22

1.4K 133 0

Sudah kedua kalinya Rachel datang ke R'O Construction. Gedung kantor ini sangat megah dan modern. Rachel tidak menyangka tempat kerja sehari-hari Daryl seperti ini. Pantas saja perusahaan pria itu dikatakan sebagai perusahaan konstruksi nomor satu di Asia.

"Nyonya Krasnerman?" tanya seorang wanita. Kakinya jenjang dan badannya cukup bagus. Rachel mengangguk.

"Anda ditunggu Pak Daryl. Silahkan ikut saya"

Mereka menaiki lantai 6. Ada pintu kayu besar bertuliskan jabatan Daryl. Rachel kini tak akan heran, diumur yang masih muda itu Daryl dipanggil dengan embel-embel 'Pak' sudah pasti karena mereka sangat segan pada pria itu. Wanita yang tidak diketahui namanya itu membukakan pintu untuk Rachel.

"Hei, kamu telat 5 menit"

"Tadi diajak Mas Bima keliling kantor. Dia ngelanin saya ke timnya" jelas Rachel. Gadis itu melihat setumpuk berkas di meja Daryl. Sepertinya pria itu sedang sibuk.

"Itu semua kerjaan kamu?" tanya Rachel. Gadis itu menunjuk berkas-berkas yang berserakan di meja Daryl. Pria itu mengangguk, akhir-akhir ini ada masalah di proyeknya. Bukan disebabkan oleh perusahaannya, tetapi oleh rekanan mereka yang berdampak pada kinerja di proyeknya.

"Ayo kita makan siang" Daryl bangkit dan menggandeng tangan gadis itu. Rachel berhenti.

"Kamu gak mau kelarin dulu pekerjaanmu? Saya bisa nungguin kok" Rachel tidak mau pria itu menunda-nunda pekerjaan demi makan siang bersama dirinya.

"Gak apa-apa. Saya bisa bawa pulang ke rumah. Lagi pula ada kamu yang bisa nemanin saya ngerjain semuanya" kebiasaan, batin Rachel.

Daryl dan Rachel tidak makan siang jauh-jauh, mereka hanya makan di kantin kantor. Daryl sangat jarang mengunjungi tempat itu, makanya banyak karyawan yang heran melihat dia muncul disana. Ditambah lagi Daryl makan siang bersama seorang karyawan baru, Rachel. Gadis itu risih diperhatikan beberapa orang, apa lagi saat dia sedang makan. Rasanya tidak bisa menelan biji nasi.

"Kenapa mereka ngeliatin kita sih? Apa mereka ada dendam sama kamu?" bisik Rachel. Daryl tertawa, kenapa pula orang-orang itu menaruh dendam pada Daryl. Berhubungan langsung saja jarang.

"Kamu risih?" tanya Daryl yang dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.

Hanya dengan satu tatapan Daryl, orang-orang yang memperhatikan mereka langsung membuang muka dan pura-pura sibuk. Mereka seperti tikus yang tertangkap basah. Rachel memberikan jempolnya.

"Sekarang sudah gak risihkan?"

Mereka melanjutkan makan siang tanpa gangguan. Makanan di tempat itu tidak terlalu buruk di lidah Rachel. Mungkin masakannya disesuaikan dengan selera Daryl. Tidak terlalu kejawa-jawaan. Masih cocok untuk lidah orang asing.

"Saya suka makanan disini, mirip masakannya Bibi Noor" Daryl menyetujui perkataan gadis itu. Dia juga menyukai makanan ini.

"Dad yang mengatur semuanya. He oftens eat here" pantas saja makanannya cocok di lidah Rachel. Selera gadis itu dan Johan sedikit mirip.

Saat itu Rachel bisa mendengar beberapa pegawai wanita yang membicarakan dirinya. Tidak heran kalau gadis itu bisa mendengar obrolan mereka, jarak antara meja makan Rachel dan bebarapa pegawai wanita itu tidak terlalu jauh.

"Dia pacarnya Pak Daryl?"

"Kayaknya sih gitu. Baru kali ini Pak Daryl bawa perempuan ke kantornya"

"Tapi aku dengar dia itu tunangannya Pak Daryl"

Rachel tersedak. Dia kaget mendengar pembicaraan mereka. Sejak kapan dia bertunangan dengan Daryl. Pacaran saja masih tanda tanya.

"Mereka bilang aku tunangan kamu" kata Rachel. Suara gadis itu sangat pelan seperti sedang berbisik. Daryl juga mendengar pembicaraan karyawannya tadi, tetapi sikap dia tidak seheboh Rachel. Daryl menanggapi hal itu dengan tenang.

"Bagus dong. Kalau tiba-tiba kita menikah, mereka gak akan syok"

Lagi.. lagi.. dan lagi. Daryl selalu berhasil membuat hati Rachel berdegup kencang. Rachel selalu mengumpat dalam hati, apakah Daryl tidak tahu ulahnya berdampak luar biasa pada hati gadis itu. Semua wanita akan selalu melengkungkan garis bibirnya jika digoda seperti itu. Termasuk Rachel.

