16

1.4K 128 1

Salah satu proyek pembangunan hotel yang ditangani R'O Construction mengalami kendala. Pihak pemerintah setempat mendapat gugatan dari seorang warga. Bima yang merupakan pengawas dari proyek itu diberitahukan oleh pejabat setempat. Sebelumnya Bima memang sempat diberitahukan kalau ada kendala dalam pengurusan IMB, tetapi dia tidak tahu kalau kendala yang dimaksud adalah belum adanya persetujuan dari salah seorang warga disana.

"Bagaimana proses pembangunan disana?"

Raya mengecek beberapa catatannya. Disana adalah input semua perkembangan proyek yang dimiliki R'O Construction.

"Sudah 50%"

Jika sudah 50% sangat sayang jika proyek ini dihentikan. Sebagai pihak pembangunan, R'O Construction akan merugi. Ini semua salah bagian kuasa hukum dari pemilik hotel itu. R'O Construction tidak tahu menahu masalah IMB, mereka sudah diberitahukan oleh pemilik hotel itu bahwa semuanya sudah diurus. Yang dilakukan pihak R'O Construction hanyalah membangun bangunan itu.

"Saya akan ke lokasi proyek" sangat jarang Daryl turun langsung ke sana. Biasanya yang dia lakukan hanya duduk di balik meja ruang CEO.

Daryl merasa kepalanya ringan. Sepanjang perjalanan menuju lokasi proyek dia menatap jalanan yang terlihat seperti bayangan kabur. Bahkan dari kursi belakang, wajah Raya tidak jelas. Aneh sekali.

Setelah satu setengah jam perjalanan. Akhirnya Daryl tiba di lokasi proyek. tidak lupa dia menggunakan helm dan sepatu proyek seperti yang lainnya. Dia memang sempat ditempatkan sebagai pengawas proyek selama setahun, sama seperti Bima. Dan akhirnya dia ditarik oleh Ayahnya sebagai CEO.

"Daryl, kamu harusnya gak perlu sampai turun ke lokasi" Bima lebih tua dari Daryl. Dulu Bimalah yang membimbing Daryl setelah pria itu lulus kuliah. Sehingga Daryl juga sangat menghormati pria itu.

"Aku pikir sebelum proyek kita dihentikan, lebih baik aku turun tangan duluan. Kalau CEO sendiri yang datang, aku pikir mereka akan sedikit segan"

Disana memang sudah ada warga dan pejabat setempat yang menunggu kedatangan Daryl. Daryl perlu melakukan negosiasi selagi pengurusan IMB dilakukan.

"Aku pikir itu ide yang bagus" kata Bima menyetujui.

Selama satu jam mereka megobrol. Daryl mencoba menegosiasikan dengan warga disana. Begitu juga Bima yang duduk menemani Daryl.

"Kami hanya bertanggung jawab untuk membangun hotel. Hanya sebatas membangun sampai bangunan ini berdiri. Kami sudah membuat perjanjian dengan pemilik hotel, IMB mereka yang urus. Dan dari pemilik hotel katanya pengurusan IMB sudah beres. Kami tidak tahu kalau hotel ini bisa merugikan motel Ibu" kata Daryl. Dia sedang mencoba menjelasan seperti apa peranannya disana.

"Nah itu dia Pak. Yang ingin saya beritahukan, proyek ini belum disetujui. Saya keberatan" kata wanita paru baya itu. Dia salah seorang tetangga yang memiliki usaha motel kecil.

"Sampai saat ini saya belum dapat menghubungi Pak Tjakra. Dia kuasa hukum dari pemilik hotel. Bagaimana kalau staff saya yang akan menghubungkan Ibu langsung ke Pak Tjakra? Ibu bisa langsung ngomel-ngomel ke dia"

"Silahkan. Tetapi saya ingin pekerjaan kalian dihentikan sampai masalah saya dengan pemilik hotel ini selesai" Daryl memutar otak. Jika bernegosiasi dengan emak-emak seperti ini memang sedikit sulit.

"Boleh-boleh saja. Tapi Ibu yang ngasih makan keluarga mereka" kata Daryl sambil menunjuk beberapa buruh bangunan yang sedang kerja.

"Bu R'O Construction juga merasa dibohongi. Kita berdua sama-sama rugi" Daryl dapat melihat raut wajah Ibu itu berubah.

"Saran saya, biarin kami tetap bekerja dan bangunan ini jadi selagi Ibu mengurus masalah IMB ini. Toh, kalaupun dari pihak Ibu yang menang, Ibu gak rugi kami juga gak rugi. Yang penting kami sudah selesai membangun bangunan ini dan buruh-buruh ini bisa pulang bawa duit"

Akhirnya masalah terselesaikan. Daryl berhasil menyelesaikan negosiasi.

"Terima kasih" kata Daryl sembari berjabat tangan dengan Ibu tersebut. Aneh sekali, Daryl tahu siapa yang sedang berbicara dengannya tetapi wajah Ibu tersebut tidak bisa dia lihat.

