TIGA PULU DELAPAN | END

110 48 90
                                    


TANDAI TYPO ⚠️⚠️
Flw @xyyzhre

Udah siap baca ending??

Go!!!

Selepas dari markas geng tangan tuhan. Kini Rachel mendorong brankar Damian dengan sedikit berlari karena kondisi Damian yang semakin lemah. Dress yang di gunakan Rachel yang awalnya cantik berwarna putih, kini berubah menjadi banyak darah di bagian bawah. Ya, itu darah Damian. Rachel sempat memangku kepala Damian ketika hendak pergi ke rumah sakit.

"Dami.. kamu harus kuat. Kamu janji bakalan temenin aku. Jangan tinggalin aku.." lirih Rachel menahan Isak tangis.

Brankar Damian sudah masuk kedalam ruangan UGD. Sementara Rachel duduk di kursi besi yang sudah tersedia bersama Gland sementara yang lain masih mengurus penangkapan geng tangan tuhan.

Gland merangkul bahu Rachel seraya memberi kekuatan pada gadis itu. "Damian nggak akan kenapa-kenapa. Kamu terus berdoa saja kepada tuhan" tidak menjawab, gadis itu semakin kencang menangis di bidang dada Gland.

Selang beberapa menit, datang seorang dokter perempuan yang menangani Damian. Gland dan Rachel ikut berdiri menghampiri sang dokter. "Keluarga pasien?" Gland segera mengangkat tangan memberi tahu kepada dokter itu bahwa dirinya orang tua Damian.

"Luka tembakan yang ada di lengan Damian tidak menyebabkan efek yang parah. Tapi pasien mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Membuat kondisinya semakin lemah." Setelah mendengar penjelasan dokter tersebut, dada Rachel seperti di hantam batu berukuran besar. Sakit, rasanya sakit mendengar kabar ini. Ia tidak mau apa yang sudah di mimpikan itu terjadi, Rachel tidak mau itu terjadi.

"Kanker otak stadium akhir?" Gland mengulang ucapan sang dokter.

"Pasien harus segera di operasi. Karena kondisinya semakin lemah." Dengan cepat Gland mengangguk setuju.

"Lakukan operasi secepat mungkin. Pastikan kondisi anak saya selamat" dokter perempuan itu mengangguk memberi senyuman kepada Gland.

"Kami dari tim rumah sakit akan berusaha semaksimal mungkin. Selebihnya kita serahkan kepada yang maha kuasa" setelah mengatakan itu dokter tersebut kembali memasuki ruangan untuk melakukan operasi.

Gland memijat oangkak hidung nya yang terasa pusing. Lalu melihat jam yang melingkar, terpampang jelas menunjukkan pukul sembilan malam. Laki-laki itu segera pergi meninggalkan Rachel yang terus menangis. Gland berjalan mencari sebuah mushola untuk melakukan sholat isya dan memanjatkan doa untuk keselamatan putranya.

"Ada atau nggak adanya aku, kamu harus bahagia, Ra."

Rachel semakin kencang menangis kala mengingat kalimat yang di ucapkan Damian. Kepalanya menggeleng tidak setuju dengan ucapan Damian. "Kamu sumber bahagia aku, Dami."

Selang beberapa menit datang beberapa orang yaitu Zakri, Arkan, Lula, om Andra dan juga Tasya orang tua Rachel beserta Luna adik kandung Rachel. Melihat itu Rachel segera memeluk tubuh Tasya menangis sejadi-jadinya di bahu sang mama. "Ma.. Damian, kanker otak stadium akhir" Tasya membulatkan matanya kaget. Begitupula dengan yang lain ikut kaget mendengar kalimat Rachel.

"Om Gland dimana?" Tanya Arkan panik.

Rachel menggeleng sebagai jawaban. Kemudian Tasya mengusap lembut rambut anak sulungnya untuk memberi kekuatan kepada Rachel. "Mama yakin, Damian pasti bisa melewati semua ini".

Zakri memukul dinding menggunakan tangan kanan sehingga menimbulkan sedikit cairan merah. "Pantes aja tuh anak suka ngeluh pusing, jadi dia sakit!." Kesal Zakri ketika dirinya bertanya kepada Damian selalu saja di jawab 'gue fine, cuma kecapean'.

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang