23

1.6K 143 3

Lima bulan terakhir, Rachel mulai terbiasa dengan keadaan di lokasi proyek. Hari-harinya berjalan baik-baik saja. Senior Rachel tidak ada yang menjengkelkan, mereka tidak bertindak seolah minta dihormati ataupun memperbudak gadis itu. Rachel selalu diajarkan dengan baik, mereka menuntun Rachel mengerjakan pekerjaannya. Rachel senang karena dia juga ikut terlibat dalam bertukar pikiran walaupun dia hanya orang baru.

"Sebaiknya diganti saja dengan 4 buah besi 8D. Harganya juga beda tipis" saran Rachel. Saat ini mereka kekurangan besi 10D. Setelah dihitung-hitung besi 8D bisa menggantikan besi 10D.

"Oke saya setuju. Kabari Pak Ahmad, minta dikirimkan segera" kata Bima.

Setalah turun langsung ke dunia kerja, Rachel merasakan sensasi baru. Dia pikir teori di kampus tidak sepenuhnya terpakai. Di dunia kerja ada beberapa cara mudah tanpa harus menggunakan rumus panjang yang bisa menghabiskan satu lembar kertas dobel folio.

Rachel sedang mengedit beberapa gambar kerja di laptopnya. Ada beberapa halaman lagi yang harus dia edit karena ada perubahan. Yudis datang menghampiri gadis itu.

"Rachel. Nonton yuk" ajak pria itu. Kebiasaan banget, batin Rachel. Setiap akhir minggu Yudis selalu mengajaknya nonton film. Katanya orang-orang di Tim mereka tidak ada yang asik, hanya Rachel yang cocok diajak jalan dengannya.

"Wah kamu sudah berani nikung saya?"

Rachel menahan tawa, wajah Yudis campur aduk karena plototan Daryl. Entah sejak kapan Daryl sudah ada disana.

"Waduh saya terciduk Pak Daryl"

Yudis melengos pergi, alias kabur. Saat itu hanya tersisa mereka berdua.

"Kamu lagi ngerjain apa?" wajah Daryl terlalu dekat. Rachel tidak bisa fokus karena bau parfum pria itu.

"Ada beberapa perubahan gambar" Rachel menunjuk beberapa titik yang akan diubahnya. Sebelumnya Daryl sudah mendapatkan informasi dari Raya seputar proyek tempat Rachel bekerja.

"Bisa ditinggalin dulu gak?" bujuk pria itu. Daryl bertingkah kekanak-kanakkan, dia meminta perhatian Rachel.

"Gak bisa, saya harus bikin laporan yang baru. Lusa sudah harus diserahin ke kamu" jelas Rachel. Dia harus membuat laporan mingguan yang diserahkan ke kantor pusat. Yang ujung-ujungnya juga akan berakhir di meja kerja Daryl.

"Tapi saya-kan sudah disini. Nanti saya perpanjang waktunya"

Kalau sudah CEO yang bicara, Rachel tidak akan menolak. Toh akan mendapat perpanjangan waktu, gadis itu tidak akan memusingkan itu lagi.

"Jadi dalam rangka apa kesini?"

"Kangen sama kamu" gak kuat, batin Rachel.

"Kan tadi pagi kita berdua sarapan bareng, kamu juga antar saya ke sini. Masa baru lima jam udah kangen" jelas gadis itu.

"Tapi saja memang kangen sama kamu. Gimana dong? Kamu mau tanggung jawab kalau saya sakit?" goda pria itu. Dengan sengaja Daryl mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

"Jangan ngaco deh" Rachel menyentil hidung Daryl. Pria itu meringis kesakitan.

"Okay saya cuma mau bilang nanti kamu pulangnya agak cepat. Saya mau ajak kamu makan malam di luar"

Ternyata hanya mau ajak makan malam. Rachel heran kenapa pula Daryl harus datang jauh-jauh ke lokasi proyek untuk mengatakan hal itu, padahal pria itu bisa mengirimkan pesan teks. Kalaupun Daryl memang merindukannya, Rachel merasa geli sendiri mengingat hal itu. terlalu romantis dan gombal.

Daryl pergi kembali ke kantornya setelah mengucapkan kata 'bye bye' pada gadis itu. tak lama ada bunyi 'cuit cuit' dari seseorang. Seperti dugaan Rachel, Yudislah yang melakukannya.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!