Setelah berdiskusi singkat dengan Bima dan memberi masukan kecil pada pekerja yang lain Daryl bersiap-siap kembali ke kantornya.

"Daryl, kamu gak mau temui calon istri kamu dulu?" Daryl mengerutkan dahinya, siapa seseorang yang dimaksud Biman, pikirnya. Dan yang paling aneh sejak kapan dia punya calon istri? Pacaranpun tidak.

"Siapa?"

"Masa gak tahu. Kamu beneran gak mau bertemu Rachel?" Rachel? Sejak kapan Rachel jadi calon istrinya. Lantas kenapa juga gadis itu ada di tempat ini.

"Dia di lantai tujuh" setelah mengatakan itu, Bima pergi. Daryl masih bertanya-tanya kenapa ada Rachel. Lantas dia pergi ke atas. Daryl lewat tangga darurat karena lift disana belum dipasang.

Benar saja, ada Rachel yang sedang mengawasi pemasangan baja ringan. Dilihat dari belakang pun Daryl tahu kalau itu Rachel. Daryl melihat gadis itu melepas helmnya di lantai. Rachel mengikat tali sepatunya. Aneh, pandangan Daryl baik-baik saja melihat pandangan sekelilingnya, tetapi saat memperhatikan wajah seseorang dia tidak bisa fokus.

"Rachel" panggil pria itu. Rachel menengok, Daryl tidak yakin apakah gadis itu sedang melemparkan senyum atau tidak.

"Kenapa kamu kesini? Kemarin kamu marah-marah ke saya dan bilang ingin menunda pernikahan kita"

Kenapa Rachel berkata seperti itu. Apakah ada sesuatu yang Daryl lupakan? Kenapa pula gadis itu membahas pernikahan. Daryl mendekati gadis itu.

"Apa maksud kamu Rachel?" tangan Daryl tidak bisa menyentuh gadis itu. padahal jarak mereka sangat dekat, tetapi tangannya terasa tidak mampu menyentuh bahu gadis itu. Tiba-tiba Daryl mendengar suara seseorang yang berteriak dari atas. Ada sebuah baja ringan yang akan jatuh. Daryl segera memeluk tubuh gadis itu. Namun naas, Rachel lebih cepat mendorong pria itu ke samping.

"Rachel!!!!!!" Daryl tidak bisa mencegah apa yang terjadi. Saat itu Daryl menyentuh tubuh Rachel yang bergelimangan darah.

Ingatannya kembali dalam bentuk slow motion. Semua apa yang telah mereka lalui sejak kecil hingga sekarang. Saat-saat dimana Daryl dan Rachel bermusuhan. Daryl sangat merasa bersalah karena selalu menyalahkan gadis itu. Semuanya sudah terlambat, bahkan air matanya tidak bisa mengembalikan waktu yang ada.

"Semoga kamu mengerti, semoga kamu mengerti... maafkan saya" untuk kesekian kalinya pria itu kembali menatap tubuh kaku yang telah mendingin itu. Kegelisahan dan kecemasannya terkubur di bawah rasa penyesalan dan bersalahnya.

Pria itu meraih tangan dingin milik gadis itu, menggenggamnya dengan erat. Ia mencium kening, mata, hidung, pipi, hingga bibir pucat itu secara berurutan dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. "Lihat, kamu berhasil buat saya menangis dihadapanmu".

Beberapa orang yang berada di ruangan itu ikut menangis melihat betapa setianya pria itu di samping jenazah seorang gadis yang akan dinikahinya beberapa hari lagi. Tatapan kasihan menghujani Daryl, bahkan kini pria itu sudah tidak peduli tentang imagenya di mata publik yang berubah menjadi laki-laki cengeng.

Daryl Ricardson, pria yang setiap harinya terlihat sok cool dan cuek itu kini menjadi telur retak yang tak dierami induknya. Permintaan maafnya menggema dan tak terbalaskan. Dia sadar bahwa kini semuanya sudah terlambat.

Kini di pikirannya terulang kembali memori lama yang dilakukannya terhadap gadisnya itu. Bagaimana ia menarik ulur hati gadis itu. Membuatnya terikat dengan paksa. Memaksa gadis itu untuk mengoleh kepadanya seorang.

Itu semua dilakukannya tanpa ia sadari. Semuanya bagai air yang mengalir pada suatu DAS yang entah berasal dari mana. Ia sendiri tak tahu kapan ia mulai tidak bisa melepaskan gadis itu dari pandangannya.

Namun semuanya terlambat, disaat semua rencananya berjalan lancar. Disaat semuanya sudah sesuai rencananya, Tuhan ternyata punya rencana lain.

"Arrghhh!"

Daryl terbangun dari mimpi buruknya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, bahkan pria itu telah meneteskan air mata dalam tidurnya.

"I'm sorry"

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!