12

1.3K 137 2

Pagi ini tidak ada yang membuka percakapan. Daryl sibuk dengan makanannya, begitu juga Rachel. Mereka sama-sama diam dan tidak ingin mengobrol. Johan melirik kedua anaknya. Johan tahu pasti anak gadisnya itu masih memikirkan kejadian semalam. Johan sudah tidak menyinggung tentang itu. Dia hanya menunggu tanggapan Rachel saja. Dan yang tahu mengenai hal itu hanyalah Johan dan Rachel.

"Daryl are you busy today?" tanya Johan.

"Tidak. Ini hari minggu Dad" Tentu saja, kantornya libur sementara pekerjaan yang dia bawa pulang sudah dia selesaikan semalam.

"How about you Rachel?"

"Aku tidak ada rencana apa-apa" jawab gadis itu sekenanya.

"Good. Ayah ingin mengajak kalian berdua pergi memancing"

Tidak ada yang melancarkan aksi protes. Daryl tidak keberatan karena dia juga suka memancing. Dan Rachel? Dia tidak bertenaga untuk memprotes hal itu. Semalam dia menangis sehingga kelompak matanya terlihat aneh. Dia juga tidur kemalaman.

Tanpa sadar ada seseorang yang melirik gadis itu diam-diam. Bukan cuma Ayahnya, tetapi Daryl. Pria itu melirik Rachel yang bertingkah aneh. Daryl juga sadar mata Rachel bisa seperti itu pasti karena dia menangis.

"Apa karena aku membentaknya?" tanya Daryl pada dirinya sendiri.

...

Mereka pergi ke salah satu tempat rekreasi alam bebas. Daryl dan Johan duduk di pinggir danau sambil memancing. Sementara Rachel dan Bibi Noor menyiapkan pembakaran.

"Kenapa dari tadi kamu diam saja?" Johan memecah keheningan. Daryl sedari tadi memang melamun. Tatapannya kosong menatap danau.

"Sepertinya aku membuat masalah lagi" Daryl masih memikirkan masalah semalam. Dia merasa sangat bersalah pada gadis itu. Dia tidak tahu kalau perkataannya akan membuat Rachel menangis. Itu yang dipikirkan Daryl.

"Masalah apa?"

"Sepertinya aku sudah membuat Rachel menangis"

Johan merasa tidak enak pada anaknya. Johan ingin memberitahu Daryl, tetapi dia ragu. Karena selama ini dia berusaha menutupi pertengkaran dia dan Miranda. Walaupun Daryl sudah tahu kalau penyebabnya adalah keberadaan Rachel, tetapi semakin hari Johan bisa melihat sosok Daryl yang sudah menerima gadis itu. Lewat pantauan Bibi Noor, Johan tahu kalau anak lelakinya itu juga menyayangi Rachel. Tetapi anak lelakinya itu tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang tepat.

Johan bertanya-tanya reaksi apa yang akan ditunjukkan Daryl jika tahu dia telah memberikan alamat rumah Ibu kandungnya Rachel. Johan sendiri takut anak gadisnya itu memilih pulang ke rumah Ibunya, walaupun Rachel tahu kalau Rosse telah membuangnya. Tetapi Johan selalu gelisah memikirkan hal itu, dia sudah menyayangi Rachel seperti anaknya sendiri. Sekarang dia penasaran, apakah Daryl juga berpikiran sama dengannya?

"Why can she cry? Why did you say to her?"

Pria paru baya itu memilih pura-pura tidak tahu. Dia pikir belum saatnya Daryl tahu. Ataupun lebih baik Daryl tahu dari gadis itu.

"Aku kembali menyuruhnya putus dengan pacarnya" Johan tertawa mendengar penjelasan anaknya. Sepertinya Daryl sangat ngotot pada gadis itu.

"And what did she say?"

"She is angry. Dan menyuruhku agar tidak ikut campur dalam hubungan percintaannya" Daryl sedang mengadu. Dia benci saat gadis itu menyuruhnya agar tidak ikut campur.

"You are jealous, Daryl"

Hampir saja pria muda itu menjatuhkan gelasnya. Daryl menatap ayahnya dengan pandangan tidak suka. Bagaimana bisa pria tua itu mengetahui isi hatinya. Daryl juga telah sadar kalau dia mungkin sedang jatuh cinta pada gadis itu.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!