4

2K 171 2

Dari siang hari Daryl sudah meninggalkan rumah dan pergi entah kemana. Pria itu tidak meninggalkan pesan kepada Bibi Noor. Rachel yang setibanya dari lari pagi langsung masuk ke kamar dan menguncinya.

Bibi Noor menjadi satu-satunya orang yang kelimpungan untuk menjawab pertanyaan dari Johan Ricardson.

"Saya juga tidak tahu kemana perginya Mas Daryl, soalnya Mas Daryl juga diam aja pas pulang dari lari pagi" Bibi Noor menuangkan segelas kopi panas di atas meja. Johan Ricardson hanya tersenyum simpul.

"Terima kasih karena sudah menjaga anak-anak nakal itu" kata Johan menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Bibi Noor menggeleng.

"Hanya Mas Daryl yang nakal, Mbak Rachel tidak nakal sama sekali Tuan" Johan tertawa mendengar pembelaan Bibi Noor.

Johan lebih muda dari Bibi Noor, tetapi ia sangat menghormati pembantu rumah tangganya itu. Dia sudah menganggap Bibi Noor sebagai keluarga mengingat Bibi Noor sudah sangat bersejarah di keluarganya, mulai dari menjadi saksi dari lahirnya Daryl hingga kejadian dimana ia membawa Rachel pulang ke rumahnya di Hamburg.

"Rachel memang anak yang baik, but she doesn't make my son seems fine." setelah itu keduanya tertawa dengan pemahaman masing-masing.

Rachel yang sedari tadi mengurung diri di dalam kamar merasakan keganjilan di bawah sana. Lantas gadis itu mengintip dari balik pintu kamarnya yang dapat langsung melihat situasi di ruang keluarga. Alis gadis itu terangkat dan matanya langsung melirik kalender.

"Tanggal 7? Dan Ayah sudah pulang!" setelah itu ia langsung berhamburan menuruni tangga sambil berteriak-teriak kegirangan.

"Happy Birthday Dad!" ucap Rachel bersemangat. Rachel mencium pipi kiri dan kanan ayahnya.

"Oh my little daughter, thank you so much. Tahun ini Dad mendapatkan apa?" Rachel menyodorkan sebuah kado berbentuk segi empat yang dibungkus rapi. Johan menerima hadiah itu dengan suka cita.

"I hope you like it."

Bibi Noor juga ikut menyerahkan sebuah kado berukuran lebih kecil.

"Selamat ulang tahun Tuan. Semoga Tuan suka kado dari Bibi" Johan menerima kado itu dan mengucapkan terima kasih. Ini adalah salah satu tradisi keluarga. Tak ada orang asing di rumah ini, yang ada hanyalah keluarga, itulah yang dikatakan Johan.

"Thank you, everyone. And tonight get yourself all ready for the special dinner! Bibi Noor juga ikut, tak ada tapi tapi Okay?" kata Johan dengan cepat. Setelah itu Johan pergi ke kamarnya dengan senyum yang terus mengembang. Rachel tersenyum sumringah dan melupakan semua kekesalannya pada Daryl.

"Mbak Rachel, tadi Tuan ngomong apa sih? Cepet banget, jadi Bibi susah ngecernainnya" Rachel terkikik geli.

Ayahnya memanglah bukan orang Indonesia, tetapi sudah tinggal cukup lama di Jakarta dengan bahasa Indonesia yang sangat pas pasan, bahkan bahasa Inggris pria itu masih tercantol logat deustch yang sulit dimengerti. Jadi, selama ini Johan selalu berbicara dengan bahasa yang berganti-ganti. Setiap penuturan katanya selalu diikuti dengan gerakkan tangan untuk mempermudah orang-orang mencernanya.

"Kata ayah, nanti malam kita akan dinner dengan sangat istemewa dan.. bibi juga harus ikut!" setelah menyelesaikan penjelasannya, Bibi Noor sudah siap membuka mulut dan mengajukan penolakannya tetapi Rachel sudah buru-buru melarikan diri ke kamarnya.

Dilain tempat, Daryl duduk bersila di lantai sambil memainkan ipadnya. Sudah dua jam pria itu membatu dengan posisi yang sama tanpa mengeluh keram. Cola yang diberikan Alena bahkan tak disentuh sedikitpun.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!