18

1.4K 142 3

            

Rachel menatap jalanan asing yang dilewatinya. Setelah bertahun-tahun akhirnya dia kembali ke negara kelahirannya. Rachel sudah melupakan udara dingin disini. Antara sedih dan bahagia, tak lama lagi dia akan bertemu Ibunya.

Taxi berhenti tepat di depan sebuah hotel. Rachel memilih untuk bermalam disini. Dia tidak bisa langsung pergi ke rumah Ibunya. Sebelumnya Johan sudah menceritakan tentang keadaan Ibunya. Dan Rachel rasa sebaiknya dia akan bertemu wanita itu lusa.

Rachel mengaktifkan ponselnya. Ada banyak notifikasi di whatsappnya. Rata-rata dari satu orang, Daryl. Isinya penuh dengan kata-kata omelan dan permintaan maaf. Daryl bertanya dimana dia berada, apakah dia sudah makan, kenapa Rachel menganggap serius perkataannya. Pria itu juga mengirim permintaan maaf secara tulus. Daryl menyuruh Rachel agar pulang ke rumah yang sama dengannya. Daryl sangat merasa bersalah.

No guilt can erase the past

Satu kalimat itu yang dikirim Rachel. Menurutnya Daryl tidak perlu lagi merasa bersalah. Semuanya sudah berlalu. Dia juga tidak ingin memikirkannya lagi. Sekarang yang perlu Rachel hadapi adalah masalah dan masa depan.

Hari berganti, Rachel sama sekali telah memutuskan kontak dengan Daryl dan Johan. Semalam Daryl terus-terusan menghubunginya, Rachel tidak ingin mengangkat telpon pria itu sehingga ia mematikan ponselnya. Sekarang tujuannya hanya satu, yaitu bertemu Ibunya.

Sesuai informasi dari Johan, Rosse tinggal di Wiltbergstraße 86, Berlin. Letaknya lumayan jauh dari tempat bermalam Rachel. Gadis itu sadar kalau tempat tinggal Ibunya yang sekarang bukanlah rumah mereka yang dulu. Rachel mulai bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ibunya bisa tinggal disini? Dari mana Ibunya bisa mendapatkan uang untuk membeli rumah baru? Tanpa sadar Rachel memikirkan kemungkinan terburuk.

Sekian jaman perjalanan, akhirnya Rachel tiba disana. Ada rumah bertingkat warna merah muda. Disana juga ditumbuhi banyak pohon besar yang mengelilingi rumah. Siang itu ada dua orang anak kecil kemungkinan menginjak sekolah dasar. Anak lelaki yang kelihat lebih besar berlari mengejar anak perempuan yang lebih kecil.

"Hey don't play again! Time for lunch!"

Benar, sekarang saatnya makan siang. Rachel hampir saja lupa. Tetapi dia sudah terlanjur tiba, sesuai alamat yang diberikan Johan.

"Hei, are you looking for something?" tanya anak lelaki itu pada Rachel. Ternyata gadis itu daritadi hanya berdiri mematung di depan pagar rumah.

"I'm looking for Rosse Krasnerman. Does she live here?"

"Yes, she is my mother. Come in!"

Ini sebuah tamparan keras bagi Rachel. Ternyata Ibunya telah memiliki anak selain dirinya. Itukah sebabnya Rosse tidak kembali menjemput Rachel? Rasanya Rachel tidak berani melangkah masuk ke dalam rumah. Dia merasa sudah terbuang, tidak ada alasan lagi dia untuk bertemu Rosse.

"Come in"

Rachel ingin menghempaskan tangan mungil itu. dia tidak ingin bersentuhan dengan gadis kecil yang menatapnya penuh minat. Tetapi hati kecilnya malah mengikuti langkah pendek gadis kecil itu. Rachel tidak tahu siapa nama gadis kecil yang terlihat mirip dengan Ibunya, tetapi gadis kecil itu sudah menuntunnya masuk ke dalam rumah hingga Rachel bertatapan dengan seorang wanita paru baya.

"Mom, she wants to see you"

Wanita paru baya itu menatap Rachel dalam. Mereka saling bertatapan. Rachel tidak tahu apakah Ibunya masih mengenal wajahnya atau tidak. Tetapi wanita paru baya itu telah meneteskan air matanya. Dan Rachel tahu apa artinya.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!