Part 6

88 8 2
                                        

"sudah ku bilang, ini bukan kebetulan tapi ini adalah awal kedekatan kita."


"nama gue Sigit."

Deg!

Sigit? Apa dia Sigit Weggin? Partner gamenya di mobile legends? Bagaimana mungkin? Apa ini sebuah kebetulan, ataukah...?

"Benedith Sigit Weggin, player Mobile Legends, Weggin." katanya memperjelas lagi.

"Sigit Weggin? Player ML, Weggin?" Sagit mengucapkan lagi kata-kata itu. Rasanya ia tidak percaya bisa ketemu dengan Sigit seperti ini. Dari dunia Mobile Legends dan bertemu dalam dunia nyata secara kebetulan seperti ini benar-benar diluar dugaannya. Apakah ia...? Ah mana mungkin? Sagit segera menepis jauh-jauh pikiran positif tentang Sigit, partner tetaplah partner.

"ya, gue Sigit. Lo Sagit Player ML yang suka pake Miya dan Odette kan?" kata Sigit yang hanya dibalas anggukan olehnya. Sagit masih tidak percaya kalau dirinya bisa bertemu Sigit, membayangkannya saja ia tidak pernah.

Apa arti dari pertemuan ini???

Kini Sagit dan Sigit hanya saling menatap, seperti terobatinya rasa rindu yang selama ini telah ditahannya.

Bahagia dan gak nyangka. Mungkin Kata itu yang cocok untuk mewakili perasaan keduanya saat ini. Terlalu rumit untuk dijelaskan.

Namun dibalik itu, ada seseorang yang tak suka melihat keduanya. Dan dia adalah, Sean Hawort.Cowo itu menatap tajam Sagit dan Sigit dengan tatapan tak suka. Siapa sih ketua Osis ini? Kenapa Sagit menatapnya seperti itu? Batinnya.

Tak mau ambil pusing, Sean kemudian menarik Sagit dan memintanya untuk segera pergi dari sekolah itu. Sagit melihat kebelakang ketika Sean menariknya dengan sedikit kasar dan mempercepat langkahnya. Sedangkan Sigit, hanya menatap kepergian Sagit. Satu pertanyaan yang ada dibenak Sigit, apakah ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Sagit?

Sagit meronta meminta dilepaskan. Namun Sean terus memegang tangannya erat seperti tak rela jika tangannya lepas dari genggaman, yang akan membuatnya justru semakin sulit untuk mendapatkannya.

Setelah sampai diparkiran, akhirnya Sean melepasnya. Sagit mengusap-usap tangannya yang agak memerah karena ditarik paksa oleh Sean. Sikapnya ini justru membuat Sagit semakin kesal padanya. Atas hak apa ia tiba-tiba menariknya?

"maksud lo apaan sih?" tanya Sagit.

"buruan naik." bukannya menjawab, Sean malah menyuruhnya untuk segera naik ke motornya. Tapi Sagit sama sekali tak peduli dengannya, ia menghiraukan ucapan Sean dan kembali melihat ke arah gedung sekolah Sma, melihat sosok yang tak pernah ia bayangkan sama sekali.

Player ML, Sigit.

Dari kejauhan Sagit melihat Sigit yang memandang ke arahnya, sama seperti dirinya. Sigit tersenyum, samar-samar tapi masih terlihat oleh Sagit. Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.

Sigit : jangan liatin gue mulu, lo gak pulang?

Ia tersenyum membaca pesan singkat tersebut, Sean semakin panas dan sekali lagi ia menyuruhnya naik dan segera pulang.

"git, buruan!" perintahnya dan menarik tangan Sagit agar segera menaiki motornya. Namun sebelum itu, Sagit membalasnya terlebih dahulu.

Sagit : iya git, gue Pulang.

Sigit : hati-hati. Tar malem mabar lagi ya.

Sagit : oke.

Sean dan Sagit meninggalkan Sekolah Sma Garuda. Butuh waktu 30 menit untuk sampai dirumah Sagit. Sean menghentikan motornya tepat didepan gerbang rumah Sagit.

"thanks udah nganterin." Sagit membuka suara setelah keheningan diperjalanan tadi. Karena keduanya gak ada yang mau membuka suara.

"hem" responnya.

"Sean, lo--" belum sempat Sagit bicara, Sean sudah pergi meninggalkannya dengan motor miliknya. Sagit menarik nafas, sean pasti kesal dengannya.

.
.
.

Sigit : wis... Mulai jago ya pake Odette.

Sagit : iya dong. Wkwk

Sigit : ah nyesel gue muji lo :v

Sagit : ihs, jahat lo!

Sigit : baperan lo.

Sagit : au ah, gelaaap.

Sigit : cie marah, duh... Jadi pengen cubit :v

Sagit : oh

Sigit : yaelah git, baperan lo mah. Masa gitu aja marah.

Read

Sigit's calling...

"halo git."

"iya."

"lo masih marah?"

"kagak."

"beneran?"

"hem."

"kok hem doang?"

"gak papa"

"oh... Main lagi gak?"

"kagak, gue mau belajar."

"rajin ya lo."

"iya."

"semangat belajar ya beb." Sagit mengulum senyum dengan panggilan itu. Jadi gini rasanya dipanggil beb lewat telepon? Degdegan coy. Kalau manggilnya langsung gimana ya? Mungkin Sagit akan Pingsan?

"iya"

Tutt...

Arrgh....

Sagit mengacak rambutnya frustasi. Ia bener-bener gak nyangka kalau dipanggil beb lewat telpon oleh Sigit efek pada jantung nya akan seperti ini. Ia terus menarik nafas untuk menetralkan detak jantungnya, tapi percuma, ia terlalu bahagia. Kini ia merasakan panas di mukanya, pasti mukanya udah merah seperti kepiting rebus. Untung sekarang Sigit tidak melihatnya, Kalau saja dia melihatnya, pasti ia akan sangat malu. Eh, tunggu...

Sagit berharap Sigit memanggilnya 'beb' secara langsung?

"nggak, nggak, mau taro dimana muka gue nanti?" ia segera menepis semua ekspetasi nya. Memang tidak baik jika berharap terlalu tinggi, jatuhnya nanti sakit. "eh tunggu. Kenapa gue jadi berharap?" ia bertanya pada dirinya sendiri.
















Tbc






Sagit & SigitWhere stories live. Discover now