19

1.3K 131 1

"Kenapa kamu ngikutin saya?"

Rachel menatap marah pria itu. Dengan seenaknya Daryl ikut masuk ke dalam kamar hotel Rachel. Sejak bertemu di rumah Rossepun Daryl sudah membuntuti gadis itu.

"Tempat penginapan saya jauh" hotel pria itu lumayan jauh. Dan mengingat hari sudah malam, Daryl malas harus pergi kesana.

"Terus?"

"Ya saya mau nginap disini" jawab pria itu. Rachel menatap galak pria itu.

"No, saya perempuan dan kamu laki-laki" bagaimanapun juga tidak baik jika perempuan dan laki-laki tidur dalam satu ruangan tanpa embel-embel sah.

"Lagi pula ini bukan pertama kalinya" Rachel tidak bisa diam. Lantas gadis itu menarik-narik baju Daryl memaksanya untuk pergi. Tubuh Daryl lebih besar darinya. Rachel kesusahan menggeser pria itu.

"Dulu kita berdua masih kecil. Sekarang saya sudah besar, malu tahu" kata Rachel sewot. Bagaimana bisa dia membiarkan pria itu tidur dalam satu kamar. Daryl laki-laki dewasa, dia perlu was-was.

"Ngapain kamu harus malu sama saya? Lagi pula saya sudah pernah lihat kamu telanjang" bola mata gadis itu bisa saja keluar.

"Kamu lupa? waktu kamu masih kecil saya pernah mandiin kamu"

Itu sudah dulu sekali. Miranda harus ke kantor, saat itu Bibi Noor sedang cuti menyisahkan Daryl dan Rachel sendirian di rumah. Rachel keasyikan main di luar, gadis itu juga hujan-hujanan. Rachel kecil masih berusia 5 tahun, dia tidak terbiasa mandi sendiri. Selalu Miranda atau Bibi Noor yang memandikan gadis itu.

"Rachel! Baju kamu kotor semua! Cepat mandi!" baju gadis kecil itu penuh noda lumpur. Rambutnya juga basah karena kehujanan.

"Aku masih ingin bermain, Daryl"

"Tidak! Kamu harus mandi"

Rachel kecil menurut. Dibantu oleh kakaknya Rachel kecil mandi bersama mainan bebek-bebek kuning milik Daryl dulu. Saat itu Daryl bisa merasakan jadi sosok dewasa. Dia merasa perlu menjaga gadis kecil itu. Karena saat itu hanya dia yang bisa diandalkan.

"Hei! Waktu itu saya masih kecil! Kamu harus bisa bedain situasi" kata Rachel. Daryl sangat keras kepala. Dia benar-benar tidak mau keluar dari kamar gadis itu.

"Saya tidur di sofa, kamu tidur di kasur"

Rachel mengalah. Percuma saja mengusir pria itu. Daryl bahkan sudah mencari posisi nyaman di atas sofa. Rachel memberi satu buah bantal untuk pria itu, kemudian Rachel ikut tertidur. Malam itu tidak ada percakapan lagi diantara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama menjelajah ke alam mimpi.

Sesekali Rachel mengigau. Dia memimpikan Ibunya. Kali ini adalah mimpi buruk. Daryl terbangun, dia mendengarkan igauan gadis itu.

"Mom, don't leave me"

Gadis itu berkeringat. Air matanya juga menetes. Dia tidur dalam kegelisahan. Daryl mendekat, dia mengelus kepala gadis itu.

"Ada aku, jangan khawatir" kata Daryl lembut.

"Don't leave me" Rachel menahan tangan Daryl. Gadis itu tertidur, tetapi genggamannya sangat kuat.

"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu"

Malam itu Daryl tidur sambil mendekap gadis itu. Pria itu memeluk Rachel erat. Daryl mengambil resiko, tidak peduli jika Rachel tahu dan akan memukulinya hingga biru. Yang jelas malam ini dia ingin menjaga gadis itu. Dia tidak tahu sejak kapan dia terlalu mengkhawatirkan gadis itu, disaat Rachel bersedih dia juga akan bersedih. Semalaman dia mengelus kepala Rachel hingga gadis itu bisa tenang. Daryl melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan dulu. Tetapi rasa yang dia miliki kali ini berbeda. Dia bukan menjadi sosok seorang kakak, kali ini dia menjadi seorang pria yang memiliki perasaan pada seorang gadis.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!