beruntung hanya sedikit pengunjung di restoran ini, dan begitu pula hanya akan ada sedikit orang pula yang datang ke dalam toilet terkutuk ini.

"Rachel?" Daryl mengetuk-ngetuk bilik pintu toilet dengan pelan dan ia juga mengulang-ulangi nama gadis itu.

Tak ada sahutan di pintu pertama hingga kedua dan ia dapat memastikan kalau keduanya kosong mengingat kedua pintu itu tidak terkunci. Kini sisa satu pintu yang belum diketuknya dan merupakan satu-satunya pintu yang terkunci.

"Rachel? You there?" Daryl berbicara setengah berbisik. Ia sudah benar-benar yakin kalau orang yang ada di balik pintu ini adalah Rachel. Bau lily of the valley milik Rachel, pikir pria itu.

Rachel memiliki aroma bunga lily yang sangat lembut dan menarik di indra penciuman Daryl. Dan pria itu tahu kalau Rachel menggunakan parfum Elizabeth Arden 5th Avenue.

"Rachel.. hei.." sekali lagi Daryl mengetuk-ngetuk pintu toilet itu hingga tangannya terhenti di udara karena sebuah suara serak.

"Da..ryl?" tak terlalu jelas tetapi Daryl memahaminya. Itu suara Rachel.

"Are you okay? Kamu ngapain di dalam sana dan gak keluar-keluar?" raut wajah Daryl berubah cemas. Ia sudah menduga ada yang tidak beres.

"Saya lupa.." Rachel menggantungkan kalimatnya. Gadis itu berpikir keras apakah ia perlu untuk memberitahu Daryl atau tidak.

"Hei! Kamu lupa apa?" Daryl berdiri gelisah.

"Aduh.. saya gak bisa ngasih tau kamu" Rachel tak bisa berpikir jernih. Kondisi perutnya terlalu perih dan meminta perhatian lebih.

"Kalau begitu cepat keluar, atau perlu saya dobrak?!" Daryl sudah bersiap-siap dengan posisinya ketika gadis itu tak kunjung membuka mulut.

"Satu, dua..., tig.."

"Stop it!!! Stop it Daryl! Okay!" Rachel tidak mau tertangkap basah sedang duduk di atas kloset tanpa mengenakan celana dalam.

Daryl kemudian berdiri tegak dan menyandarkan dirinya ke dinding, menunggu gadis itu mau membuka suaranya.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!