"Eh ada Rachel" Daryl hanya bisa menggeleng melihat tingkah salah satu karyawannya. Yudistira lebih tua dua tahun dari Daryl. Dulu mereka berada di satu tim di bawah pimpinan Bima. Daryl membiarkan saja tangan Yudis di bahu gadisnya. Toh Yudis memang selalu berwarawiri dengan karyawan wanita.

"Pak Daryl sudah berani bawa pacar ke kantor. Cieee" Rachel terkekeh, sepertinya dia mendapatkan teman kerja yang lucu. Dan hari-harinya di tempat kerja mungkin akan sangat berwarna. Yudis sepertinya bisa diajak kerjasama.

"Ngapain disini? Gak ke lokasi?" tanya Daryl. Dia sedikit risih ditatap Yudis, apalagi setelah diberikan kedipan mata oleh pria itu.

"Mau jemput teman baru dong. Disuruh bang Bima"

Rachel juga sudah dikabari oleh Bima. Dia akan dikenalkan ke lokasi proyek yang sedang ditangani oleh tim mereka. Salah satu proyek pembangunan gedung hotel. Rencananya Rachel akan berkunjung kesana setelah makan siang.

Setelah menyelesaikan makan siang, Rachel harus ikut Yudis ke lokasi proyek. Daryl tidak bisa menemani gadis itu karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.

"Yudis, saya titip Rachel"

"Yaelah tenang saja, kalau ada yang macam-macam sama mbak Rachel biar saya sikattt" Daryl tertawa. Kapanpun dan dimanapu Yudis selalu seperti itu. Jika dia gilanya kumat, dia akan dipangging Yudistari. Pria itu suka sekali ngerjain buruh bangunan di proyek.

"Nanti saya jemput kamu" bisik Daryl. Setahun belakangan ini Rachel sudah jarang nyetir mobil sendiri. Daryl lebih suka menjemput gadis itu dan tidak membiarkan Rachel menyetir. Pernah sekali Daryl terlambat sejam. Rachel merengut karena ulah pria itu, tau begiti lebih baik dia bawa mobil saja. Kemudian Daryl menjelaskan alasannya. Lebih baik Rachel pulang dengannya, sehingga Daryl bisa mengawasi gadis itu. Dia juga melarang gadis itu pulang naik angkutan umum ataupun online, katanya dia bakalan cemburu ngeliat gadis itu dibonceng orang lain.

"Mbak Rachel, sejak kapan sih pacaran sama Pak Daryl?" Mereka dalam perjalanan menuju lokasi proyek. Yudis menyetir mobil dan Rachel duduk di sebelahnya.

"Gak tau juga. Kamu kepo deh" kata Rachel.

"Ih, aku penasaran. Pak Daryl kayaknya protektif banget deh" kata Yudis. Dia sudah memperhatikan tingkah Daryl pada gadis itu.

"Protektif bagaimana?" tanya gadis itu penasaran.

"Kemana-mana harus berdua. Pak Daryl juga tadi bilang mau jemput Mbak Rachelkan?" Gadis itu senang diperhatikan oleh Daryl, tetapi dia juga berpikir kalau pria itu sangat rese.

"Menurut kamu, perasaan Daryl ke aku kayak bagaimana?" tanya Rachel. Dia pernah dikasih tahu Bima, Yudis itu jago membaca hati orang. Rachel jadi penasaran seperti apa isi hati Daryl padanya. Apakah pria itu mencintainya.

"Kentara banget Mbak. Pak Daryl itu gak akan perhatian kalau gak cinta sama Mbak Rachel. Setahu aku, dulu Pak Daryl pernah pacaran sama model. Tapi gak segitu juga harus antar jemput kayak Mbak Rachel. Pacarnya itu disuruh naik taxi. Dan yang paling bikin saya heran, Mbak Rachel perempuan pertama yang Pak Daryl ijinin datang ke kantor"

"Aku kan memang kerja disana"

"Tapi Pak Daryl nunjukin ke orang-orang kalau kalian lagi pacaran. Dulu si Natalia disuruh nunggu di depan pintu kantor" Yudis tertawa menceritakan kejadian lucu waktu itu. Model terkenal seperti Natalia saja gak diperbolehkan masuk ke kantornya.

"Intinya Mbak Rachel gak perlu ragu sama Pak Daryl. Dia itu cinta sama Mbak Rachel"

"Tapi dia gak pernah bilang cin-"

"Emangnya cinta harus diungkapkan dulu? Cukup dirasakan saja Mbak"

Benar kata Yudis. Rachel bisa merasakan rasa cinta itu. Mungkin ini cara yang terbaik untuk meyakinkan hatinya, kata-kata cinta tak akan berarti jika dia tidak merasakan cinta tersebut. 

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!