1

3.8K 238 3

Makan malam di rumah ini seperti biasa selalu mencekam. Tak ada celotehan atau basa basi seperti sapaan yang diucapkan orang rumah kepada Rachel, kecuali dari ayahnya.

Rachel meletakkan gelas kacanya dengan hati-hati takut kejadian kemarin terulang lagi. Ia tidak ingin mencari gara-gara dengan kakak tirinya, ralat, Daryl bukanlah 'kakak tirinya' melainkan anak dari orang yang dipanggil ayah olehnya.

Ia kembali teringat ketika tanpa sengaja ia membuat suara berisik saat meletakkan gelasnya. "Apa kamu bisa lebih sopan?" hanya teguran dengan pelototan yang membuatnya susah menelan ludah.

"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Hari ini ayahnya sedang tidak berada di rumah karena urusan bisnis, membuat Rachel harus ekstra kebal menghadapi Daryl selama seminggu ke depan. Hanya untuk pagi hari dan malam hari saja, ucapnya dalam hati.

Pagi hari dimana mereka akan sarapan dan malam hari disaat mereka makan malam. Pada siang hari mereka akan berpisah karena Daryl sibuk dengan urusan perusahaan dan Rachel yang sibuk kuliah.

"Kamu sudah harus pergi?" Rachel bangkit berdiri mengikuti langkah Daryl yang super panjang. Pria itu meraih dasi yang tersampir di atas sofa putih. Ia mencoba mengikat dasinya dengan susah payah, Rachel yang memahami kebiasaan Daryl hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya.

"Biar saya bantu, kalau diijinin" Rachel meraih dasi berwarna biru tua itu namun dengan sigap Daryl menghempaskan tangannya menolak bantuan 'adiknya' itu. Rachel yang mengerti dengan tatapan tidak suka yang dilemparkan kepadanya.

"Bibi Noor," wanita paru baya yang merasa namanya dipanggil datang dari balik dapur menghapiri Daryl. Pria itu membisikan sesuatu yang dijawab dengan anggukan sekilas. Kemudian dia pergi melangkah keluar pintu disusul Rachel dan Bibi Noor.

"Hati-hati" kata Rachel sembari menatap punggung Daryl yang menghilang di dalam mobil BMW i8 miliknya. Setelah itu ia melangkah kembali ke meja makan untuk menghabiskan sarapannya.

"Mbak Rachel makan yang banyak, akhir-akhir ini Mbak Rachel kelihatan tambah kurus. Kalau makanan di piring Mbak masih terisi, nanti saya dimarahi Mas Daryl" kata bibi Noor sambil menuangkan segelas susu coklat. Rachel tersenyum tulus menerima perlakuan baik dari pembantu rumah tangga satu-satunya di mansion ini.

"I know. Setelah Mas Daryl memarahi bibi, maka selanjutnya saya yang akan dia marahi" setelah itu mereka tertawa bersama. Rachel merasa lega jika sudah bergurau dengan Bibi Noor. Karena di mansion ini Bibi Noor hanya akan berbicara kepada Rachel pada saat hanya ada mereka berdua atau pada saat hanya ada Rachel dan ayahnya, Johan Ricardson.

"Hari ini saya akan pulang agak malam, tolong beritahu Mas Daryl untuk makan duluan saja" kata Rachel, ia melanjutkan suapan terakhir ke mulutnya. Setelah itu ia menghabiskan susu coklatnya hingga bersih karena diplototi bibi Noor.

"Iya, nanti bibi sampaikan" Rachel mengangguk kemudian bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan ke pintu keluar. "Bi saya pergi. Kalau perlu sesuatu atau ada apa-apa telefon saja saya".

...

Keadaan kampus pagi ini cukup ramai mengingat jadwal ujian tengah semester baru saja di mulai. Kesibukan di sana-sini membuat Rachel mengerutkan keningnya. Ia tersadar bahwa ia adalah satu-satunya mahasiswa yang hanya membaca novel sambil mendengar lagu menggunakan earphone. Perasaannya mulai was-was "Hei, kenapa pagi ini kalian terlihat sedikit lebih sibuk dari biasanya?" kini dalam hati Rachel mulai berdoa "semoga tidak semoga tidak semoga tidak.

"Hari ini kan ujian" jawab seseorang yang ditanyai Rachel tadi. Raut muka gadis itu sudah tidak lurus lagi. "Mampus" lirihnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada gadis yang tak dikenalnya itu, dengan secepat kilat ia membuka kembali catatan mata kuliah Perencanaan Bangunan Air. Perlu waktu lama untuk mencerna ulang catatan-catatan yang ditulisnya berminggu-minggu yang lalu. Ia bukan gadis berotak cerdas yang didamba-dambakan semua orang dan juga bukan gadis dengan kebodohan di bawah rata-rata.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!