9

1.5K 138 1

Seperti bukan Daryl yang biasanya. Pria itu bertingkah romantis dan memanjakan Rachel. Gadis itu sampai bergidik ngeri saat Daryl mengatakan ia menyukai bau tubuh Rachel.

"Kenapa kamu ngajak saya kesini?" tanya Rachel. Mereka masih dalam posisi yang sama, Daryl memeluk gadis itu dari belakang.

"Karena gak mungkin saya ngajak Bibi Noor. Nanti dikira saya suka nenek-nenek"

Rachel merasakan Daryl kembali menjadi dirinya yang dulu. Saat-saat dimana pria itu masih memperhatikannya. Saat-saat dia dan Daryl bermain di Hamburg bersama Ibu Daryl, Miranda. Itu saat terbaik ketika dia ditinggalkan oleh Ibu kandungnya. Saat itu Daryl masih bisa tersenyum padanya.

Dia berharap pria itu masih akan terus menyayanginya, karena pada saat itu Rachel sangat menyukai Daryl. Daryl akan menghajar anak-anak yang membuat gadis itu menangis. Daryl yang akan menangkap balonnya yang terbang. Dulu pria itu sangat bisa diandalkan.

"Kalau dipikir-pikir badan kamu kecil banget" Rachel mendengus. Kalau dibandingkan dengan Daryl tentu saja ia akan terlihat kecil.

"Badan kamu yang kebesaran" balas Rachel. Gadis itu dapat mendengar tawa Daryl yang kembali terdengar setelah sekian lama.

Kalau diingat kembali, dulu tawa Daryl terdengar imut. Beda dengan sekarang yang terdengar lebih berat. Mungkin karena mereka sudah lama tidak saling bercanda, sehingga Rachel baru menyadarinya sekarang.

"Hari ini ada masalah di kantor. Saya sakit kepala mikirin hal itu. Well this morning you said that you want him to marry you"

Rachel tidak dapat melihat wajah pria itu, tetapi dari nada suaranya terdengar sedih. Rachel jadi merasa bersalah karena menambah beban pria itu. Walaupun Rachel pikir pria itu tidak berhak melarang dirinya untuk memilih pasangan hidup, tetapi Daryl adalah anak dari Johan yang sudah dianggapnya sebagai ayah. Rachel juga harus menghargai setiap nasehat pria itu, karena beberapa tahun yang lalu Daryl telah menjadi sosok yang selalu melindunginya.

"Lagi pula saya hanya bercanda, gak usah dimasukin ke hati" ucap Rachel pelan. Dia memang tidak bersungguh-sungguh. Saat itu emosi Rachel tidak terkontrol, dia marah dan ingin membuat pria itu tambah marah.

Gadis itu tidak memiliki pikiran untuk segera menikah. Apalagi menikahi Baril. Walau pria itu sosok yang dewasa, tetapi Rachel tidak bisa lebih untuk mencintai pria itu. Entahlah, Rachel beranggapan hubungan mereka belum terbuka. Tentu saja semua itu karena Rachel, gadis itu belum bisa terbuka pada Baril.

Selama ini Rachel berprinsip, dia hanya akan menikahi pria yang dapat diandalkan dan dipercayainya. Dia mencari sosok pria yang bisa menerima setiap kekurangannya, termasuk latar belakangnya. Hingga saat ini, Baril belum bisa memenuhi kriterianya.

"Lain kali jangan mengancam saya seperti itu. You scared me" kata Daryl mengingatkan. Dia syok bagaimana bisa gadis itu membuatnya terkejut setengah mati. Daryl sempat merasa kecewa karena perkataan gadis itu.

Rachel mendapatkan kembali sosok Daryl sebagai seorang kakak. Pria itu mengkhawatirkannya, batin Rachel.

...

Wajah boleh kelihatan bule, tetapi selera makan Rachel sudah berubah semenjak tinggal di Indonesia dan dibesarkan oleh Miranda. Bahkan saat gadis itu masih tinggal di Humberg bersama keluarga Ricardson, Rachel sudah menyukai nasi goreng Indonesia.

"Makan yang banyak, kemungkinan kita gak sempat makan malam" saran Daryl. Saat ini mereka singgah di restoran. Rencananya setelah makan mereka akan langsung kembali ke Jakarta mengingat besok Rachel masih harus ke kampus.

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!