TIGA BELAS

107 92 80
                                    

TANDAI TYPO❗

Kelas pagi sudah selesai, waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Tapi gadis berambut sebahu ini berjalan menuju ruang club musik. Di ambang pintu Rachel menghela nafas gusar. Sebenarnya Rachel tidak ingin bertemu dengan manusia bernama DAMIAN.

"Tumben telat," ucap Qila satu angkatan dengan Rachel namun berbeda jurusan.

"Abis ke kantin" Tanpa di sadari sedari tadi Rachel sudah di perhatikan oleh Damian dari jarak jauh.

"Yaudah ayo kita belajar akord C" Rachel mengangguk dan ikut duduk di samping Qila yang sudah siap memainkan gitar.

"Damian!" Laki-laki itu sontak terkejut ketika Arkan memanggil nya berkali-kali. Btw Arkan juga ikut di club musik ya hehe.

"Gue denger dari kepsek katanya bulan depan mau Adain pensi"

Damian mengangguk. Tatapannya masih tertuju pada gadis yang masih fokus dengan gitar.

"Diem Mulu kaya gagu! Jawab kek!" Suara Arkan menggema di dalam ruangan itu. Membuat Rachel menoleh sebentar ke arah Damian.

"Lo kena-" belum selesai bicara kalimat Arkan terpotong oleh ketua club musik yang sudah berada di depan anggota.

"Maaf ganggu waktunya sebentar. Bulan depan kampus ini akan mengadakan pensi tahunan. Jadi setiap club harus mewakili clubnya masing-masing. Menurut kalian siapa yang cocok mewakili pensi tahun ini?"

Qila berdiri. "Rachel kak, suaranya bagus banget!"

Rachel mencubit lengan Qila. Dirinya telah di buat malu oleh Qila. Yang benar saja, Rachel kan masih junior masa iya harus mewakili pensi, kalau senior yang lain gak terima gimana?

"Wah bagus dong, berarti kita cari gitarisnya. Kira-kira siapa ya.." ucap sang ketua club sambil menatap ke arah anggota nya.

"DAMIAN KAK!" teriak Arkan membuat yang lain menatap ke arah sumber suara.

Damian berdecak sebal. Apa-apaan ini. Masa iya harus berkolaborasi dengan Rachel? Hubungan pertemanan mereka aja sedang tidak baik-baik saja.

"Gak kak, saya gak bisa" final Damian membuat Arkan kecewa.

"Bohong kak, Damian jago banget main gitarnya. Waktu kemarin lusa Damian pernah main gitar sama Rachel. Mereka bagus kok" sambar Fadli, ya memang Fadli sempat mengintip ke dalam ruangan.

"Gimana Damian? Kamu setuju kan? Ini demi club kita bagus Dimata siswa. Saya mohon Damian" pinta kakak ketua itu dan akhirnya mau tidak mau Damian mengangguk setuju.

Sedari tadi Rachel sudah mengepalkan kedua tangannya di balik celana jeans. Rasanya muak mendengar nama Damian. Tolong bawa Rachel jauh-jauh dari Damian. Damian itu jahat!!!!!!.

°°°°

Damian berlari hingga menggapai lengan Rachel. Gadis itu menoleh dan menepisnya.

"Apa-apaan sih?" Sewot Rachel membuat Damian menunduk kaku.

Laki-laki itu menghela nafas, memejamkan matanya sebentar lalu kembali terbuka. "Apa dengan kata maaf ga cukup, Ra?"

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang