15

1.4K 132 3

Pertemuan makan malam tidak sesuai yang diharapkan Rachel. Bukannya hubungan mereka membaik, malah semakin rumit. Rachel sakit hati, usahanya tidak dihargai pria itu. Padahal sangat sulit bagi Rachel mengungkapkan itu semua. Baril bahkan sempat menuduhnya yang tidak-tidak. Baru kali itu Rachel melihat sosok Baril yang berubah jadi tempramen.

Rachel mengunci diri di kamarnya. Dia sedang tidak ingin diganggu. Terutama diganggu oleh Daryl yang sedari tadi terus memanas-manasinya.

"Rachel! Buka pintunya!" kata Daryl dari balik pintu. Tadi Rachel duluan menaiki mobil, sehingga Daryl harus mengejar gadis itu yang menyetir bak pembalap F1.

"Saya mau sendiri! Kamu pergi aja jangan gangguin saya!" Daryl bisa merasakan suara gadis itu yang bergetar. Rachel pasti sedang menangis.

"Saya harus mastiin kondisi kamu. Harusnya tadi saya lumpuhin sekalian wajah dia"

Daryl teringat kejadian beberapa waktu lalu. Saat itu dia marah melihat Rachel dimarahi oleh pria itu.

"Kenapa jadi kamu yang raguin kepercayaan saya? Harusnya saya yang berkata begitu Rachel. Selama ini kamu sudah nyianyian saya" kata Baril.

"Aku gak nyianyiain Mas Baril. Aku cinta sama Mas Baril" potong Rachel. Gadis itu serba salah. Dia tidak kepikiran untuk menyianyiakan pria sebaik Baril.

"Kalau kamu memang cinta sama saya, harusnya kamu bisa lebih terbuka sama saya. Selama ini saya sudah terbuka sama kamu. Saya ceritain semua masalah saya itu karena saya percaya sama kamu. Tetapi kamu tidak bisa berbagi rahasia seperti ini. Artinya kamu masih ragu pada saya" penjelasan Baril membuat Rachel terdiam.

"Tetapi Mas Baril tadi tidak percaya sama apa yang aku bilang" gumam Rachel. Baril dulu percaya padanya, dan sekarang sudah tidak lagi.

"Itu karena.. kamu" perkataan Baril terputus. Dia memang percaya pada gadis itu. Tetapi entah mengapa saat Daryl datang sebagai kakak Rachel, Baril tidak bisa kembali percaya pada gadis itu. Harusnya dia lebih menghargai apa yang dilakukan gadis itu bukannya menuduh yang tidak-tidak. Saat itu Baril menjadi orang yang berbeda, dia beruba menjadi Baril yang tidak bisa mengontrol emosinya.

"Aku sayang sama Mas Baril. Mas Baril orang pertama yang buat aku merasa diinginkan ketika suasana keluarga aku berantakan. Aku pikir selama ini Mas Baril bisa jadi orang yang diandalkan. Tapi sekarang aku sadar. Aku gak bisa mengandalkan Mas Baril, karena Mas Baril sudah tidak percaya lagi padaku" Rachel menghela napas, dia mengatur emosinya kemudian kembali berkata,

"Mas Baril duluan yang minta kita break. Aku sadar Mas Baril gak bisa mengendalikan emosi. Itu sama saja dengan emosi yang labil. Artinya Mas Baril gak bisa mengambil keputusan. Aku butuh sosok orang yang bisa diandalkan, karena selama ini aku sendirian. Aku mulai ragu kalau Mas Baril salah satunya." Baril mulai gelisah. Dia mulai bisa menebak arah pembicaraan gadis itu

"Apa maksud kamu?! Rachel itu semua terjadi karena kamu jalan sama dia tanpa sepengetahuanku. Sekarang anggap saja masalah kita clear. Okay?" kata Baril. Dia menggenggam tangan gadis itu. Baril masih mencintai gadis itu. hanya saja sekarang dia masih emosi. Dia tidak ingin mengakhiri hubungan mereka.

"Mas Baril tahu apa yang ingin aku katakan" kata Rachel lagi. Dia rasa ini keputusan yang tepat untuk dia dan Baril.

"Saya tidak tahu Rachel. Maafkan saya kalau sudah nyinggung kamu. Ini semua pure karena saya emosi. Saya ingin hubungan kita kembali kesemula" Baril masih menahan tangan gadis itu, dia tidak ingin kehilangan Rachel.

"Lagi pula selama ini aku sudah buang-buang waktu kamu. Aku pikir hubungan kita cukup sampai disini saja" akhirnya Rachel berhasil mengatakan hal itu.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!