2

2.6K 192 8

Malam ini Rachel disidang masih dengan pakaian lengkap seperti di galeri tadi. Daryl sudah menanggalkan dasi serta dua buah kancing paling atas pada kemejanya.

Bibi Noor sudah tertidur dan tidak ada lagi yang bisa diharapan Rachel untuk membantunya. Kini gadis itu hanya bisa pasrah.

"Siapa pria yang datang bersamamu tadi?" Rachel mendengus namun secepat mungkin ia merubah raut wajahnya kembali setelah mendapat tatapan tajam dari Daryl.

"Hm.. bukannya tadi kamu sudah kenalan sama dia?" kata Rachel balik bertanya. Daryl memutar bola matanya dengan malas.

Inilah salah satu alasan kenapa Daryl paling anti bercakap-cakap dengan Rachel, gadis itu terlalu lemot untuk merespon perkataannya.

"I know. Maksud saya si Garil - Baril atau apalah itu namanya, ada hubungan apa dengan kamu?" Rachel terbatuk kemudian terkesiap. Ada jeda yang ditimbulkannya dengan cukup lama. Ia berpikir apakah ia harus jujur atau berbohong.

"Ah dia itu dosen saya di kampus" Rachel memilih untuk tidak berbohong, bukankah berbohong itu dosa? Dan jawaban yang diberikannya memang tidak bohong walaupun menggantung.

Daryl masih menunggu penjelasan Rachel dengan sabar, tetapi tak ada penjelasan lebih panjang lagi. Begitupun Rachel, ia dengan sabar menunggu pria itu lelah untuk bertanya lebih banyak lagi.

Daryl menyenderkan kepalanya ke sofa. Ia meminum segelas air mineral kemudian berkata "Overall saya kurang suka dengannya".

"And you don't even like me that much. Do you?" ucap Rachel tak terkendali. Sepersekian detik ia langsung mengutuk dirinya sendiri karena selalu suka mencari masalah dengan satu-satunya devil di rumah besar ini.

Daryl terkesiap kemudian ia menjambak rambutnya frustasi "Tidurlah".

Rachel bingung dengan tidakan Daryl yang seperti ini, biasanya pria itu akan meneriakinya dengan volume maksimum kemudian menyuruhnya tidur, tetapi sekarang kebiasaan marah-marah itu hilang.

Dengan ragu ia bangkit berdiri dari sofa putih itu. "Kalau begitu saya kembali ke kamar"

Daryl menolehkan kepalanya menatap Rachel, terlihat jelas di wajah pria itu ada keraguan di matanya saat menatap Rachel.

"Apa ada lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanya Rachel sebelum ia benar-benar pergi ke kamarnya di lantai dua.

Daryl menggeleng dan kembali ke sikap dinginnya. Kemudian gadis itu pergi setelah mengucapkan "Selamat malam".

Daryl memaki-maki dirinya tanpa bersuara. Mengapa pula dirinya perlu cari tahu urusan gadis itu. Daryl menatap ujung tangga dan gadis itu sudah menghilang di balik pintu kamarnya di atas. Kembali lagi ia memaki-maki dirinya.

"Stupid" gumamnya, ia berusaha menguatkan hati dan pikirannya yang tak sejalan itu dengan mengingat-ingat kejadian bertahun-tahun silam dimana ia menginjak sepuluh tahun.

Saat itu dia tinggal di Hamburg bersama Ibunya. Musim dingin yang tiada henti membuatnya harus bersedia memakai pakaian tebal setiap kali pergi ke sekolah. "Daryl! don't forget your breakfast!" teriak wanita berwajah pucat yang sedang mengejar anaknya.

"Okay mom!" balas Daryl sembari melambaikan tangannya di balik jendela bus.

Begitu seterusnya yang dilakukannya bersama sang ibu hingga ayahnya yang bekerja di Berlin datang membawa seorang wanita yang lebih muda dari ibunya.

"YOU'RE OUT OF YOUR MIND?! Siapa wanita jalang yang kamu bawa? THE HELL WITH THIS!! Aku akan membawa pergi anakku jauh-jauh darimu!" Daryl kecil bersembunyi di dalam kamar sambil melipat lutut dan menahan tangis, ia mendengar semua caci maki yang saling dilemparkan kedua orang tuanya satu sama lain.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!