8

1.6K 155 1

Hari ini Rachel terpaksa membolos kuliah karena diculik oleh pria brengsek yang tinggal seatap dengannya. Rachel tak tahu kearah mana mobil mewah ini bergerak.

"Jangan merengut terus. Bibir kamu bisa monyong" Daryl berusaha memperbaiki suasana. Ia tidak sedang membuat lelucon, karena nadanya terdengar seperti sebuah perintah.

"Kamu mau bawa saya kemana sih? Saya masih ada kuliah" tanya Rachel yang sudah mulai dongkol.

"Dan bertemu si ass itu? jangan harap"

"Okay. Jangan pernah menyebut nama orang dengan kata ass kalau kamu sendiri juga asshole" Rachel berkomentar. Daryl seperti menelan batu tanpa dikunyahnya lebih dulu.

Berani-beraninya anak ini mengatainya. Daryl berusaha bersabar dan menahan amarahnya. Dia harus tenang agar dia tidak mencium mulut tajam itu sampai berdarah.

"Kapan kamu mau mutusin dia?" Rachel memutar bola matanya dengan malas. Daryl masih sibuk mengemudikan mobilnya.

"Saat negera api menyerang" setelah itu Daryl tertawa terpingkal-pingkal. Ia tak tahu kalau Rachel bisa bercanda.

"Bisa diam gak?" Daryl masih terus tertawa. Tangan kanannya memegang setir, sedangkan tangan kirinya memegang perutnya yang sakit akibat tertawa terlalu keras.

"Saya gak tahu kamu punya selera humor"

"Saya juga gak tahu kamu bisa ketawa"

Akhirnya Daryl terdiam. Dia sadar sudah berapa lama dia tidak tertawa lepas seperti ini.

Di rumah, dia akan memasang wajah tegang dan kaku. Di kantor, dia akan memasang wajah tegas dan berwibawa. Semuanya seperti telah diatur dengan baik.

"Jadi, kapan?" Daryl mengulangi pertanyaannya.

"Nggak akan," kata Rachel terpotong, kemudian dia melanjutkan, "I will be married to him".

Daryl mengerem mendadak. Dia shock dan tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Say what?"

"I'm gonna marry him" tanpa Daryl sadari, tangannya sudah terkepal di setir hingga merah.

"Kamu masih dua puluh satu tahun" kata Daryl. Saat ini ada getaran panas di dadanya. Ia merasa tertusuk-tusuk jarum dan rasanya ingin marah-marah.

"Dan setelah saya lulus kuliah, saya akan meminta dia untuk menikahiku"

Rachel kaget dengan apa yang meluncur dari mulutnya. Ia hanya asal bicara.

Dia juga tidak pernah berpikir untuk menikahi Baril. Bahkan memikirkan satu kata terkutuk itu saja tidak pernah.

"Tinn.. Tinn" Daryl kembali melajukan mobilnya akibat bunyi klakson tak sabaran dari arah belakang.

"Terserah apa keinginanmu, yang jelas kamu tidak akan menikah dengannya"

Selama perjalanan itu Rachel tertidur hingga dia terbangun saat mereka sudah tiba di daerah Bandung Selatan. Rachel membuka mata dengan berat karena ia sudah tertidur cukup lama.

"Bau belerang" gumam gadis itu, ia segera menyambar masker yang ada di dalam tas selempangnya.

"Kamu gak suka bau belerang?" Rachel baru sadar akan keberadaan Daryl di sebelahnya. Pria itu sedang tiduran di atas kursi pengemudi dengan kursi yang direbahkan ke belakang.

"I think so. Hanya saja sekarang baunya terlalu tajam" jelas gadis itu. Ia sedikit pusing di perjalanan dan tambah pusing lagi dengan bau menyengat ini.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!