DUA PULUH ENAM

77 58 63
                                    


TANDAI TYPO⚠️⚠️
Flw @xyyzhre

"Gimana udah dapet vidionya?"

Kini ketiganya sudah berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari asrama. Damian sudah memberitahu kepada Arkan untuk datang di sebuah cafe bernama Cafe Berlian.

"Gue udah dapet. Dan ini asli tanpa editan" ucap Zakri. Masih ingetkan sama Zakri? Ya, cowok yang di suruh Damian untuk mencari rekaman cctv kejadian di halte.

"Ini beneran tanpa editan?" Reaksi Arkan melihat vidio tersebut di layar laptop Zakri. Cowok itu mengangguk sebagai jawaban.

Damian menyedot sebuah minuman yang tadi sempat di pesan lalu di taruh kembali di atas meja. "Kan gue udah bilang, ini gak semuanya salah gue. Jelas-jelas muka gue bonyok karena di kroyok".

Arkan menepuk bahu Damian. "Iya gue percaya" lalu menoleh ke arah Zakri. "Lo tau siapa pelakunya?".

Sudut bibir Zakri menampilkan senyuman licik. "Ck, masa iya gak tau siapa pelakunya" katanya.

Alis Arkan terangkat satu. "Levan?".

"Hmm, gue juga udah curiga ini rencana busuk dia".

Kedua tangan Arkan mengepal lalu berdiri dan di tahan oleh Zakri. "Lo mau ngapain?".

"Gue mau kasih pelajaran sama tuh anak"

Lalu Zakri menyuruh Arkan untuk duduk terlebih dahulu. "Kita pake cara halus. Ikuti semua rencana yang Lo buat".

"Gimana kalo Lo ikut bantu gue di penyamaran ini?" Sambar Damian memberi tawaran kepada Zakri.

Cowok itu menggeleng. "Gue udah susun rencana selanjutnya, Lo berdua lakuin apa yang di bilang Arkan. Sisanya gue yang urus".

°°°°

Malam ini Rachel dan Lula sedang berada di sebuah pasar malam yang tidak jauh dari asrama. Mereka sengaja mencari tempat keramaian untuk menghabiskan waktu berdua.

"Ahel.. kita naik kora-kora yuk" ajak Lula.

Rachel menggeleng sebagai jawaban. "Kenapa?."

"Aku suka pusing kalo abis naik itu" balasnya, Lalu kedua netra coklatnya tidak sengaja menatap sebuah es crim.

"La, gimana kita makan es krim?" Dengan cepat gadis itu mengangguk. "Tapi kita ke situ dulu" gadis itu menunjuk ke arah penjual permen kapas. Akhirnya Rachel berjalan mendekati penjual permen kapas.

"Gak takut sakit gigi la?" Tanya Rachel kepada Lula yang memegang permen kapas dan es krim.

"Nggak lah, gigi aku kan kuat".

Menghela nafas. Harusnya Lula ini kembali ke TK bukan menjadi mahasiswa. Sikapnya benar-benar seperti anak kecil. Walaupun begitu Rachel tetap sayang pada Lula.

"Gue ke toilet sebentar ya, la" belum di jawab gadis itu sudah berlari mencari keberadaan toilet. Setelah menemukan toilet, Rachel buru-buru memasuki bilik toilet.

Setelah keluar dari kamar mandi, tidak sengaja kedua matanya melihat Levan yang tidak jauh dari Rachel.

"KAK LEVAN!" sudah berkali-kali Rachel berteriak memanggil nama Levan, tetapi nihil cowok itu tidak menoleh sama sekali. Alhasil Rachel mengikuti Levan kemana perginya tanpa sepengetahuan Levan.

Langkah kaki cowok itu menuju sebuah bangunan kosong. Di sana sudah ada beberapa anak murid seusianya.

"Kak Levan ngapain kesini?" Gumamnya. Gadis itu mengumpat di balik gerobak yang sudah tak terpakai.

Setelah sampai, Levan bertos ria kepada beberapa anak tersebut. Lalu, tangannya merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah amplop coklat berisi uang.

"Kerja bagus, sesuai janji gue bakal kasih Lo semua lebih" amplop tersebut di terima oleh salah satu murid tersebut.

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang