17

1.3K 143 0

Setelah mimpi buruk itu Daryl jadi sulit tidur. Dia hanya melamun di kamarnya hingga pukul 4 pagi dia kembali tidur. Hingga pagi ini Daryl terlambat bangun. Dia melewatkan sarapannya. Kepalanya masih pening pagi itu, dia terbangun karena ketukan pintu kamarnya.

"Mas Daryl gimana sih. Mbak Rachel sudah pergi dari tadi pagi. Mbak Rachel bawa kopernya"

Berangkat? Daryl berpikir keras. Kemudian dia teringat tadi malam dia menyuruh gadis itu pergi dari rumah. Daryl mengumpat pada dirinya.

"Rachel pergi kemana Bi?"

"Bibi juga gak tahu. Mbak Rachel pergi buru-buru" jelas Bibi Noor.

Setelah Bibi Noor menjelaskan kronologinya, Daryl segera bersiap-siap untuk pergi mencari gadis itu. Dia menelpon teman-teman Rachel, salah satunya Sandra yang dulu pernah dia temui. Dulu Rachel pernah bersembunyi di rumah gadis itu, mungkin saja kali ini dia juga bersembunyi disana.

"Halo" sapa seseorang di seberang telepon.

"Rachel disana?" tanya Daryl to the point. Saat ini dia sedang menyetir.

"Ini siapa ya?"

"Saya kakaknya Rachel" Sandra tercekat. Ini kali kedua pria itu menghubunginya.

"Emangnya Rachel kenapa?" tanya Sandra penasaran. Tidak mungkin temannya itu kabur lagi dari rumah.

"Dia tidak ada disana?" tanya pria itu lagi.

"Iya, dia gak kesini"

Daryl segera mengakhiri telponnya. Jika Rachel tidak di rumah Sandra lantas gadis itu pergi kemana. Daryl bertanya-tanya dalam hati.

...

"Dad, are you okay?"

Rachel tidak pernah melihat wajah Johan yang seperti ini. Pria itu menatap dirinya seolah-olah tidak rela melihat anaknya pergi.

"Of course not" jawab Johan. Lantas Rachel sekali lagi memeluk Ayahnya.

Semalaman dia telah merenungkan kata-kata Daryl. Pria itu menyuruhnya pergi, pasti karena sakit hati oleh perkataan Rachel. Gadis itu juga merasa bersalah. Tidak seharusnya dia menyakiti hati Daryl. Padahal pria itu memang niat membantunya.

Api terlanjur menjadi abu, Rachel memilih untuk pergi bertemu Ibunya. Dia tidak tahu akan berada disana untuk berapa lama. Dia hanya ingin meninggalkan rumah itu seperti kata Daryl.

"I also want to live with you, tapi aku sudah membuat Daryl marah. Aku tidak bisa balik kesana"

"Aku akan memarahi anak nakal itu" Johan geram. Anak-anaknya sama-sama keras kepala.

"No, this is my fault. Daryl pasti sakit hati karena perkataanku" tolak Rachel. Jika pagi ini dia masih di rumah itu, Rachel tidak punya tanduk untuk bertatapan dengan pria itu.

"He'll forgive you. Daryl certainly didn't really tell you to go" kata Johan memastikan. Dia tahu persis sifat anak lelakinya itu.

"But it's better if I go to Germany. My mother is there, I want to meet her. Lately I have a lot of problems. I want to rest there" jelas Rachel. Sudah dia putuskan, walaupun hubungannya dengan Daryl akan baik-baik saja, suatu hari nanti dia juga pasti akan mengunjungi Ibunya di Berlin. Terutama disaat yang sulit seperti ini, dia ingin beristirahat sebentar.

"Okay if that's what you want. Dad always waiting for you to come here"

Pertemuan mereka sampai disitu. Johan mengantar Rachel sampai ke pintu keberangkatan. Saat itu air mata Rachel menetes. Dia berterima kasih pada pria paru baya yang sudah membersarkannya. Suatu saat jika diingkan Rachel pasti akan membalas semua kebaikan pria itu. Karena dia telah membiarkan Rachel merasakan kasih sayang seorang Ayah.

...

Ponsel Rachel tidak bisa dihubungi, Daryl tidak tahu harus kemana lagi. Saat itu satu-satunya yang belum dia hubungi adalah Baril. Tetapi tidak mungkin juga Rachel akan pergi ke rumah pria itu. Daryl tahu kalau Rachel pasti lebih membenci pria itu dibandingkan dirinya. Untuk satu itu Daryl masih bisa bernafas lega.

Lantas kemanakah gadis itu pergi? Daryl belum bertemu Ayahnya sejak tadi pagi. Mungkin saja Ayahnya tahu keberadaan Rachel. Tanpa pikir panjang, Daryl menghubungi ponsel Johan.

"Hello, Daryl" sapa Johan di ujung telepon. Johan sudah menduga apa yang akan dibicarakan anaknya.

"Dad, Rachel ran away from home"

Johan dapat mendengar ada nada cemas dari anak lelakinya. Sepertinya Daryl menyesal telah mengusir gadis itu.

"Do you fight?" tanya Johan. Dia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Dia ingin menguji anaknya dulu.

"Yes, last night I told her to leave. I am so sorry" kata Daryl. Dia juga merasa pada Ayahnya yang sudah pasti sangat menyayangi Rachel. Daryl teringat Johan pernah menamparnya karena mengatangatai gadis itu. Saat itu Daryl melihat kecemasan yang sama saat Miranda menghilang.

"Cari gadis itu sampai ketemu. Do as best as you can"

Hingga tengah malam Daryl mengunjungi beberapa tempat yang kemungkinan dikunjungi gadis itu. Daryl juga mengecek beberapa tempat penginapan. Namun berbuah nihil. Dia tidak dapat menukan keberadaan Rachel. Bahkan dia telah membuang malu untuk menghubungi Baril. Pria itu juga tidak mengetahui keberadaan Rachel.

Andai Rachel melihat wajah pria itu saat ini, Daryl sungguh terlihat amburadul. Dia kurang istirahat karena memikirkan gadis itu. Daryl tidak menyangka dampak Rachel akan sebesar ini padanya. Bahkan Daryl rela mengesampingkan pekerjaannya dan memilih untuk mencari Rachel. Padahal Daryl tipikal gila kerja.

Tiba-tiba Daryl mendapatkan sebuah pesan yang dikirim oleh Ayahnya. Daryl mengerutkan dahinya. Seperti ada sesuatu yang penting, pikir Daryl.

Come back home now. I have something to say.

Daryl langsung balik arah. Posisinya tidak terlalu jauh dari rumah, mungkin memakan waktu 30 menit saja hingga dia tiba disana. Dalam perjalanan, dia berharap Ayahnya telah menemukan gadis itu. Sampai saat ini dia juga masih memikirkan Rachel. Daryl khawatir jika gadis itu melewatkan makan malamnya, ataupun gadis itu tidur di tempat yang aman.

Setibanya di rumah. Sudah ada Johan dan Bibi Noor yang menunggu kedatangan Daryl. Padahal sudah pukul satu dini hari. Kedua orang itu bahkan belum tidur. Daryl sedikit heran.

"Mas Daryl sudah makan malam?" tanya Bibi Noor. Daryl baru saja tiba disana.

"Saya gak sempat makan malam Bi" Daryl sadar perutnya terus berbunyi meminta sesuap nasi atau sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.

"Yaampun. Mas Daryl pasti terlalu sibuk nyari Mbak Rachel" Daryl hanya bisa melemparkan senyum. Dia juga berpikir seperti itu.

Di ruang keluarga sudah ada Johan yang menunggunya. Daryl menghampiri Ayahnya.

"Dad, what do you want to talk about?"

Johan mengeluarkan sebuah kertas kecil. Daryl melirik sekilas kertas itu. Di sana tertera sebuah alamat rumah yang berlokasi di Berlin. Dia mulai mencurigai sesuatu.

"Don't tell me if you told Rachel about-"

"Ya, Rachel went to Germany. She went to her mother's house" potong Johan.

Daryl kecewa atas tindakan Ayahnya. Walaupun dia tahu kalau Rachel juga punya hak untuk tahu keberadaan Ibu kandungnya, tetapi hati kecil Daryl terlanjur egois. Dia tidak ingin Rachel tahu keberadaan Ibu kandungnya, Daryl takut gadis itu akan kembali kesana. Daryl tidak ingin gadis itu meninggalkan dirinya seperti saat ini.

"I will catch her there"

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!