3

2.1K 182 2

Daryl terbangun dari tidurnya dengan mata bengkak. Bukan karena ia menangis, tetapi karena ia kurang tidur. Tadi malam otaknya dipaksa bekerja untuk mengingat momen-momen tahun silam. Dan akibatnya pagi ini ia bangun lebih siang dari biasanya.

Dengan celana pendek bergaris horizontal dan dipasangkan dengan kaus bertuliskan 'I hate coke' ia menuruni tangga sambil mengedarkan kepalanya mencari seseorang.

"Pagi Mas Daryl" bibi Noor menghampiri Daryl sambil menyodorkan segelas susu coklat. Dary menerima gelas itu dan meminumnya sedikit demi sedikit karena masih panas.

"Rachel mana Bi?" bibi tersenyum sekilas kemudian berkata pelan "Lagi lari pagi. Sebenarnya Mbak Rachel mau nungguin Mas Daryl, tapi Mas Darylnya malah gak bangun-bangun. Oh iya katanya Mbak Rachel, pagi ini dia bakalan disidang lagi ya sama Mas Daryl?"

Daryl tertawa kemudian mengangguk, Bibi Noor satu-satunya orang yang berani berbicara to the point di hadapannya. Bahkan ayahnya sekalipun terlalu segan atau malas berbicara dengannya. Banyak yang bilang kalau wajahnya itu terlalu serius untuk diajak bercakap-cakap hal yang tak penting.

"Jadi tadi pagi reaksinya bagaimana Bi? Coba ceritain ke saya" Daryl duduk di meja makan sambil menyenderkan punggunggnya. Bibi Noor juga ikut duduk dan mulai berceloteh panjang lebar.

"Mbak Rachel wajahnya nyureng banget. Terus Mbak Rachelnya bolak-balik naik turun tangga ngintipin pintu kamarnya Mas Daryl. Terus.." Daryl tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan celotehan Bibi Noor, baginya ini adalah sebuah hiburan kelas atas.

"Terus kapan Mas Daryl mau bersikap adem ayem ke Mbak Rachel. Kasian loh Mbak Rachelnya curhat mulu ke Bibi tentang betapa kejam dan labilnya Mas Daryl" Daryl hanya tertawa dan menggeleng, ia juga sempat memikirkan hal itu.

Kapan ia akan berbaik hati kepada gadis itu. Dia juga tak bisa menjawab jika ditanyakan mengapa dia selalu bersikap acuh tak acuh ke gadis itu. Semuanya berjalan mengikuti kinerja otaknya yang kaku itu.

"Bi saya mau lari pagi dulu" Daryl berdiri dari duduknya dan berjalan ke ujung ruangan dimana ia meletakkan sepatu larinya seperti biasa.

"Mau nyusul Mbak Rachel yah?" goda Bibi Noor yang dijawab dengan dengusan Daryl.

Udara yang masih sejuk pagi ini membuat Daryl bersemangat dan sekejap dia melupakan kantuknya. Rumah ayahnya yang terletak di perumahan kelas elit ini membuat daerah sekitarnya jauh dari kebisingan pusat kota Jakarta.

Beberapa remaja wanita yang sedang lari pagi menatapnya penuh antusias. Ada yang mengucapkan namanya sambil berbisik-bisik ada juga yang terang-terangan meneriakkan namanya dengan antusias.

Daryl Ricardson bukanlah seorang aktor papan atas yang main film laga dari Hollywood. Dia hanyalah pria beruntung yang lahir sebagai penerus R'O Construction satu-satunya perusahaan jasa kontruksi terbesar di Indonesia dan merupakan nomor urut terbaik kedua di Asia.

Beruntung pula dengan wajahnya yang super ganteng ditambah badannya yang berisi dan kekar bak model sabun mandi mampu membuatnya mendapatkan nilai tambah di berbagai tabloid.

"Kamu Daryl Ricardson? Kenalin saya Jenifer Monica kita pernah ketemuan di Exnine kelab minggu lalu" seorang gadis berambut pirang menghampiri Daryl.

Dari wajahnya dan penampilannya dapat ditebak bahwa gadis itu berprofesi sebagai model atau artis karena sejujurnya Daryl pernah melihat gadis itu di beberapa produk kosmetik dan peragaan busana.

"Hm.. iya" Daryl sedikit canggung berbicara dengan seseorang yang mendekatinya seperti ini. Gadis itu semakin mendekatinya dan menebar pesona.

"Kamu ingat? Kita duduk di satu meja" Jenifer mencoba mengingatkan Daryl. Beberapa orang memperhatikan mereka dengan tanda tanya.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!