6

1.8K 152 1

Ini ketiga kalinya Rachel bangun pagi-pagi sekali dan menghilang ke kampus tepat jam tujuh. Dia bukan anak sekolahan yang harus datang tepat waktu sebelum gerbang ditutup, tetapi Rachel sengaja berangkat terlalu cepat untuk menghindari Daryl yang biasanya bangun jam setengah tujuh.

Gadis itu menatap perutnya yang memohon-mohon untuk diisi. Dia tidak sempat sarapan atau sekedar minum susu.

Karena ia tak ingin mati dengan penyakit maag, gadis itu memutuskan untuk mencari tempat makan terdekat. Tak lama matanya menangkap sebuah toko roti yang tidak terlalu sepi.

Rachel masuk ke dalam toko roti dengan mata berbinar-binar. Deretan roti isi berukuran besar menggoda matanya.

Ia bukan tipe gadis yang mempedulikan bentuk tubuh, jadi tanpa pikir panjang Rachel langsung membeli beberapa roti untuk dibungkus.

"Terima kasih" kata Rachel setelah menerima uang kembaliannya.

Selama perjalanan ke kampus, Rachel menyetir mobil sambil memakan roti isi selai srikaya favoritnya. Ia teringat ketika pertama kali ia pindah ke Indonesia mengikuti Johan dan Daryl.

"Rachel, why are you crying?" Johan menunduk di hadapan gadis kecil yang terus menangis.

"I don't want to be here" kata gadis kecil itu.

Johan dan Daryl pindah ke Jakarta setelah dua tahun perceraian Johan dan Miranda Hakim. Mereka kembali ke tanah kelahiran Ibu kandung Daryl untuk mencari wanita itu.

Johan ingin merujuk kembali wanita Indonesia yang melahirkan anak lelakinya yang gagah itu. Daryl yang jatuh pada hak asuh ayahnya tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup.

Kini mereka kembali menginjakkan tanah air dengan menambah satu orang anggota keluarga. Seorang gadis kecil bermata hazel.

Wajah gadis kecil bernama Rachel itu kebule-bulean dengan rambut coklat lurus. Bibirnya tipis dan berwarna merah muda.

"Rachel, where do you want to go?" Johan masih setia membujuk gadis kecil itu. Daryl kecil menatap Rachel diam-diam di belakang punggung Johan.

"I want to go to mom. I want my mom" Rachel kembali menangis dan Johan tak tahu harus membujuk anak itu dengan apa.

"But I'm your dad, it's just the same. Wanna come with me? Hm?" Rachel menggeleng dan terus menangis.

"This one is for you. I'm gonna split this into two. This one for me and the other half is for you." Daryl memberikan roti srikaya yang sudah dibagi menjadi dua. Dia memberikan setengahnya untuk gadis kecil itu.

Rachel menatap Daryl dengan pandangan takut. Selama ini Daryl selalu tak bisa akrab dengannya.

Daryl yang berumur duabelas tahun tidak pernah suka melihat Rachel yang merengek-rengek pada ayahnya. Ia merasa gadis kecil itu sama seperti Rosse Krasnerman yang sudah menjauhkan ibunya dari ayahnya.

"I don't like watching your tears. Take this and hurry up. Finish it." Rachel menurut dan segera menghapus air matanya. Gadis kecil itu juga langsung melahap habis roti srikaya yang menurutnya adalah makanan terlezat di dunia.

Rachel tertawa mengingat bagaimana reaksi pertama kalinya ia memakan roti srikaya itu. Bahkan ia berhasil melupakan ibunya dan menurut pada Daryl setelah memakan roti itu.

Mobil Porsche hitam milik Rachel memasuki pelataran parkir kampus yang masih sepi. Gadis itu tidak kunjung turun dari mobil.

Rachel mengeluarkan ponselnya dan membidik beberapa foto roti srikaya yang masih ada di dalam keranjang roti. Kemudian ia memposting foto itu pada akun sosial media miliknya.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!